After Death

After Death
Bab 91: Ilmu Teleportasi



Selama tinggal di Gyan Bhandar mempelajari buku Anak Purnama Ketujuh, Pram telah menguasai banyak jurus pertahanan, seperti jurus perisai angin, jurus tidur terbangun, jurus penyamaran raga, dan lain sebagainya. Kali ini Pram akan belajar soal ilmu teleportasi. Teleportasi adalah kemampuan memindahkan suatu materi dari satu titik ke titik lain tanpa perlu melewati jarak antar keduanya. Ilmu tersebut sangat berguna untuk upaya penyelamatan diri dari situasi berbahaya, untuk mempercepat individu sampai pada lokasi tujuan sehingga mereduksi kemungkinan adanya serangan dalam perjalanan, dan lain sebagainya.


Pram sangat antusias dengan jurus kali ini, karena ia sudah bosan berada di perpustakaan itu dan ingin pindah ke tempat yang lebih segar dan dekat dengan alam. Sejak Kharon terluka, ia tak pernah tega membiarkan khodamnya itu menempuh perjalanan jauh sambil terus menggendongnya.


Sebetulnya ini bukan kali pertama baginya untuk belajar teleportasi. Dahulu Kharon, yang juga mampu berteleportasi, pernah mengajarinya untuk berpindah atau beralih dari satu titik ke titik lain, dari satu tempat ke tempat lain, tanpa harus menempuh jarak yang memisahkan. Namun selalu gagal, hingga ia dongkol dan putus asa.


Di dalam buku Anak Purnama Ketujuh dijelaskan bahwa sebenarnya teleportasi dapat dilakukan siapapun dan kapanpun asalkan cara dan tujuannya benar. Dalam buku tersebut juga dikatakan bahwa jika ilmu teleportasi seseorang telah mapan, ia akan mampu membawa serta orang lain untuk turut berpindah, bahkan juga bisa membuat orang lain berpindah tanpa ikut berteleportasi.


“Kau harus belajar lagi Ron, agar kau bisa membawa orang lain untuk ikut berteleportasi. Selama ini kan kau hanya mampu berteleportasi sendiri saja.”


“Baiklah, aku akan turut belajar.”


“Bagus. Tapi Ron, apa menurutmu kali ini aku akan berhasil? Aku menjadi ragu karena selalu gagal saat belajar denganmu dulu.”


“Tentu berhasil. Mengapa kau harus gagal? Kau selalu berhasil pada jurus-jurus sebelumnya.”


Pram tersenyum lebar mendengar suntikan motivasi dari Kharon. Khodamnya itu telah meningkatkan rasa percaya dalam dirinya, dan menghapus semua rasa takut akan kegagalan serta menghilangkan segala keraguan dalam mencapai keberhasilan.


“Katakan padaku, kau akan berteleportasi ke mana?” tanya Kharon sebelum memulai latihannya.


“Menurutmu kita harus ke mana?” kata Pram menjawab pertanyaan Kharon dengan pertanyaan pula.


“Kau ini. Tidak pernah bisa menjawab dengan tuntas.”


Pram hanya meringis lebar.


“Memangnya kau ingin pindah ke tempat yang seperti apa?”


“Aku ingin fokus berlatih dan mempelajari buku ini hingga selesai. Aku membutuhkan tempat yang lebih segar dan dekat dengan alam, tapi tenang dari gangguan dan keramaian.”


“Kalau begitu kita pergi saja ke Hutan Krisan.”


“Jangan, aku ingin suasana baru, tempat baru.” Pram meringis lagi untuk mengalihkan kejengkelan Kharon menghadapi kerewelannya.


“Kalau begitu, cepat katakan ke mana kita akan pergi.”


“Tuvalu, Kepulauan Tuvalu.” kata Pram penuh keyakinan.


“Sebentar, apa kau ingat mantra yang harus diucapkan jika kau tersesat?”


“Iya, aku ingat.”


“Bagus, nanti jika teleportasimu gagal dan kau nyangkut di antah berantah, cepat-cepat kau ucapkan mantra itu agar bisa langsung kembali ke tempat ini.”


“Iya, aku sudah tahu itu.” kata Pram menahan sedikit dongkol di hati.


“Sebentar, begini saja, aku tunggu kau di sini saja. Kau lekaslah berteleportasi ke Tuvalu. Jika tersesat langsung baca mantra untuk kembali. Jika kau berhasil, lekaslah berteleportasi ke Gyan Bhandar lagi.” Kharon mengucapkan kata-katanya dengan intonasi seperti sedang memerintah.


“Kenapa aku harus berputar-putar begitu?” nada Pram mulai meninggi.


