After Death

After Death
Bab 152: Malam Kelabu



Malam di Pulau Amsleng Sufir Matdrakab masih sejuk seperti malam sebelumnya, juga malam malam berikutnya. Namun, entah bagaimana tampaknya malam ini semua orang tak bisa tidur, meski semuanya tampak anteng di atas tempat tidur. Hanya Raja Ramadhana saja yang merasa perlu keluar ruangan untuk sekadar menambah kesejukan. Semua orang tengah sibuk dengan pikirannya masing masing hingga tidak dapat merapatkan kedua kelopak mata dalam waktu lama.


Pertama, tentu saja Pram. Ia dilingkupi rasa bersalah yang maha besar kepada Kharon. Bahkan rasa itu mengalahkan besarnya rasa dendam kepada Bemius atas perlakuan sadis yang disasarkan pada keluarganya . Ia benar benar tak memiliki kalimat yang pas untuk mengungkapkan perasaannya saat ini. Bayangkan, orang yang selalu setia padamu, selalu ada dan suka dan duka, serta selalu berusaha menjaga dan membuatmu bahagia, yang meletakkan keselamatanmu di atas keselamatan dirinya sendiri, justru mendapat impalan pukulan dan cakaran. Bukan hanya sebuah saja, melainkan berpuluh puluh atau bahkan beratus ratus kali banyaknya. Pram tak tahu apakah ia pantas untuk diampuni atau tidak. Ia bahkan rasanya sangat sulit untuk memaafkan dirinya sendiri.


Hal lain yang membuat Pram semakin sulit terlelap adalah ia mulai merenungkan semua yang telah menimpa dirinya dan Kharon. Selama ini menurut ingatannya, Kharon mendapatkan banyak kesulitan dan kesakitan karena dirinya. Malahan khodamnya itu sempat sekarat juga saat di Perpustakaan Gyan Bhandar India. Semua karena siapa, karena aku, begitulah kata Pram dalam batin. Menganggap dirinya sebagai sumber malapetaka untuk Kharon.


Saat Pram meneruskan semua pikiran kacaunya, sempat terbesit dalam benaknya bahwa mungkin Kharon akan lebih baik jika tanpa dirinya. Maka, meninggalkan Kharon sepertinya adalah keputusan yang paling bijak. Namun, Pram sendiri juga yang mengurungkan semua pikirannya itu. Rasanya ia tak sanggup hidup tanpa Kharon. Pram lantas membayangkan hari hari tanpa Kharon. Lalu ia dengan cepat membenamkan wajahnya ke dalam bantal. Pram tak ingin Kharon terbangun mendengar tangisannya.


Kedua, yang tak bisa tidur selanjutnya adalah Kharon. Lelaki yang disangka Pram sedang tertidur pulas itu bahkan tidak mampu memejamkan mata. Sorotan matanya sangat tajam dan penuh dengan kegelisahan. Dan yang membuat Kharon menjadi terjaga meski sudah waktunya untuk tidur adalah Pram.


Kharon tahu benar bahwa luka luka yang ada di tubuhnya, bukan semata mata karena ulah Pram. Ia tahu kalau kekuatan Pram tidak sebesar itu, hingga cakarannya mampu menembus daging Kharon dan membuatnya hingga terkoyak. Sudah barang tentu semua ada hubungannya dengan jurus yang baru saja dikuasai Pram. Gadis pujaan hatinya itu telah terpengaruh oleh energi dari Roh Dewi Pencabut Nyawa yang berbau dendam dan amarah.


Kharon khawatir jika Pram tidak mampu mengendalikan keadaan, batinnya akan dengan mudah tersulut oleh hal hal yang berbau kesedihan. Meski ia yakin, ketulusan hati Pram suatu saat pasti akan bisa mengendalikan itu semua. Namun ia tak tahu pasti apakah gadis itu memerlukan waktu yang lama atau sebentar. Dan selama Pram belum bisa mengatasi dan mengontrol semuanya, Kharon akan selalu was was. Terlebih saat mengingat Pram yang mencoba untuk menyerang Raja Ramadhana. Yang sangat mungkin kejadian utu akan terulang kembali.


Dan ketiga yang tak bisa tidur juga sudah barang tentu adalah Raja Ramadhana. Raja Shaman itu terus memikirkan kekejaman anaknya pada keluarga Pram. Ia tak menyangka jika akan terpikirkan oleh Bemius untuk menghabisi semua orang dengan cara yang sungguh mengerikan, dan menyisakan satu anggota keluarga saja, itupun dalam keadaan yang sangat tidak layak.


Sang raja kembali pada ingatannya yang berniat untuk membunuh anak pertamanya itu saat baru saja Bemius dilahirkan. Ia merasa bahwa semua yang terjadi yang begitu buruk dan tak berperikemanusiaan yang dilakukan Bemius, tidak lain adalah berkat kesalahannya. Seandainya ia membunuh Bemius kala itu, seandainya ia tak membiarkan Bemius lepas dari pengawasannya, seandainya ia lebih memikirkan rakyatnya ketimbang keluarganya sendiri, dan lain sebagainya. Semua pikiran yang berandai-andai itu membuat Raja Ramadhana memojokkan dirinya sendiri.


