
Tuvalu atau yang dulunya dikenal sebagai Kepulauan Ellice, adalah sebuah negara kepulauan yang terletak di antara Hawaii dan Australia di Samudra Pasifik. Tetangga terdekat adalah Kiribati, Nauru, Samoa dan Fiji. Kepulauan ini terdiri atas empat pulau karang dan lima atol besar dengan luas daratan hanya 26 kilometer persegi. Karena ukurannya yang tidak terlalu luas, Kepulauan Tuvalu menjadi negara terkecil keempat di dunia setelah Nauru.
Negara yang menjadi saksi pertempuran sengit antara serdadu Jepang yang hendak menyerang Pearl Harbour dengan tentara Amerika Serikat ini memiliki iklim tropis. Curah hujan sangat teratur dan pulau-pulau yang penuh air. Ada beberapa ikan, terutama ikan tuna, dan tanaman laut yang banyak ditemukan di lautan sekitarnya.
Khusus menyoal ikan ini, ada kebiasaan unik yang dilakukan orang-orang Polynesia, penduduk asli Tuvalu yang memiliki ciri fisik bertubuh tinggi besar, berkulit cokelat, dan berambut ikal, yakni makan ikan mentah. Mereka sering menyebutnya dengan Ocean Restaurant. Tidak harfiah seperti restoran pada umumnya, melainkan makan ikan yang didapat langsung dari laut. Warga setempat sama sekali tidak mengolahnya terlebih dahulu. Tak ada pula tambahan saus atau bumbu, berbeda dengan sashimi ala Jepang.
Tidak hanya itu, cara penduduk Kepulauan Tuvalu dalam menangkap ikan pun sangat unik. Mereka hanya menggunakan seutas tali pancing kemudian menceburkan setengah badan ke pantai. Saat ikan didapat, mereka langsung membersihkan ikan tersebut menggunakan sebilah pisau kecil dan hap! Siap dimakan di tempat. Menurut mereka, ikan lebih enak kalau dimakan mentah. Dagingnya masih segar dan terasa manis.
Negara dengan populasi penduduk yang tak lebih dari 10.000 jiwa itu memiliki keindahan alam yang memukau. Di pinggiran pantai banyak terdapat pohon kelapa dan pandan yang tumbuh subur. Dipadu dengan pulau-pulau kecil tak berpenghuni tempat burung-burung laut singgah. Tapi negara ini tergolong sepi. Sulitnya moda transportasi untuk mengakses tempat ini menjadi salah satu penyebab negara cantik ini tak banyak dikunjungi wisatawan. Selain itu, tak sedikit penduduk Tuvalu yang sudah minggat ke kawasan tetangganya, seperti Selandia Baru dan kepulauan Pasifik Selatan, karena khawatir masa depannya ikut tenggelam di Tuvalu. Ya, sejumlah ahli lingkungan mengatakan bahwa perubahan iklim membuat air laut di sekitar Tuvalu semakin naik dan dikhawatirkan dapat menenggelamkan daratannya di masa depan. Tak sedikit yang meramalkan kepulauan ini akan lenyap akibat pemanasan global.
Itu sebabnya Pram kekeh ingin melanjutkan proses belajar dan latihannya di Kepulauan Tuvalu. Dan faktanya bukan hanya Pram yang terkesan dengan keindahan negara itu, Kharon pun tercengang bahkan hingga melongo saat mendapati hamparan pasir putih bersih di pinggir pantai yang tak kalah indah dengan gradasi warna lautnya yang biru tua berpadu biru muda dan kehijauan.
"Pilihanmu tak salah, Pram. Ini adalah tempat yang sempurna bagi para pencari ketenangan dan keheningan seperti kita. Tempat ini sangat indah, sepi, dan beraroma damai. Sangat kondusif untuk belajar. Kau bisa lompat ke sana ke mari dengan lebih leluasa. Aku suka wangi angin di sini."
Pram menatap sekelilingnya masih dengan kagum, tidak menggubris atau menanggapi apa yang dikatakan Kharon. Ia memiliki rencana besar untuk hari ini.
