After Death

After Death
Bab 94: Tamu dari Shaman



Kharon hampir tak percaya dengan penglihatannya. Tepat di depannya kini telah duduk orang di masa lalunya dulu, yang menolongnya di waktu ia bingung untuk melanjutkan hidupnya.


Ya, Kharon tak pernah menyangka bisa bertemu dengan Raja Ramadhana dan Philemon setelah sekian lama berpisah. Tak ada yang berbeda dari sang raja yang sangat ia hormati itu. Ia masih sama, tampan, gagah, ramah, sabar, santun, dan penyayang. Wajahnya sama sekali tak bertambah tua. Hanya Kharon merasa sang raja sedang tidak sehat, wajahnya sedikit pucat.


Sedangkan tuan muda Philemon, dulu saat Kharon bersama dengannya Philemon masih kanak-kanak. Dan kini ia telah dewasa dan tumbuh persis dengan ayahnya. Jika tak tahu, orang yang melihat keduanya akan menganggap mereka sebagai saudara, bukan sebagai ayah dan anak.


“Apa kabarmu, Kharon?” tanya Raja Ramadhana beberapa saat setelah membicarakan keindahan Kepulauan Tuvalu.


“Hamba, baik paduka. Paduka dan tuan sendiri bagaimana? Apa semua baik-baik saja?”


Raja Ramadhana hanya tersenyum getir. Ia mengingat semua hal-hal sulit dan menyesakkan yang telah menimpanya dan kerajaan selama ini.


“Begini Kharon, maksud kedatanganku ke sini adalah ingin meminta bantuanmu dan juga Pram untuk menjaga ayah. Hal buruk telah terjadi di Shaman hingga ayah terluka parah. Kini ayah masih dalam masa pemulihan. Aku akan pergi melihat keadaan Shaman sekarang. Apakah semua semakin buruk karena kami meninggalkan kerajaan, atau seperti apa. Aku akan memastikannya karena ayah tidak bisa berhenti memikirkannya. Aku tidak yakin akan segera kembali, mungkin aku akan membutuhkan waktu yang sedikit lebih lama, mengingat banyaknya pasukan yang dulu melakukan penyerangan di Kerajaan Shaman.”


“Apa ini ulah Bemius?”


“Begitulah.”


“Aku minta maaf jika akan merepotkan kalian.” ucap Raja Ramadhana setelah beberapa lama hanya mendengarkan percakapan.


“O, tidak paduka. Adalah kehormatan bagi hamba dan juga Pram bisa menemani paduka. Ini sungguh suatu kesempatan langka.”


“Lalu di mana, Pram?” tanya Philemon karena sedari tadi celingukan tak menemukan apapun.


“Dia sedang menyelam.Keadaan sulit yang sempat menimpa kami membuatnya sedikit lelah. Dia butuh penyegaran. Dan dia memintaku untuk tetap duduk manis di sini menunggu paduka dan tuan datang.”


“Maafkan aku jika tidak bisa menunggu, ini aku bawakan ramuan untukmu Kharon. Ramuan ini akan membuatmu merasa lebih baik. Aku sangat senang melihatmu tampak lebih sehat sekarang.” Philemon mengeluarkan buntelan putih dan menyodorkannya ke arah Kharon. Kharon pun lekas menerimanya dengan senyum haru.


“Terima kasih tuan atas semua kebaikan tuan.”


 


“Dan ini makanan kesukaan Pram, aku membawakannya untukmu dan juga Pram. Aku harap kalian akan menikmatinya.” kali ini Philemon menyodorkan buntelan putih yang ukurannya dua kali lebih besar.


Philemon segera berlalu meninggalkan Raja Ramadhana bersama Kharon. Ia bergegas menuju kerajaan Shaman untuk memastikan khawatiran ayahnya tidak terjadi.


Sementara itu, Pram telah menuntaskan penjelajahannya di bawah air laut. Ia menyembul keluar dengan wajah sumringah penuh kepuasan. Dan sesaat kemudian raut mukanya berubah karena mendapati khodamnya tidak sendiri. Ia lantas berlari kencang menghampiri Kharon.


“Ron, siapa dia?” Pram nampak takut, ia masih terbayang-bayang oleh peristiwa pengeroyokan Kharon oleh para pengikut Bemius. Pram bahkan bertanya sambil mencengkeram lengan Kharon.


“Hussh. Jaga bicaramu!” kata Kharon sedikit berbisik hampir tak terdengar.


“Maafkan teman saya, Paduka. Dia memang kurang mengerti sopan santun. Maklumlah, dia bukan berasal dari masa kerajaan, anak kekinian. Ekspresif dan sedikit menyebalkan.”


Pram memukul lengan yang dicengkeramnya kuat-kuat. Sedangkan Raja Ramadhana tersenyum-senyum saja melihat tingkah dua anak muda di depannya.


“Jadi ini Pram, Prameswari?”


“Iya, benar! Anda siapa? Untuk apa Anda ke mari? Kami tak takut, sekarang aku sudah sakti. Ayo lawan aku saja dan jangan sentuh khodamku.”


