
"Pram, katamu kau pernah ke India dua kali. Apa kau pergi ke Jeisalmer juga?"
Kharon tahu bahwa Pram belum pernah ke Jeisalmer, karena kekaguman tampak jelas di wajah Pram ketika kali pertama mereka datang. Juga respons berlebihan karena suhu udara yang sangat tinggi di siang hari.
Kharon bertanya karena ingin memancing Pram bercerita. Entah mengapa, Kharon merasa sorot mata Pram beberapa kali terlihat penuh kepedihan sejak mereka tiba di India.
"Belum. Aku tak ke sini Ron." nada bicara Pram tiba-tiba berubah mendengar pertanyaan Kharon. Wajahnya pun terlihat sedikit murung dengan mata menerawang jauh entah ke mana.
Pram lantas menatap mata Kharon dan akhirnya menggulirkan kembali senyumnya.
"Aku pergi ke India bagian Utara. Pertama, bersama keluargaku saat aku kelas 5 SD. Kedua, bersama pacarku saat aku kuliah."
Kharon terkejut mendengar kata 'pacar' dari mulut Pram. Pikirnya, mungkin karena gadis itu teringat pada semua kenangan indah bersama pacar Bumi-nya, membuat ia sedih dan menyesal telah mati muda.
"Saat libur sekolah dulu, kami memutuskan untuk menghabiskan waktu bersama keluarga di Himachal Pradesh, India. Itu adalah sebuah negara bagian yang kecil di India Utara dengan kekayaan alam yang luar biasa indah. Terdapat pegunungan, biara-biara Tibet dan Buddha, danau dan sungai yang jernih.
Di sana kami tinggal di sebuah resort dengan fasilitas yang sangat memuaskan. Kami pergi untuk trekking dan ski bersama. Kami juga melakukan arung jeram, paralayang, dan zorbing di Manali dan Solang Valley. Kami sangat bahagia sebagai keluarga yang sempurna.
Tapi kini, kau masih ingat Ron, saat kau memarahiku karena aku tak kunjung pergi dari rumah dan menemuimu, terlalu lama mengunjungi keluargaku hingga waktunya hampir habis?"
"Soal itu, eeem aku minta maaf, Pram."
"O, bukan. Aku bertanya bukan untuk membuatmu merasa bersalah lagi. Lupakan semua rasa bersalahmu."
Kharon hanya diam dan mendengarkan Pram dengan saksama.
"Sejujurnya aku tak ingin meninggalkan keluargaku waktu itu. Kau tahu, saat aku berkunjung, rumahku dipenuhi makhluk-makhluk mengerikan. Dan itu membuat rumahku menjadi mencekam."
"Apa kau takut? Bukankah kalau kau takut seharusnya ingin cepat pergi?"
Pram menggeleng.
"Aku tak takut pada mereka, Ron. Aku hanya mengkhawatirkan keluargaku. Ayahku kena struk dan harus menghabiskan waktunya di atas kursi roda dan ranjang. Dia tak bisa jalan. Sedangkan saudara perempuanku, bagi seorang yang tak dapat melihat hal gaib, dia tampak seperti pasien skizofrenia tingkat lanjut. Dan penyakit itu sangat sulit disembuhkan, bahkan memerlukan perawatan seumur hidup. Lantas, apa akan ada pemuda yang mau memiliki istri yang gila?
Kau tahu apa yang membuat saudaraku itu terlihat tidak waras? Itu semua karena ulah jin dan siluman hitam yang selalu menganggu dan keluar masuk tubuh Candy sesuka hati.
Dan di tengah semua kesialan itu, saudara laki-lakiku yang harus merawat mereka berdua. Aku tak bisa membayangkan kalau seumur hidup saudara laki-lakiku akan dihabiskan untuk mengurus mereka berdua.