Belum lagi saat sang raja kembali ingat pada hal yang tidak pernah ia lupakan, yakni para penduduk Shaman yang saat ini entah bagaimana keadaannya. Maka, rasa bersalah yang mencuat dalam dirinya semakin membesar hingga sempat terpikir olehnya untuk mengakhiri hidup saja.


Raja Ramadhana yang ada di teras rumah yang meninggalkan Philemon terbaring di atas tempat tidur telah meletakkan pisau yang sangat tajam di atas pergelangan tangannya. Ia memainkan pisau itu. Menggerakkannya maju mundur tanpa tekanan. Sampai akhirnya sang raja terkejut sebab keluar cukup banyak darah dari tangannya. Ia segera memindahkan syal buatan istrinya yang melilit lehernya ke tangannya yang terluka cukup dalam itu. Namun, ia masih beruntung sebab urat nadinya tak sampai putus.


Raja Ramadhana menangis berderaian hingga tubuhnya turun naik sesenggukan. Bukan karena rasa sakit yang muncul bersama keluarnya darah, melainkan karena syal itu. Ia hampir saja gelap mata dan melupakan pesan istrinya untuk menjadi raja yang bijak, adil, dan bertanggung jawab. Sedangkan apa yang baru saja ia lakukan mencerminkan seorang raja pecundang. Bahkan ia malu menyebut dirinya sendiri sebagai seorang raja.


Orang terakhir yang tak mampu tertidur adalah Philemon. Lelaki itu sibuk memikirkan dambaan hatinya, Pram. Ia sama sekali tak menyangka bahwa lara batin yang diderita Pram ternyata melebihi sakit hati yang ia rasakan perihal keluarga. Selama ini Philemon diam diam selalu meratapi nasibnya yang menyedihkan. Lahir sebagai seorang pangeran. Namun, sama sekali tak bahagia sebab justru kakaknya sendiri yang selalu mengancam keselamatannya. Kakaknya juga yang telah membunuh ibunya, hampir melenyapkan ayahnya, dan juga telah membuat kerajaan milik keluarga hancur berantakan. Hingga Philemon merasa tak memiliki apapun lagi yang berharga, kecuali ayahnya.


Namun, Pram. Gadis itu bahkan tidak memiliki siapapun. Semua keluarganya telah lenyap. Meskipun kakaknya masih ada, ia hidup di dimensi yang sudah berbeda. Semua keluarganya yang telah tiada, mati dengan cara yang memilukan. Lalu hidup sendirian di dimensi lain, luntang lantung ke sana ke mari sebagai buronan berharga Bemius. Nyawa Pram bahkan berkali kali lipat lebih berisiko lenyap daripada nyawanya.


"Sedangkan aku, aku terlalu lemah dan selalu dikelilingi rasa putus asa. Aku bahkan dulu tak bisa tersenyum karena menganggap tidak ada hal baik yang bisa aku syukuri. Padahal aku masih punya ayah. Sementara dia, dia sebatang kara di dimensi yang sama sekali tidak ia kenal." kata Philemon lirih saja dalam hati. Diikuti oleh rembesan air hangat dari kedua matanya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Halo kakak-kakak readers, mohon izin untuk promosi novel author di sini ya… Skip aja kalau kurang berkenan hehe,


 


Well selain di akun Banin SN, author juga punya akun lain yaitu Hashirama Senju. Nah berikut novel-novel author yang barangkali kakak-kakak berminat juga untuk membacanya:


1.       Pendekar Pedang Naga, novel ini ada di akun Hashirama Senju. Novel genre pendekar/wuxia yang pertama saya tulis.


2.       After Death, novel yang sedang kalian baca ini hehe.


3.       Kumpulan Cerpen Menang Lomba, tulisan ini ada di akun Hashirama Senju. Bukan jenis novel tetapi kumpulan cerpen. Di sana saya memposting kumpulan cerpen saya yang pernah memenangkan lomba baik skala lokal maupun Nasional, ada juga beberapa cerpen yang pernah dimuat di media. Silakan baca-baca untuk sekadar menambah referensi kakak-kakak sekalian.


4.       Menikah karena Taruhan, novel ini ada di akun Banin SN. Ini adalah novel bergenre Adult Romance yang pertama saya buat, meskipun bergenre Adult Romance, saya berencana memberikan konflik-konflik rumit atau informasi-informasi yang bermanfaat yang saya rangkum di dalam sana.


5.       Pacar Kecilku, novel ini ada di akun Banin SN. Sementara novel ini Hiatus dulu karena butuh banyak bacaan untuk melanjutkannya. Seperti sebagaimana yang saya tulis di Bulrb, novel ini mengangkat tema tentang Mental illness dan beberapa pengetahuan tentang ilmu psikologi lainnya, jadi saya butuh banyak bacaan lagi untuk melanjutkannya (dan sekarang belum ada waktu hehe)


 


Well, itu dia tulisan-tulisan saya yang ada di platform Noveltoon/Mangatoon. Mohon maaf sekali karena promosi panjang lebar di sini^^