
Perpustakaan Gyan Bandar tampak lengang kembali. Penjaga perpustakaan mengitari seluruh rak guna memastikan buku masih terjaga dan tertata dengan baik sesuai tempatnya. Beberapa kali ia tampak membenahi posisi buku yang terbalik sehingga bagian samping yang memuat informasi judul buku tak terlihat. Ia juga mengambili beberapa buku yang dibiarkan tergeletak di meja baca oleh pengunjung.
Setelah semua kembali rapi dan tertata seperti sebelum perpustakaan dibuka, sang penjaga pun mengunci Gyan Bhandar dan pergi meninggalkan perpustakaan itu.
Pram masih terlihat panik karena Kharon belum juga berubah wujud menjadi manusia. Ia juga tampak was-was khawatir jika anak buah Bemius kembali ke tempat itu lagi. Tapi Pram mencoba menenangkan diri dan mengendalikan semua kegelisahannya.
Saat Pram hampir mencapai titik ketenangan, ia merasakan kedatangan makhluk asral, yang ternyata adalah anak buah Bemius. Ia pun lekas menghirup banyak udara dan menahan nafasnya. Ia meletakkan tangannya di wajah sehingga hidung dan mulutnya tak terlihat.
Anak buah Bemius menyisir seluruh perpustakaan dengan teliti. Mereka tampak sangat kesal karena tak menemukan Pram dan Kharon.
"Kemana perginya keco*k itu? Harusnya mereka tak jauh dari Benteng Jeisalmer mengingat luka si harimau putih sial*n itu sangat parah." kata siluman harimau II dengan dongkol yang mencuat jelas di wajahnya.
"Mereka mungkin sedang bersembunyi di suatu tempat. Sangat mungkin mereka ada di sini." kata seorang jin hitam yang tampak celingukan.
"Tapi kita sudah mencari mereka di sini dan tak ada. Mungkin mereka sembunyi di tempat lain."
Pram memejamkan matanya kuat-kuat. Ia hampir kehabisan nafas tapi para penjahat itu tak kunjung menghentikan percakapan dan pergi.
"Aku rasa ada seorang berilmu tinggi yang memiliki panah perak itu menyelamatkan mereka dan mungkin membawa mereka pergi dari sini. Jika kita saja belum sempat melihat sosoknya, berarti ia memiliki kecepatan yang luar biasa, jadi kita tak melihatnya menggondol kedua keco*k itu." ucap siluman harimau I penuh praduga.
Mereka pun kemudian pergi meninggalkan Gyan Bhandar dan Prameswari yang wajahnya membiru menahan nafas. Pram bahkan hingga terbatuk beberapa kali dan dadanya juga masih terasa sesak. Ia lantas merebahkan tubuhnya di samping Kharon dan mengambil nafas panjang kemudian melepaskannya secara perlahan. Ia mengatur nafasnya selama beberapa menit hingga merasakan detak jantungnya telah normal kembali.
Pram menoleh ke arah Kharon yang masih belum sadarkan diri. Ia lantas memeluk siluman harimau putih itu.
"Cepatlah bangun Ron. Saat kau bangun nanti, kau boleh mengatakan semuanya dengan sangat kasar. Aku lebih suka kau berkata kasar daripada tak berkata sama sekali seperti saat ini."
Lagi-lagi Pram mengeluarkan air matanya. Tapi ia mencoba menahan isakannya agar tidak mengganggu Kharon. Dan ia sangat terkejut sekaligus bahagia ketika harimau putih yang masih dipeluknya itu telah berganti wujud menjadi manusia tampan. Ia lekas menghapus semua air matanya dan memasang senyum sumringah. Ia juga memeluk khodamnya itu lebih erat. Meski Kharon masih belum sadarkan diri, Pram sudah sangat senang karena itu artinya tubuh Kharon telah membaik.
***
Pria penolong yang misterius itu akhirnya datang membawa sebuah buntelan putih. Ia nampak terburu-buru berjalan menghampiri Pram dan Kharon.
"Syukurlah dia sudah membaik."
