
Saat telah tiba di Shaman Philemon mengubah dirinya menjadi seekor burung merpati putih. Ia terbang dengan sangat berhati-hati. Dan ia sangat tidak percaya dengan penglihatannya. Di matanya sudah tidak ada negeri Shaman yang dulu ia kenal. Yang ada hanyalah sebuah negeri yang telah mati dan dihuni oleh jin-jin hitam dengan bau menyengat yang sangat menyakiti hidung.
Ia benar-benar tidak percaya. Keindahan negerinya itu sudah tidak tersisa, sama sekali tidak ada bekasnya. Matanya nanar melihat kekelaman Shaman. Tidak ada cahaya, sama sekali. Sangat suram, kelabu, sepeti tak ada kehidupan. Sepanjang jalan juga hanya dipenuhi oleh mayat-mayat yang membusuk yang dikerumuni belatung, beberapa di antaranya telah menjadi tulang saja. Ada ratusan burung gagak yang berpesta menikmati para mayat itu hingga perut mereka membuncit atau sekadar nongkrong di atap rumah.
Philemon terbang lagi ke sisi yang lain, tapi ia sama sekali tak menjumpai keberadaan penduduk Shaman. Ia terbang lagi dan lagi. Hasilnya sama, tidak ada tanda-tanda adanya penduduk Shaman yang masih tinggal. Kerajaan pun sangat sepi dari para pengawal dan abdi dalem saat ia mengintip dari lubang udara di dinding. Yang ia lihat justru para jin hitam yang sedang berpesta memabukkan diri. Philemon berharap para penduduk Shaman lainnya yang masih hidup telah melarikan diri dan bersembunyi di tempat yang aman.
“Apa semua tahanan itu telah mamp*s?” kata seorang jin hitam, membuat Philemon mengurungkan niatnya untuk beranjak kembali ke Kepulauan Tuvalu.
“Belum semua, tapi sudah banyak yang mati. Sebentar lagi pasti akan mamp*s semuanya.”
“Baguslah, kalau mereka semua mati, kau tidak perlu repot memberi makan. Itu sangat membuang-buang waktumu dan sangat tidak berguna.”
“Raja Bemius memang top. Aku tidak menyangka kita akan menang telak begini.”
“Ya, sungguh kekejamannya nomor satu. Aku sangat bangga dan senang memiliki seorang raja yang sangat tidak berperasaan. Hahahaha...”
“Hahaha.... Untung saja kita menjadi pengikut Raja Bemius, coba kalau kita tetap menjadi pengikut Raja Ramadhana, kita akan menghabiskan waktu dengan mendengar ceramah untuk sadar dan berubah menjadi jin yang baik.”
“Lantas berakhir dengan mati di penjara. Hiiii.... Sungguh menyedihkan.”
Semua pembicaraan antara jin-jin hitam itu membuat Philemon menahan amarah. Ia sangat ingin menghajar mereka atas ucapan yang tak patut itu. Tapi ia tidak bisa. Ia harus menahan semua kemarahannya atau akan berakhir sia-sia di tangan para kampr*t itu.
“Lalu, bagaimana dengan tuyul-tuyul itu di penjara lapang?” kata seorang lagi mengganti topik pembicaraan.
“Wah, mereka? Jangan tanya. Kau tahu anak-anak dari jin-jin sok suci itu kini jadi lebih beringas dari kita. Kadang mereka menyerang satu sama lain hingga hampir sekarat. Sebelum akhirnya para pengasuh memisahkan. Beeeh, sungguh raja Bemius sangat hebat sekali. Di tangannya anak-anak yang baik itu, bisa menjadi jahan*m semua, hahaha....”
“Iyalah, dengan semua fasilitas memanjakan itu, seorang anak kecil tak mungkin tak luluh. Lagipula kalau mereka tetap ngeyel mau jadi jin yang baik, bukankah mereka kudu siap eeeek?” kata seorang jin lagi dengan menempelkan telunjuknya di leher dan menggesernya, membentuk sebuah garis sebagai simbol kematian.
Mata Philemon yang masih dipenuhi kaca-kaca kini melotot nanar. Ia tak menyangka kakaknya akan setega itu, bahkan memperlakukan anak-anak dengan sangat sadis. Ia lagi-lagi berusaha keras untuk menahan amarahnya agar tidak meluap.
“Terus-terus, kalau yang ada di penjara kotak itu bagaimana? Aku sangat ingin melihat penderitaan mereka, tapi aku tak bisa pergi karena harus menjaga istana ini.”
“Bagaimana lagi, ya sudah pasti banyak yang matilah. Penjara itu sekaligus menjadi peti kematian untuk mereka, hahaha... Sayang sekali, menjadi jin dan siluman yang sakti dan berakhir dengan begitu menyedihkan. Coba kau lihat bagaimana cara mereka makan, hahaha.... Sudah seperti seekor anj*ng.”
