After Death

After Death
Bab 162: Hukuman Mati



Sebenarnya yang membuat Pram terkejut atas pernyataan dari Ketua Peradilan adalah bukankah dirinya sudah mati, lalu bagaimana caranya orang yang telah mati akan dihukum mati? Pram tersenyum konyol.


Ketua peradilan yang melihat Pram justru tersenyum atas apa yang ia katakan menjadi naik pitam. Ia merasa diremehkan.


“Mengapa kau tersenyum? Apa kau kira yang aku katakan tadi tidak akan terjadi?” bentak Ketua Peradilan yang merupakan seorang wanita berwajah garang.


“Tidak, tidak. Maafkan aku ketua. Aku tersenyum bukan bermaksud untuk menyinggung ketua ataupun hukum yang berlaku di Cato. Aku hanya merasa lucu, sebab sebagai seorang yang telah mati, bagaimana bisa dihukum mati?” jawab Pram jujur.


“Ha.. ha.. ha.. Apa kau tidak pernah mendengar istilah ‘kadar kesialan’ selama menjadi penduduk Cato?” ucap ketua peradilan sambil terbahak.


“Iya, pernah. Aku memiliki kadar kesialan yang cukup besar.” jawab Pram tanpa takut sedikit pun.


“Jika kau menerima hukuman mati, itu artinya kadar kesialanmu mencapai 100%. Maksudnya, kau akan menjalani hidup dengan kesialan di sepanjang harimu. Kau akan selalu dihadapkan dengan kematian yang tragis, lantas kembali muncul di Loket Registrasi Pasca kematian. Kau akan kembali hidup dan segera menemui kejadian yang membuatmu mati secara tragis lagi, begitu seterusnya. Sehingga kau hanya akan menghabiskan hidupmu di Anastasia Cato dengan rasa sakit.” jelas Ketua Peradilan dengan wajah penuh kemenangan.


Pram menelan ludah. Ia sama sekali tak mengira bahwa yang disebut hukuman mati itu adalah yang demikian mengerikan. Ia lantas melihat ke arah Kharon, Philemon, dan Raja Ramadhana dengan mendongakkan kepalanya satu kali, isyarat bertanya.


“Akan aku pastikan kau menerima hukuman itu. Sudah kasus ditutup. Dan Saudara Prameswari, mulai hari ini kau ditetapkan bersalah. Dan hukuman yang harus kau terima adalah Hukuman Mati!” kata Ketua Peradilan puas yang kemudian mengetuk palu tiga kali.


Pram dan juga yang lainnya melongo. Pram merasa apa yang baru saja ia alami itu bukanlah pengadilan, melainkan penghakiman. Ia merasa sangat dihakimi atas kelakuan ketua peradilan yang mengambil keputusan secara sepihak, tanpa ada proses peradilan. Ia bahkan belum menyampaikan pembelaan apapun.


Pram dibawa ke penjara singgah lagi untuk menunggu giliran pelabelan “Pesakitan”. Jadi, setiap orang yang melakukan pelanggaran berat di Anastasia akan menerima semacam stempel abadi di dahi yang bertuliskan “Pesakitan”. Dan stempel itu tidak akan pernah bisa hilang meski dicuci dengan pemutih pakaian sekali pun.


Setelah stempel itu tersegel di dahi, penerima hukuman berat harus dikurung dalam penjara dahulu selama satu tahun. Baru kemudian dibebaskan dan menerima hukuman kehidupan yang sesungguhnya.


Pada kasus yang sudah lebih dahulu terjadi, biasanya para narapidana lebih memilih untuk tinggal di dalam penjara daripada harus menjalani kehidupan yang menyedihkan, menyengsarakan, dan mengenaskan. Banyak di antara mereka yang memohon untuk dimasukkan kembali ke dalam penjara.


Itulah sebabnya setiap penduduk Cato ataupun Anastasia lainnya cenderung manut dan taat pada peraturan yang berlaku, sebab sangat mengikat dan tidak ada negoisasi, alias berlaku secara mutlak.


Hal yang lebih mengherankan adalah Pram sama sekali tak diberi kesempatan untuk bertemu dengan ketiga lelaki yang menungguinya. Pram langsung dibawa masuk ke dalam ruangan tanpa berkata ba bi bu. Dan ketika Kharon, Philemon, serta Raja Ramadhana berlari mengejar Pram yang dijaga dua sipir laki laki, mereka tak diizinkan masuk.


