After Death

After Death
Bab 77: Jaisalmer the Golden City



Deretan rumah dengan bebatuan pasir membentang di jantung Gurun Thar menyapa kedatangan Pram dan Kharon. Mereka merapatkan mata, hampir terpejam, karena dari kejauhan sinar matahari yang terpantul di permukaan dinding bangunan seperti kilauan batangan emas, begitu menyilaukan mata.


Ya, kini Pram dan Kharon telah sampai di Kota Emas, Jaisalmer. Sebuah kota di negara bagian Rajasthan, India, yang letaknya 575 kilometer atau sekitar 357 mil dari barat ibu kota negara bagian Jaipur.


Sekilas melihat kota ini Pram menemukan banyak peninggalan bersejarah yang masih terawat dengan baik. Ada begitu banyak bangunan indah dengan relief menakjubkan di kota yang dahulu dimanfaatkan sebagai jalur lintas perdagangan dari kawasan Barat menuju India.


Satu di antara pemandangan yang menarik perhatian Pram adalah mayoritas wisatawan yang menyisir perjalanan di Jaisalmer menunggang unta sebagai transportasi wisata. Tujuan wisata mereka sangat beragam. Ada yang bertolak ke kuil, Benteng Jaisalmer yang megah, rumah-rumah di bawah benteng, desa-desa, perpustakaan, museum, dan lain sebagainya.


Kota yang didirikan pada tahun 1156 Masehi itu disebut sebagai Golden City karena batu pasir kuning yang digunakan di seluruh arsitektur benteng dan kota di bawahnya, memantulkan cahaya kuning keemasan.


Jaisalmer merupakan daerah gurun yang gersang, sehingga sangat rentan terhadap suhu yang ekstrem. Suhu sangat bervariasi dari siang ke malam, baik di musim panas ataupun musim dingin. Seperti saat ini, Pram mengibas-ngibaskan tangannya di depan muka, berharap sedikit sejuk akan datang. Suhu udara mencapai 49oC atau sekitar 120 oF. Sangat cukup untuk membuat badannya kuyup karena keringat.


"Bisakah kau berikan padaku air murni dari Dewi Thalassa lagi?" ini sudah yang keempat kalinya Kharon meminta minum.


"Maafkan aku, Ron. Kali ini telanlah ludahmu sendiri. Kau sudah menghabiskan tetesan terakhir tadi." Pram sedikit ngos-ngosan menahan dahaga.


Mereka pun memutuskan untuk singgah sebentar di Benteng Jaisalmer. Benteng itu memiliki dinding batu yang besar dengan warna kuning kecoklatan di siang hari, dan berubah secara magis menjadi emas madu saat matahari terbenam. Seperempat populasi kota masih tinggal di dalam Benteng Jaisalmer.


Benteng Jaisalmer dibangun pada tahun 1156 oleh penguasa Bhati Rajput Jaisal. Benteng ini terletak di Bukit Meru dan dinamai Trikoot Garh. Benteng yang sangat kokoh ini telah menjadi saksi banyaknya pertempuran.


Kharon mengubah wujudnya menjadi seorang manusia. Pram mengajaknya berjalan-jalan dengan harapan akan membuatnya lupa pada rasa haus yang hampir mencekik itu. Syukur-syukur kalau dalam perjalanan nanti dapat menemukan air minum.


Total ada tujuh kuil Jain yang terletak di dalam Benteng Jaisalmer yang dibangun selama abad ke-12 dan ke-15 itu. Di antara kuil-kuil tersebut, yang terbesar adalah Kuil Paraswanath ; yang lainnya adalah kuil Chandraprabhu, Kuil Lodhruva, kuil Rishabdev, Kuil Shitalnath, Kuil Kunthunath, dan Kuil Shantinath.


Kuil-kuil tersebut terkenal karena karya seni dan arsitekturnya yang sangat menonjol di era abad pertengahan, dibangun dari batu pasir kuning dan memiliki ukiran yang rumit.


Ketika Pram sedang terkagum-kagum dengan relief di hadapannya, tiba-tiba Kharon menariknya, lantas menenggelamkan diri pada gang antarrumah penduduk. Seperti biasa, Pram yang terkejut hendak mengeluarkan semua makiannya. Namun dengan cepat tangan Kharon mendarat di mulutnya bahkan sebelum mulut itu terbuka. Pram berusaha keras melepaskan tangan Kharon yang membungkamnya. Tapi tangan itu tak bergeser secenti pun, justru semakin keras menyegel mulutnya.


"Apa kau sudah gila? Aku bisa mati karena kehabisan oksigen."


Kharon tak menggubris perkataan Pram yang barusan terbebas dari bekapannya. Ia justru tampak sibuk celingukan sambil sesekali mendongak ke atas.


"Ron!" teriak Pram kesal. Ia bahkan merasa perlu untuk menghentakkan kaki guna menunjukkan kedongkolannya.


"Apa?" Kharon sedikit mengangkat dagunya. Kali ini ia menatap mata Prameswari yang penuh amarah.


