After Death

After Death
Bab 169: Misi Penyelamatan IV



Bemius memilih untuk tinggal di dalam kerajaan di kamarnya dulu. Ia menyempatkan diri untuk pergi ke penjara yang ia bangun untuk mendapatkan hiburan atas kesedihan yang ia alami akibat bencana yang menimpa para rakyatnya di Shaman. Ya, bagi Bemius melihat penderitaan rakyat asli Shaman adalah suatu hiburan menarik dan menyenangkan, karena ia bisa melihat penderitaan Raja Ramadhana di baliknya.


Bemius meminta para prajurit, pengawal serta panglima untuk tetap terjaga pada waktu istirahat. Tentu saja hal itu sempat membuat Raja Ramadhana bingung untuk kembali mengatur strategi penyerangan, sebab sebelumnya direncanakan untuk melakukan penyerangan lagi saat situasi para jin dan siluman hitam terlelap. Meskipun demikian, sang raja tidak akan mengundur waktu penyerangan sebab bisa saja walau hanya satu jam diundur, ada banyak rakyatnya yang meninggal lagi di dalam penjara.


“Karena dia masih berada di dalam penjara, kau dan Kharon turut melakukan penyerangan di dalam istana saja. O iya, kalau bisa hindari keributan atau pertarungan. Kita jaga agar suasana tetap sunyi tidak gaduh.” kata Raja Ramadhana menjelaskan cara penyerangan.


“O iya, ini.” ucap Kharon sambil mengeluarkan buntelan kecil hadiah dari Dewi Thalassa.


“Kita tidak boleh lupa meminum ini dulu. Dengan pil dari Dewi Thalassa ini kita memiliki tiga kesempatan untuk hidup kembali dari kematian. Jadi kita bukan berempat lagi, namun berdua belas.” lanjut Kharon sambil tersenyum lebar.


Setelah semua orang meminum pil kehidupan tersebut, mereka berpelukkan sejenak untuk saling menyemangati karena bisa jadi penyerangan yang dilakukan kali ini akan jauh lebih berat.


Raja Ramadhana  dan Philemon mengendap menuju bagian kanan kerajaan, sedangkan Pram dan Kharon mendapat bagian kiri kerajaan. Sebelumnya Kharon telah menerima satu bibit racun pencabut nyawa dari Raja Ramadhana untuk ditanam di area kiri. Sementara satu biji terakhir ditanam sang raja di area kanan. Mereka sepakat untuk menanam bibit tersebut di area para pengungsi dari luar kerajaan beristirahat.


Kharon berjalan menempel di dinding diikuti Pram. Tampak lebih dari sepuluh orang prajurit yang sedang berjaga di depan ruang pertemuan.


“Pram, keluarkan Panah Naga Emas.” ucap Kharon lirih berbisik.


Pram mengangguk dan mengambil sebuah anak panah. Ia menyasarkan ke seorang prajurit yang berdiri tepat di samping kanan pintu. Lalu melepaskan anak panah dari busurnya.


“Jlep... jlep... jlep... ! ! !”


Satu anak panah Pram lantas beranak dan menyasar sendiri para prajurit lainnya yang berjaga. Tak mau ambil resiko, Pram kembali meluncurkan sebuah anak panah lagi. Dan semua prajurit yang berjaga ambruk tak bernyawa.


Suara gedebugan dari jatuhnya para prajurit membuat seorang keluar dari dalam ruangan. Dari penampilannya jelas bahwa ia seorang panglima. Panglima tersebut bergerak cepat menutup pintu yang memang hanya ia buka selebar tubuhnya, sebab tak ingin membuat para jin dan siluman hitam yang mengungsi mengetahui apa yang terjadi sehingga menjadi panik. Ia sebenarnya ingin berteriak memberi aba aba beberapa prajurit yang berada di dalam untuk berjaga di luar, tapi ia tahan agar tidak mengganggu waktu istirahat para warga.


Pram dan Kharon masih menempel di dinding. Sesekali Kharon menengok ke arah panglima yang terlihat mengawasi sekitar.


“Siapa di sana?” ucap panglima ketika melihat sekelibat bayangan Kharon.


Panglima tersebut membuka kembali pintu ruang pertemuan, namun kali ini lebih sempit dari sebelumnya. Ia hanya memasukkan kepalanya sekejap untuk memanggil seorang prajurit. Prajurit tersebut pun keluar dan mendekati panglima dengan wajah sangat terkejut melihat rekan rekannya tergeletak dengan anak panah yang menancap di perut masing masing.


“Katakan pada Panglima V, ada penyusup. Minta Panglima V untuk meningkatkan penjagaan di dalam, sementara aku akan berjaga di luar. Minta pula beberapa prajurit untuk membantuku berjaga di sini.” perintah Panglima IV berbisik.