“Iya, hiiii.... Sungguh menjijikkan dan menyedihkan. Dalam penjara yang penuh dengan kotoran mereka sendiri itu ada banyak sekali belatung. Bisa kau bayangkan, masih hidup sudah digerogoti belatung. Sangat mengerikan.”
“Itulah akibatnya menjadi sombong dan sok suci. Mereka justru mati dalam keadaan sama sekali tidak suci, hina, dan menjijikkan.”
“Lalu-lalu, apa kabar dengan mereka yang ditahan di penjara goa? Apa sama menyedihkannya?”
“Heeem, sudah banyak bangkai yang mengapung di penjara itu. Aku selalu jengkel kalau memberi makan ke tahanan di penjara itu. Baunya, uuh weeek, sungguh aku tak kuat. Bau sekali. Seumur-umur sebau apapun kamar mandi para manusia di Bumi yang mengundang kedatangan kita, tidak ada apa-apanya. Kita yang suka dengan bebauan seperti itu saja tidak akan kuat masuk ke sana tanpa mual. Aku tidak pernah keluar dari penjara goa tanpa muntah, karena baunya meloncat jauh di atas normal. Bayangkan saja bau nanah, kotoran, makanan busuk, air kencing, dan mayat menjadi satu.”
Philemon yang tenggorokannya sakit dan dadanya sesak sedari tadi karena mendengar percakapan dari para jin hitam itu, kini menangis lagi hingga sesenggukan.
“Hei, lihat! Di sana ada seekor merpati putih.” Seorang jin mendapati keberadaan Philemon.
“Merpati putih? Mana mungkin. Di sini tidak ada hewan lain kecuali gagak dan belatung. Kau mungkin terlalu lelah berjaga di penjara.”
“Tidak. Lihatlah itu. Di sebelah sana.”
“Wah, iya kau benar. Ayo cepat kita tangkap.”
Philemon segera beranjak terbang karena tak ingin tertangkap oleh anak buah Bemius.
“Hei, tunggu. Jangan kabur.” Seorang jin meneriakinya.
Philemon mendarat di antara kerumunan gagak yang memangsa seorang mayat. Lalu mengubah wujudnya menjadi burung gagak dan berlagak seperti sedang turut makan.
“Di mana burung itu?” kata seorang jin yang berdiri tepat di sebelahnya.
“Itu pasti burung jadi-jadian. Kita harus melaporkan ini ke Raja Bemius, bahwa ada penyusup yang sedang memata-matai kita dan menjelma menjadi seekor burung merpati.”
Philemon sangat was-was, khawatir jika penyamarannya diketahui. Tapi ia terus berkonsentrasi untuk menjaga penyamarannya agar tidak ketahuan. Ia menggunakan kekuatannya untuk mengaburkan penglihatan para jin hitam dan siluman yang mengejarnya.
“Tunggu, lihatlah burung gagak ini.” seorang jin menunduk dan menunjuk ke arah Philemon.
“Kenapa?”
“Coba kau perhatikan, tingkahnya sangat aneh. Sedari tadi dia hanya diam dan seperti mendengarkan percakapan kita, tidak seperti gagak lainnya yang sedang lahap memakan bangkai penduduk Shaman ini.” jin itu menangkap burung gagak jelmaan Philemon dan melihatnya dengan saksama.
“Kau ini ada-ada saja. Sudah lepaskan burung itu dan ayo kita segera pergi menemui raja Bemius, melaporkan adanya mata-mata yang menjelma menjadi merpati putih dan berhasil kabur.”
Jin itupun melepaskan burung gagak dari tangannya. Philemon yang sedari tadi jantungnya berdegup sangat kencang, lekas terbang dan pergi dari Shaman, meninggalkan para penduduk yang terperangkap dalam penderitaan tak berujung.
Halo semua.... Terima kasih author sampaikan untuk kalian yang masih setia menanti update dari novel After Death ini. Oh ya, author mau curhat sedikit nih 😄
Author sedang kejar target untuk menulis sebanyaj 60 ribu kata dalam sebulan ini. Mohon dukungan semangatnya dari kakak reader semoga author berhasil menggenapi 60 ribu kata sebelum bulan maret berakhir 😄😄
Karena sedang dalam posisi mengejar sebuah target yang tergolong berat, author berharap kualitas cerita dalam novel ini tidak menurun. Meski demikian, untuk mewanti-wanti hal tersebut, author sangat terbuka dengan segala kritik dan saran. Jika dirasa ada penurunan kualitas cerita, mohon kesediaan kakak reader untuk memberi peringatan dan masukan di kolom komentar. Jika memang cerita dalam novel ini tetap baik dan stabil, mohon beri dukungan berupa like di setiap chapter yg diupdate.
Jangan lupa untuk share Novel ini ke teman-teman agar semakin banyak yang membaca novel-novel bergenre Fantasi 😅😅😅