“Katamu tadi aku akan berhasil.” kali ini Pram lirih berucap.


“Maafkan aku, tapi aku tak bisa menjamin anak buah Bemius tidak akan mengendus keberadaan kita saat kita tiba di tempat baru. Aku hanya terlalu khawatir kalau mereka melukaimu sebelum kau kembali, atau sebelum aku menemukanmu.”


Pram memeluk Kharon erat. Dalam batinnya, Pram juga tak ingin terpisah dari Kharon. Apalagi jika membayangkan mata-mata Bemius yang kejam sedang mengawasi.


“Baiklah. Kau benar, Ron. Tunggulah di sini. Jika aku tersesat, aku akan segera kembali ke sini. Dan jika aku berhasil, aku akan segera berteleportasi ke sini lagi untuk menjemputmu.” Pram menampilkan pelangi terbalik di wajahnya, membuat Kharon turut tersenyum.


Pram bersiap. Ia menarik nafas panjang dan menghembuskannya secara perlahan. Kemudian ia memejamkan kedua mata dan menelangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada. Seketika itu juga tubuh Pram menghilang.


Kharon yang sendiri membawa buku Anak Purnama Ketujuh menunggu dengan hati cemas. Ia sangat takut jika Pram tersesat dan lupa pada mantra yang harus ia baca, sedangkan ia sendiri tak tahu ke mana tubuh Pram akan tersesat.


Sepuluh menit telah terlewat dan Pram belum juga menampakkan batang hidungnya. Kharon mulai mondar-mandir ke sana ke mari menanti kedatangan Pram. Siluman harimau putih itu mencoba untuk tetap tenang dan sabar menunggu. Ia memaksa dirinya sendiri untuk duduk agar cemas sedikit luluh. Tapi tak bisa, gusar justru semakin terasa saat ia mencoba untuk tetap tenang.


“Ron!” teriak Pram sambil menepuk pundak Kharon. Ia memasang wajah yang sangat berseri-seri.


Kharon menghela nafas untuk mengatur detak jantungnya yang terlalu cepat. Lalu menelan ludahnya dengan harapan akan mengerem kata-kata kasar dari mulutnya.


“Pram, apa kau ingin membunuhku? Mengapa kau suka sekali membuatku khawatir? Mengapa kau sangat senang mengagetkanku? Apa kau tidak tahu, bagaimana aku bertahan di sini menunggumu? Apa kau pikir aku bisa duduk tenang jika aku terus saja membayangkan dirimu tertangkap oleh antek-antek Bemius? Oh Pram, berhentilah melakukan hal receh begini.” dan semua ocehan itu pada akhirnya tidak mampu ia bendung juga.


Kharon menutup semua celotehnya dengan sebuah pelukan. Ia membiarkan tubuhnya bersandar lemas pada Prameswari, membuat Pram sedikit oleng dan hampir jatuh.


“Rasanya sudah lama tidak mendengarmu mengucap kata ‘receh’. Aku tak menyangka, aku merindukan kata yang dulu sangat aku benci itu.


Kharon menegakkan dirinya dan menatap Pram dengan tajam. Ia juga merasa perlu untuk mencengkeram kedua pundak Pram.


“Jadi, kemana saja kau pergi?”


Pram menelangkupkan kedua telapak tangannya dan memasang wajah melas seperti sedang merasa sangat menyesal.


“Maafkan aku, Ron. Aku benar-benar tak sengaja membuatmu khawatir. Apa boleh buat, keindahan Kepulauan Tuvalu benar-benar telah menghipnotisku. Aku bahkan sempat lupa, siapa sebenarnya namaku...”


“Stop!” tiba-tiba Kharon meletakkan tangannya di atas kepala Pram dengan sedikit tekanan dan berusaha keras menahan senyum yang hendak muncuat.


“Bicaralah dengan benar. Jangan mulai ngawur lagi.” kata Kharon kemudian.


Pram tersenyum dan mengambil tangan Kharon dari kepalanya. Ia memegang erat tangan itu, dan membenturkan kepalanya ke dada Kharon.


“Aku sungguh tak sengaja melakukannya. Aku khilaf karena pemandangan di sana sangat menakjubkan. Aku lupa waktu, lupa kamu, haha.”


Kharon memeluk Pram dengan perasaan lega. Lega karena Pram kembali dengan selamat, dan juga lega karena tuan puterinya itu telah mampu berteleportasi.


“Selamat ya, Pram. Kau memang hebat.”


Pram menegakkan tubuhnya dan melompat kegirangan.


“Jadi tunggu apa lagi, ayo kita mulai petualangan ini! My life my adventure.”