Pram bangkit dari rebahannya dan tersenyum pada lelaki itu.
"Apa kau baik-baik saja." lelaki itu melihat wajah Pram yang sedikit pucat.
Pram mengangguk sambil terus tersenyum.
"Apa tadi anak buah Bemius datang kembali dan tak pergi-pergi?"
Pram mengangguk saja tanpa berkata apapun. Sesungguhnya Pram masih merasa asing dengan lelaki yang tiba-tiba datang menyelamatkannya dan Kharon seperti seorang hero.
"Kunyahlah daun ini. Ini akan memperbaiki sistem respirasimu yang sedikit terganggu karena menahan nafas terlalu lama."
Lelaki itu membuka buntelan putih yang ternyata berisi sebuah botol bening kecil. Di dalam botol itu tersimpan sejenis dedaunan yang telah ditumbuk halus.
"Ramuan ini akan membantu memulihkan tenaganya."
Lelaki itu menegakkan tubuh Kharon serta meminumkan ramuan tersebut. Lantas membaringkan Kharon kembali.
"Apa yang membuat kalian datang ke mari?"
"Kami mencari buku Anak Purnama Ketujuh. Menurut informasi dari teman kami, buku itu ada di Gyan Bhandar."
"Apa kalian sudah mendapatkannya?"
"Kami mencarinya semalaman, tapi belum ketemu juga. Aku tak tahu lagi apa yang terjadi karena aku tertidur. Sebelum mata-mata Bemius mengejar kami, Kharon ingin mengatakan kabar buruk soal buku itu. Tapi dia belum sempat mengatakannya."
"Dia pasti ingin mengatakan bahwa buku itu tak ada."
Pram terkejut. Ia semakin penasaran dengan lelaki yang berilmu tinggi yang ada di hadapannya itu.
"Kenalkan, aku Philemon. Akulah yang membuat kalian tak dapat melihat buku itu, juga manusia dan jin-jin lainnya."
Pram menjabat tangan lelaki itu. Dan hanya diam menyimak perkataan Philemon.
"Buku itu memang ada di Gyan Bhandar. Tapi aku meletakkannya di dalam pusaka Kyai Anteh sehingga kau dan manusia atau penduduk Shaman lainnya tak dapat melihatnya."
Philemon seperti sedang mengambil sesuatu dari rak buku yang pernah ia jelajahi. Lelaki itu lantas seperti meletakkan sesuatu di depan Pram. Tapi Pram tak melihat apapun. Beberapa saat kemudian tiba-tiba muncul sebuah buku besar berwarna coklat di tangan Philemon.
Dalam sampul buku usang itu tertulis jelas tulisan "Anak Purnama Ketujuh".
"Aku telah lama menunggu kedatangan kalian. Sebelumnya telah banyak jin ataupun manusia yang datang kemari untuk menemukan buku ini. Jadi aku memutuskan untuk menyamarkan keberadaannya. Buku ini aku jaga untuk kuberikan kepadamu, Pram."
Pram tersentak kaget dan sedikit melotot karena Philemon menyebut namanya. Bagaimana mungkin lelaki itu mengetahui namanya. Mereka bahkan belum pernah bertemu. Dan Pram sangat ingat belum memperkenalkan namanya. Pikir Pram, apa ia benar-benar sangat populer di antara penduduk Shaman.
Pram menerima buku itu dan mengelus sampulnya. Meski tampak sangat usang, buku "Anak Purnama Ketujuh" itu sangat terawat.
"Jangan kau buka dulu segelnya. Bukalah saat Kharon telah sadar. Dia akan sangat membantumu nanti. Ini kunci segel bukunya. Simpanlah baik-baik. Aku tidak bisa terus bersama kalian. Jika kau membutuhkan bantuan, pejamkan mata dan panggil namaku dalam hati. Kau harus konsentrasi saat melakukannya. Niscaya aku akan datang."
Pram mengangguk dan tersenyum penuh hormat. Ia merasa sangat bersyukur, di tengah kesulitannya, ada seorang yang sangat baik datang untuk membantu.