
Pram menghela nafas panjang. Memandangi ombak yang berkejaran di hadapannya. Ia mencoba mengurangi kekesalannya dengan kembali menelonjorkan kedua kakinya. Dan membiarkan kedua tangannya menyangga badannya yang terasa sangat berat.
"Kau tahu Ron, seandainya Dante memang berlaku buruk padaku, aku tidak bisa membencinya. Aku tak bisa lupa kalau dia hanya anak-anak. Jiwanya hanya balita umurbsatu tahun. Lagipula, sebahaya apapun Dante saat ini, dia belum pernah melukaiku sekalipun. Jika pada pembunuhku saja aku masih sayang, apalagi pada orang yang baru berniat buruk padaku. Aku selalu merasa berutang budi pada Dante."
Kharon terdiam sambil terus memandang wajah Pram yang selalu menyejukkannya. Ia merasa bersalah karena telah berprasangka buruk pada gadis itu.
"Aku sudah lama tak rindu pada Dante. Aku tak tahu pasti sejak kapan lelaki itu sudah tidak menjadi impianku lagi. Semua berjalan sangat cepat sampai aku tak sadar tentang apa yang sedang terjadi."
"Apa kau merasa sedih, Pram?" suara Kharon lirih. Ia tak pernah melihat Pram bermuka sedatar itu. Gadis itu selalu tertawa ketika bahagia, cemberut saat ia sedang kesal, dan selalu menangis saat sedang sedih. Kharon tidak pernah kesulitan membaca suasana hati Pram melalui mimik wajahnya. Tapi kali ini, entah ekspresi apa yang ditunjukkan Pram. Suaranya pun sangat lembut dan lirih.
"Aku juga tidak tahu harus sedih atau bahagia."
"Apa ada yang bisa aku lakukan?" Kharon benar-benar bingung harus berbuat apa. Selama bersama Pram, ia belum pernah menghadapi situasi seperti itu sebelumnya, sunyi dan tak nyaman. Ia bahkan sedikit takut untuk berbicara.
"Kau bisa menjawab pertanyaanku tadi, mengapa kau selalu khawatir pada keselamatanku?"
Kharon merasa sedikit merdeka karena kali ini Pram mengajukan pertanyaan itu lagi tanpa menatap wajahnya. Pram masih khusyuk melihat debur ombak.
Kharon menarik nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan yang sangat sulit baginya itu. Ia memerlukan tambahan keberanian dan sokongan energi lebih untuk menjawabnya.
"Aku memiliki tanggung jawab untuk menjagamu sebagai seorang khodam."
"Apa hanya karena itu?"
Suasana hening kembali. Pram masih melihat ke arah lautan, begitu juga dengan Kharon. Setelah beberapa kali terdengar mengambil nafas, Kharon mulai angkat bicara.
"Tidak. Kau tentu sudah tahu bahkan sejak pertama kali kita bertemu dulu, aku sudah tertarik padamu. Dan rasa itu membesar tanpa bisa aku kendalikan. Sebetulnya itu jelas bisa mengancam keprofesionalanku sebagai seorang khodam. Itu sebabnya aku berusaha keras untuk melupakan cinta itu. Dan lebih fokus pada keselamatanmu. Terlebih saat aku sadar semua hanya bertepuk sebelah tangan."
Kharon tak berani memandang Pram. Ia menenggelamkan tatapannya pada pasir yang ia pegang.
Pram yang telah lama menanti Kharon mengatakan isi hatinya, kini menatap khodamnya dan memegang tangan siluman harimau putih itu. Membuat Kharon terkejut dan refleks melempar tatapan ke arah Pram.
"Kau memang sangat bodoh. Aku selalu menunggumu bercerita tentang isi hatimu itu sejak entah. Kau tahu, aku lebih mengkhawatirkan perasaanmu ketimbang keselamatanku. Mengapa kau tak pernah menceritakan apapun soalperasaanmu? Mengapa kau selalu mengabaikannya? Apa rasa cintamu padaku terlampau besar hingga kau tak sempat memikirkan rasa cinta itu sendiri? Mengapa kau begitu bodoh, Ron? Mengapa kau selalu menuduhku mencintai Dante? Aku selalu sakit saat kau menuduhku begitu. Juga sangat sakit mendengar kau mengatakan pada Raja Ramadhana dan Khilemon bahwa dia adalah kekasihku. Aku selalu sakit karena kau bersikap seperti satu-satunya orang yang mencintai dan tidak pernah melihat bahwa aku juga mencintaimu. Aku mengharapkanmu selalu bersamaku, bukan sebagai khodam, melainkan sebagai seorang kekasih. Sejak dulu. Sejak lama. Sejak entah. Apa kau tahu itu? Kau tak tahu kan. Kau memang tak tahu apa-apa."