Kau tahu Ron, saudara laki-lakiku bernama Ghozie. Dulu dia seorang yang tampan, cerdas, penyayang, dan sangat sempurna untuk menjadi idaman para perempuan. Tapi kemarin saat aku berkunjung, tubuhnya kurus tinggal tulang, matanya hitam, wajahnya kusut, dan sangat tidak terawat. Dia kelelahan karena harus merawat ayah dan kakak sendirian karena tak ada satu pun perawat atau pembantu yang betah tinggal di rumah hantu. Dan dia tetap harus mencari uang juga sebagai tulang punggung satu-satunya. Dia bahkan mesti minum kopi kalengan yang dulu sangat ia benci. Tidak ada lagi yang menyeduh kopi untuknya karena aku telah mati.
Air mata Pram merembes tanpa isak. Hatinya sangat teriris mengenang nasib keluarganya hingga menangis pun sudah tak ada senggukannya lagi.
Kharon memandang Pram penuh kaget. Beberapa detik matanya tampak melotot tak percaya karena Pram kasihan pada orang yang telah membunuhnya.
"Kalau kau ada di posisiku, apa yang akan kau lakukan, Ron?"
Kharon tergugup.
"Eeeem, aku tak tahu. Aku tak tahu bagaimana rasanya memiliki keluarga. Tapi sampai detik ini, aku cenderung membiarkan takdir berjalan dan menjalani semua dengan maksimal."
"Ya, kau benar. Mungkin aku harus menerima semuanya dan membiarkan keluargaku menghadapi takdir yang telah tertulis."
Pram dan Kharon terdiam. Keduanya terlibat dalam keheningan dengan perasaan yang tak nyaman, entah sedih, entah kecewa, atau entah apa.
"Saat ke India bersama Pangli, kami memutuskan untuk pergi ke Kashmir." kata Pram kemudian. Melanjutkan ceritanya.
"Pangli?"
"Itu nama pacarku. Bersama dia, aku selalu merasa bahagia. Kami sering melakukan hal-hal gila dan nekat. Juga saat ke Kashmir, kami pergi melalui jalan ilegal, secara sembunyi-sembunyi. Dan kami tertangkap polisi lalu diserahkan ke petugas imigrasi.
Kashmir adalah salah satu tempat terindah yang ada di Bumi. Letak geografisnya sangat sempurna, yakni membentang di antara Karakoram di utara, Pegunungan Pir Panjal di selatan dan barat, serta menempel dengan Pegunungan Zanskar yang terletak di timur.
Kalau kita ada waktu, kau harus pergi ke sana. Tempat itu bahkan dikenal sebagai “Surga di Bumi”. Terletak di bagian paling utara India, setiap sudut daerah itu menyuguhkan keindahan yang tiada duanya. Apalagi saat kau berada di Mount Kailash, sangat mustahil jika orang yang pergi ke sana tidak terkesan.
Di sana juga ada lapangan golf paling besar di dunia. Aku dan Pangli menghabiskan banyak waktu untuk bermain golf. Lalu, kami naik perahu di Danau Dal di Srinagar. Danau itu berwarna biru menawan."
"Apa yang kau lakukan dengan Pangli di tempat seindah itu?"
"Bercinta. Hanya bercinta."
"Apa kau sering bercinta dengan lelaki?" Kharon mengingat saat pertama kali Pram melihatnya dalam wujud manusia, gadis itu langsung berkeinginan untuk bercinta dengannya.
"Kalau ingin, sering. Tapi aku tak pernah berani melakukannya. Hanya dengan Pangli saja. Entah sihir apa yang digunakan lelaki itu.
Kau tau Ron, selain saudara-saudaraku, orang lain yang turut terlibat dalam pembunuhanku adalah Pangli."
Kharon melotot lagi. Ia masih ingat betul bahwa itu adalah nama yang dikenalkan Pram sebagai pacarnya.
"Dia menukar nyawaku dengan paspor dan tiket rekreasi ke luar negeri. Receh bukan? Sangat receh."
Kharon tak berkata apapun. Juga tak berani lagi menatap wajah Pram. Ia tahu, di mata yang indah itu terbendung banyak air. Yang pada akhirnya meluber juga. Dan Pram, ia mengusap rembesan air itu dengan kasar.