Prajurit langsung melaksanakan perintah Panglima IV. Dan kini sang panglima yang berjaga di luar tengah berjalan mendekati tempat persembunyian Pram dan Kharon. Kharon mencoba menggunakan ilmu ilusi untuk menghalau sang panglima. Namun gagal karena ilmu Panglima IV yang tinggi.


"Grrrrrr.... ! ! !"


Kharon mengubah wujudnya menjadi harimau putih saat jarak Panglima IV hanya tinggal setengah meter saja. Ia menerkam leher sang panglima kuat kuat. Panglima IV berusaha keras melepaskan tangan Kharon dari lehernya. Tapi usahanya sia sia dan bahkan kini Kharon yengah bersiap untum mengoyak jantungnya dengan cakar baja. Hal itu semakin merepotkan Panglima IV. Ia berusaha menyerang Kharon lagi.


"Pram, pusakanya!" kata Kharon


Pram dengan tangkas melesatkan anak panahnya. Dan langsung melukai Panglima VI. Sang panglima tewas dengan kondisi yang mengenaskan.


“Apa yang harus kita lakukan, ayah?”


“Lemparkan Tombak Mata Saktimu ke arah panglima.” perintah Raja Ramadhana.


“Baik ayah.”


Philemon langsung menembakkan tombaknya ke arah panglima. Namun, mata tombak yang membelah menjadi tujuh itu tidak ada satu pun yang mengenai panglima. Semua berhasil ditepis dan menancap ke perut para prajurit lantas kembali ke tangan Philemon. Raja Ramadhana dan Philemon mencuat menunjukkan diri dan memasang sikap siaga. Demikian pula panglima dan para prajurit lainnya yang tidak terkena tombak.


“Mengapa kau mengendap-ngendap memasukki istanamu sendiri, Raja Ramadhana?” tanya Panglima VI dengan senyum mengejek.


Tidak ada tanggapan dari Raja Ramadhana.


“Aku akan membuat mereka repot dan kau gelindingkan bibit racun itu ke sela pintu.” kata Raja Ramadhana berbisik.


Philemon mengangguk mengerti. Kini kedua kubu tersebut tengah beradu jurus. Philemon dengan mudah melumpuhkan para prajurit, sementara Raja Ramadhana masih sibuk bertarung dengan Panglima VI yang kini mengeluarkan sebilah pedang.


Beberapa kali Philemon mencoba mendekat ke arah pintu kamar, namun selalu berhasil karena dihadang oleh sang panglima. Demikian pula yang dilakukan sang raja. Tapi Panglima VI mampu meladeni Raja Ramadhana dan Philemon dengan baik.


Panglima VI berulangkali mengarahkan pedangnya ke leher sang raja. Namun Raja Ramadhana bershasil menghindar dengan menunduk dan memiringkan kepalanya.


“Slice.. !  ! !”


Pedang Panglima VI berhasil mengenai lengan Philemon. Raja Ramadhana yang spontan menoleh melihat luka Philemon, juga menerima hadiah sayatan pedang di pahanya. Kini kedua jin putih Shaman itu sama sama mengeluarkan darah segar. Namun, keduanya seolah tak merasakan sakit. Terus saja bergerak menyerang dan menghindar walau darah dari tubuh mereka terus keluar dan berceceran di lantai.


"Ha ha ha apa itu sakit?" kata Panglima VI kembali mengejek.


Raja Ramadhana kembali menyerang Panglima dan sengaja mengarahkan sang panglima untuk menjauh dari pintu dengan cara memundurkan diri sembari menangkis ayunan pedang. Ia juga sengaja membuat dirinya seolah hendak terkena pedang agar sang panglima lebih semangat untuk mengejar dan menghajarnya.


Philemon sesekali juga turut memberi pukulan namun sebenarnya ia melakukan itu hanya sebagai kedok agar pergerakannya mendekati pintu tak dicurigai Panglima VI.


Dan saat ada kesempatan, Philemon menggelindingkan bibit racun ke dalam kamar ayahnya.


"Darurat... Darurat.. ! ! ! Wabah itu telah sampai sini."


Teriakan keras akibat banyak siluman yang berbadan panas dan sesak napas itu diikuti oleh banyak teriakan lainnya. Panglima VI mulai pecah fokusnya. Ia ingin melihat apa yang sebenarnya terjadi di dalam ruangan, namun Raja Ramadhana dan Philemon tak mengendorkan penyerangannya.


"Mati... Mati... ! ! !"


Teriakan diikuti tangis itu membuat Panglima VI sudah tak tahan lagi. Ia berusaha menghindar dan masuk ke dalam ruangan lalu cepat cepat mengunci pintu. Raja Ramadhana dan Philemon tersenyum membiarkan Panglima VI menjemput ajalnya sendiri.