"Ron, Laguna Fanafuti adalah tempat yang cocok untuk diving, snorkelling, ataupun sekadar berenang-berenang manja di laut. Aku akan memulainya dengan menjelajahi bawah lautan ini sebelum disibukkan dengan berbagai ilmu dan jurus-jurus aneh. Rasa-rasanya tubuhku ini berhak untuk rileks sejenak. Apa kau mau ikut?"
"Tapi katamu kita akan kedatangan tamu?"
"Heeem iya juga, kalau begitu kau bisa tetap di bawah pohon kelapa itu untuk menyambut mereka."
"Itu kan tamumu." Kharon sedikit tak terima karena sebenarnya ia juga ingin masuk ke dalam air laut dan berjalan-jalan bersama Pram.
"Kau akan terkejut dan tak akan menolak jika tahu siapa tamuku itu."
"Katakan."
"Kau pernah menyebut nama orang tua tuan Philemon kan? Siapa namanya? Aku sudah lupa karena terlalu memikirkan banyak hal."
Kharon memasang wajah tak berselera, kedua matanya sangat berat untuk dibuka dan sangat sulit untuk ditutup.
"Kau bahkan sempat lupa pada namamu tadi karena terpesona dengan tempat ini. Iya kan?"
Senyum Pram kali ini menunjukkan bahwa tadi ia hanya bercanda.
"Apa yang kau maksud tamumu itu Raja Ramadhana?"
"Yap! Tepat sekali." sergap Pram seketika membuat jantung Kharon hendak melompat.
"Baiklah." Kharon telah melupakan keinginannya untuk menjelajahi lautan Tuvalu. Kini pikirannya disibukkan dengan tanda tanya besar tentang sebab apa yang membuat Raja Ramadhana pergi meninggalkan negeri Shaman. Ia sangat khawatir kalau hal buruk telah terjadi.
"Ron, aku pergi sekarang ya?"
Kharon tak menyahut. Dahinya terus berkerut dengan pandangan sejauh entah. Ia bahkan tak mendengar perkataan Prameswari.
"Ron?" Pram yang telah bersiap di pinggir pantai, kembali menghampiri Kharon yang duduk di bawah pohon kelapa. Ia menangkap kegelisahan di wajah khodamnya itu.
"Apa semua baik-baik saja?"
"Apa, Pram? Kau mengatakan sesuatu?"
Pram menghela nafas panjang.
"Apa kau baik-baik saja?" ia mengulangi pertanyaannya.
"Oh, aku? Ya, tentu saja aku baik-baik saja. Kau ini kenapa? Menanyakan hal aneh seperti itu." nada Kharon meninggi. Ia tak marah pada Pram. Tapi pikirannya sangat kusut.
Pram tak berkata apapun. Hanya menggeleng dengan wajah heran melihat Kharon yang tiba-tiba sewot. Ia berlalu dan bersiap untuk menyelam.
"Pram." teriak Kharon.
Pram menoleh.
"Hati-hati."
Pram tersenyum dan melambaikan tangan. Kemudian menenggelamkan diri ke air laut.
Pram sangat menikmati pemandangan bawah laut yang sangat kaya dengan keanekaragaman hewan laut tak terkira. Ia sangat terpukau saat beberapa kali bertemu kura-kura laut yang sedang berenang. Dan ikan-ikan laut tropisnya sungguh membuat gadis itu tak berkedip.
Sementara itu Kharon yang terduduk di tepi pantai, tak bisa berhenti memikirkan Raja Ramadhana. Ia sangat mengenal seperti apa raja itu. Ia tak akan mau pergi meninggalkan istana bahkan untuk sekadar berjalan-jalan. Ia sangat fokus pada tugasnya dan siap menghadapi apapun serangan yang datang, meski seringkali membahayakan nyawanya.
"Kharon."
Terdengar suara seorang lelaki memanggil. Membuat siluman harimau putih itu menoleh dan dengan cepat beranjak.