“Pengadilan macam apa itu? Tanpa ada pembelaan, pembuktian, dan sebagainya langsung ketok palu seenaknya saja.” kata Kharon kesal.


“Apa paduka dan tuan tadi mendengar, Pram menerima hukuman yang sangat berat tanpa ada pertimbangan yang matang dari pemimpin sidang. Oh, atau tadi itu sebenarnya bukan sidang, melainkan pembacaan hukuman? Gila. Aku rasa mereka sudah gila.” gerutu Kharon lagi. Padahal Kharon tidak pernah berkata sekasar itu di jadapan Raja Ramadhana dan Philemon sebelumnya.


“Tenang, tenang. Tenangkan dirimu Ron. Aku tahu situasinya sekarang menjadi sangat rumit. Tapi marah atau kesal pun tidak ada guna. Lebih baik sekarang kita pikirkan solusi untuk menyelesaikan masalah ini.” kata Philemon mencoba menenangkan Kharon. Ia juga mengelus pundak Kharon yang tampak sangat gelisah.


“Apa yang harus kita lakukan untuk menyelamatkan Pram?” tanya Kharon dengan nada yang lebih tenang. Ia tidak mampu berpikir dengan jernih sebab kedongkolannya kepada ketua peradilan yang terlalu besar. Ia bahkan sempat berpikir untuk menculik dan menyandera perempuan yang memimpin sidang tadi.


“Tenang, tenang. Kau harus lebih tenang lagi agar bisa menemukan solusi yang pas. Aku yakin pasti ada solusinya.” ucap Philemon mengingatkan agar Kharon bisa mengendalikan emosinya supaya dapat menyelesaikan masalah, sebab biasanya Kharonlah yang mengusulkan solusi solusi cemerlang dalam masalah yang selama ini terjadi.


“Menurut ayah bagaimana?” tanya Philemon kepada Raja Ramadhana yang sedari tadi hanya diam tampak sedang berpikir keras.


“Heeem, ini memang masalah yang serius.” kata sang raja singkat.


“Dan yang membuat masalah ini semakin terasa berat adalah, kita bukan penduduk Anastasia, kita berasal dari Shaman, dimensi yang berbeda dengan tempat ini. Dan kita juga tidak mengenal siapa pun untuk dimintai pertolongan.” kata Kharon mengungkapkan beban pikirannya.


“Ya, kau benar Ron. Sayangnya kita bukan penduduk sini. Seandainya temanmu, siapa itu, Dante?”


Kharon mengangguk atas pertanyaan yang diucapkan Philemon.


“Ya, seandainya Dante masih ada, mungkin kita bisa meminta bantuannya.” wajah Philemon kini menjadi masam.


Pikiran Kharon lantas kembali pada masa lalunya, mengingat Dante. Philemon benar, seandainya Dante masih hidup mungkin situasinya akan lebih baik.


“Begini saja. Aku akan mencoba menemui kepala distrik Cato untuk mengadukan permasalahan yang dialami Pram. Aku akan menjelaskan padanya tentang tugas dan peran Pram sebagai Anak Purnama Ketujuh. Semoga kepala distrik akan mengerti keadaan kita, lantas membantu kita untuk membebaskan Pram dari segala hukuman.” kata Raja Ramadhana ragu ragu.


Kharon dan Philemon saling menatap dan tersenyum. Apa yang dikatakan Raja Ramadhana sepertinya terdengar bagus dan akan berakhir baik.


“Masalahnya, kita belum tahu bagaimana caranya bisa bertemu dengan kepala distrik.” ucap sang raja kemudian.


“Tidak masalah paduka raja. Hamba akan pergi dan mencari informasi terkait hal itu.” ucap Kharon penuh semangat.


Kharon pun langsung berdiri dan hendak pergi meninggalkan Philemon beserta Raja Ramadhana.


“Ron, tunggu. Biarkan aku ikut membantu.” kata Philemon menawarkan diri.


“Tidak, tidak. Tuan Philemon terus saja berada di samping Raja Ramadhana. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi di sini. Tapi kita harus mengantisipasi kalau kalau mendapat serangan dari musuh.”


Philemon pun akhirnya membiarkan Kharon pergi sendiri. Memang benar apa kata Kharon, ia harus terus berada di sisi ayahnya untuk memastikan keselamatan ayahnya.