Pram melepaskan genggamannya. Ia sedikit kesal dan kecewa mengingay semuanya. Pram tidak mampu lagi melanjutkan ocehannya. Ia kehabisan nafas dan kini dadanya sesak. Tenggorokannya juga seperti tercekik menahan tangis. Padahal air matanya sudah meluber kemana-mana. Ingusnya juga terus melaju keluar tanpa terkendali, hingga gadis itu kuwalahan membersihkannya.
Kharon membantu Pram menghapus air mata tanpa mengucap satu katapun. Hatinya sangat bergejolak. Bahkan hingga membuat tangannya sedikit bergetar. Dan kebahagiaan yang datang mendadak dengan porsi yang sangat besar membuat Kharon kehilangan kosa katanya.
"Apa kau lapar?" kata Pram sambil terisak, menyadari tangan yang mengelap pipinya bergetar.
"Sudah, sudah. Kau bisa membangunkan semua orang." kata Kharon mengelus kepala Pram tanpa melepas pelukannya.
"Apa kau benar-benar tak tahu kalau aku sebenarnya cinta padamu?" Pram mengangkat kepalanya yang tersender di dada Kharon sambil mengusap ingusnya.
Kharon tersenyum dan menggeleng pelan.
"Kau ini memang bodoh." ia kembali memeluk Kharon dengan dada yang telah lapang, tak lagi sesak. Pram seolah kehilangan beban berat yang selama ini memenuhi hati dan pikirannya.
"Tapi aku hanya siluman harimau putih Pram, bukan manusia." kata Kharon lirih tak percaya diri.
"Aku bahkan hanya seorang arwah. Kau mencintai seorang hantu, Ron."
Ucapan itu membuat Pram dan Kharon kini tertawa kecil, merasa konyol pada diri sendiri.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Halo kakak-kakak readers, mohon izin untuk promosi novel author di sini ya… Skip aja kalau kurang berkenan hehe,
Well selain di akun Banin SN, author juga punya akun lain yaitu Hashirama Senju. Nah berikut novel-novel author yang barangkali kakak-kakak berminat juga untuk membacanya:
1. Pendekar Pedang Naga, novel ini ada di akun Hashirama Senju. Novel genre pendekar/wuxia yang pertama saya tulis.
2. After Death, novel yang sedang kalian baca ini hehe.
3. Kumpulan Cerpen Menang Lomba, tulisan ini ada di akun Hashirama Senju. Bukan jenis novel tetapi kumpulan cerpen. Di sana saya memposting kumpulan cerpen saya yang pernah memenangkan lomba baik skala lokal maupun Nasional, ada juga beberapa cerpen yang pernah dimuat di media. Silakan baca-baca untuk sekadar menambah referensi kakak-kakak sekalian.
4. Menikah karena Taruhan, novel ini ada di akun Banin SN. Ini adalah novel bergenre Adult Romance yang pertama saya buat, meskipun bergenre Adult Romance, saya berencana memberikan konflik-konflik rumit atau informasi-informasi yang bermanfaat yang saya rangkum di dalam sana.
5. Pacar Kecilku, novel ini ada di akun Banin SN. Sementara novel ini Hiatus dulu karena butuh banyak bacaan untuk melanjutkannya. Seperti sebagaimana yang saya tulis di Bulrb, novel ini mengangkat tema tentang Mental illness dan beberapa pengetahuan tentang ilmu psikologi lainnya, jadi saya butuh banyak bacaan lagi untuk melanjutkannya (dan sekarang belum ada waktu hehe)
Well, itu dia tulisan-tulisan saya yang ada di platform Noveltoon/Mangatoon. Mohon maaf sekali karena promosi panjang lebar di sini^^