Pram berkata dengan seluruh suara yang dimilikinya, sangat lantang, bahkan setengah berteriak. Ia juga menarik Kharon sehingga jauh dari Raja Ramadhana dan merasa perlu untuk berkacak pinggang. Pram mengira semua kata-kata Kharon yang menjelek-jelekkannya dan begitu sopan kepada lelaki di hadapannya itu adalah lantaran khodamnya itu takut dengan mata-mata Bemius yang ada di hadapannya.


“Pram! Kau ini kenapa? Setelah menyelam bukannya jadi jernih, pikiranmu malah jadi kacau begini. Jaga sikapmu di depan Raja Ramadhana.” nada Kharon terdengar lucu karena marah dengan cara berbisik.


“Apa? Raja?” Pram menutup mulutnya dengan mata melotot.


Kharon tak mengatakan apapun. Dia hanya memukul jidatnya karena malu, lantas meringis kepada sang raja.


“Oh, maafkan aku. Aku kira Anda adalah anak buah Bemius. Aku benar-benar minta maaf. Aku sama sekali tak mengira kalau Anda adalah orang yang dimaksud tuan Philemon. Pikirku, Anda tidak mungkin datang sendiri. Aku kira tuan Philemon akan mengantar Anda ke mari.” Pram terlihat sangat menyesal atas sikapnya yang sudah tidak sopan.


“Kau benar-benar cerewet dan sembarangan.” Kharon masih kesal atas perilaku tuan puterinya.


“Kalian berdua duduklah. Menenangkan diri di tempat seperti ini memang sangat diperlukan. Kalau Tri Laksmini masih ada, dia pasti akan ikut menyelam bersamamu.”


Pram sangat suka dengan Raja Ramadhana. Ia merasa sang raja sangat penyayang, lembut, dan sabar. Tidak pemarah seperti Kharon.


“Siapa itu Tri Laksmini?”


“Ratu, Ratu Tri Laksmini. Kau ini benar-benar tidak bisa menjaga ucapanmu.”


“Aku bertanya pada paduka raja yang sabar, bukan pada Kharon yang pemarah. Berhentilah menyela pembicaraan orang. Benar-benar tidak sopan.” kali ini Pram tidak bisa bersabar karena merasa selalu dimarahi khodamnya.


“Kalian sangat akrab, ya.”


“Kami?” Pram dan Kharon kompak menjawab. Membuat Raja Ramadhana mengangguk sambil tersenyum.


“Dia selalu memarahiku setiap saat setiap waktu. Baginya aku ini selalu salah dan tidak ada benarnya.”


“Benarkah?”


“Iya, tidak hanya itu, semua kata-kata yang keluar dari mulutnya adalah hinaan, celaan, dan umpatan saja. Aku juga yang harus menerimanya.”


Kharon segera menutup mulut Pram. Ia tahu bahwa tuan puterinya sudah mulai berlebihan dalam berbicara. Dan jika dibiarkan akan semakin menjadi-jadi.


“Hahaha....” Raja Ramadhana tertawa membuat Pram dan Kharon diam dan tersenyum.


“Aku kira, Anda adalah seorang yang tua, berambut putih, berjenggot putih, berkumis putih, keriput, dan lain-lain yang menjadi tanda-tanda penuaan.”


Kharon mulai pasrah dengan gaya bicara Pram yang sama sekali tak menunjukkan rasa segan kepada sang raja. Ia kini hanya tersenyum menyadari bahwa tuan puterinya itu memang seorang yang lugu dan apa adanya. Sangat alamiah.


“Anda dan tuan Philemon bahkan seperti kakak adik.” lanjut Pram.


“O, benarkah aku terlihat semuda itu?”


“Iya, sungguh. Mungkin karena paduka sangat ramah, murah senyum, dan sabar. Tidak seperti itu, tu.” mata Pram menunjuk ke arah Kharon. Membuat siluman harimau putih itu tersipu malu di hadapan sang raja.


“Apa kalian ingin mendengar sebuah rahasia?” tanya sang raja setengah berbisik membuat Pram dan Kharon refleks menggeser duduk agar lebih dekat dengan Raja Ramadhana.


****


Halo semua.... Terima kasih author sampaikan untuk kalian yang masih setia menanti update dari novel After Death ini. Oh ya, author mau curhat sedikit nih 😄


Author sedang kejar target untuk menulis sebanyaj 60 ribu kata dalam sebulan ini. Mohon dukungan semangatnya dari kakak reader semoga author berhasil menggenapi 60 ribu kata sebelum bulan maret berakhir 😄😄


Karena sedang dalam posisi mengejar sebuah target yang tergolong berat, author berharap kualitas cerita dalam novel ini tidak menurun. Meski demikian, untuk mewanti-wanti hal tersebut, author sangat terbuka dengan segala kritik dan saran. Jika dirasa ada penurunan kualitas cerita, mohon kesediaan kakak reader untuk memberi peringatan dan masukan di kolom komentar. Jika memang cerita dalam novel ini tetap baik dan stabil, mohon beri dukungan berupa like di setiap chapter yg diupdate.


Jangan lupa untuk share Novel ini ke teman-teman agar semakin banyak yang membaca novel-novel bergenre Fantasi 😅😅😅