"Kenapa kau membungkamku? Apa kau ingin aku mati?" Pram mengulangi pertanyaannya dengan dongkol yang bertambah kadarnya.


"Kau tidak bernafas dengan mulut. Lagipula apa kau lupa, kau ini sudah mati." Kharon jelas-jelas memberikan intonasi yang berbeda saat berucap kata mati.


Pram terdiam sejenak karena malu. Tapi kemudian memulai omelannya lagi.


"Tapi aku masih bisa merasakan sakit, Ron. Apa kau,"


"Sudahlah, hentikan omelanmu! Aku sudah kenyang mendengarnya seharian. Bisakah kita mencari minum saja?"


Kharon tak menunggu jawaban Pram. Ia berlalu membiarkan Pram terpaku bersama kejengkelannya.


Kharon tahu tuan puterinya itu akan segera menyusulnya. Ia memang sengaja tak memberi tahu Pram soal mata-mata Bemius yang barusan ia lihat agar perempuan itu tetap nyaman di perjalanan, seolah sedang pergi melancong. Ia juga tahu bahwa kesal tak akan lama bersemayam di tubuh Pram.


"Apa yang kau lakukan di sini?"


"Tidakkah kau lihat, aku sedang mengantre?"


Kharon berdiri di depan kedai yang menjual aneka minuman dengan antrean pembeli yang luar biasa panjang. Tapi manusia biasa tidak akan mampu melihat penuh sesaknya kedai tersebut oleh berbagai penghuni Shaman.


"Mereka akan melayani para pembeli dengan cepat. Tak butuh waktu lama bagiku untuk mendapatkan minumanku."


Pram kini benar-benar sadar bahwa Kharon yang sesungguhnya telah kembali, sangat to the point, blak-blakan cenderung kasar, dan sedikit cuek.


Jadi, ia menepis semua kejengkelannya, dan berdiri di samping khodamnya itu. Pram tahu, menunjukkan jengkel pada seorang seperti Kharon hanya akan membuat kejengkelannya memuncak tanpa balas, sangat melelahkan.


Benar saja, tak butuh waktu lama untuk Kharon sampai di antrean terdepan. Dan kini Pram menoleh ke belakang. Ia seperti kepala dari seekor ular yang tak terlihat ekornya.


"Untuk apa kau menggeleng?" pertanyaan Kharon membuyarkan celoteh dalam hati Pram.


"Tidak, aku hanya,"


"Minuman apa yang kau inginkan?"


"Apa saja yang dijual di sini? Apa aku bisa minum es kacang hijau campur ketan hitam dengan santan yang agak banyak?"


"Apa kau tak mendengar yang dikatakan bapak penjual itu? Pembeli sepertimulah yang membuat antrean tak kunjung berkurang."


"Aku,"


"Dengarkan dan sebutkan apa yang kau ingin minum; Lassi, Massala cai, Thandai, Sharbat, Shol kad, Haldidoodh, Kaju shake, Falooda, Chaas, Jigarthanda, Badam milk, Aam panna, Nimbu pani, Jal jeera, Ice Gola, atau Kulfi?"


Pelayan kedai yang melihat Kharon menyebutkan semua minuman yang ia sebutkan langsung tersenyum kagum. Untuk sebuah kedai di pinggir jalan, beragamnya minuman yang disediakan sungguh lengkap.


"Aku minum apa yang kau minum saja."


"Kau bisa mengatakannya dari tadi, tanpa perlu mendengarkan semua jenis minuman yang dijual di sini." mata Kharon yang tiba-tiba tampak malas terbuka membuat Pram merasa kedongkolannya telah impas.


"Maafkan kami membuatmu menunggu. Berikan dua gelas Ice Gola."


Pram meneguk minuman yang terbuat dari es serut warna-warni dengan sebuah stik yang terbuat dari kayu manis dengan cepat. Kharon yang duduk di sampingnya menyodorkan gelas plastik miliknya.


"Habiskan. Aku sudah tak haus lagi."


Pram tak berkata apapun. Ia dengan cepat mengambil gelas plastik yang disodorkan Kharon dan bergegas meneguknya hingga habis. Satu hal yang sangat disukai Pram dari Kharon adalah khodamnya itu tak pernah pelit membagi makanan atau minumannya.


"Ayo bersiap melanjutkan perjalanan." Kharon berdiri dan membuat selubung perlindungan untuk mencegah mata-mata Bemius mengendus keberadaan mereka.


"Kenapa kau suka membuat gelembung bola seperti ini? Kita kan tidak dalam kondisi berbahaya. Selubung perlindungan ini selalu membuat nafasku sesak seperti tercekik."


"Pram, berhentilah menggunakan majas hiperbola dalam setiap ucapanmu. Melebih-lebihkan sesuatu dari fakta yang ada bisa membuatmu terjebak dalam kebohongan."


Pram terus mengikuti Kharon seraya menutup mulutnya sendiri agar tak mengeluarkan kata-kata yang tak perlu.