
Prameswari dan Dante yang tidur sambil menahan lapar tak mampu lagi terlelap meski hari masih terlalu dini untuk bangun. Berhari-hari menahan lapar kini membuat mereka bangun sebelum waktunya.
“Kalian sudah bangun?” sergap Kharon dengan nada lebih rendah dari biasanya.
“Aku mimpi buruk, kami mati kelaparan karena ulahmu,” jawab Dante masih dengan kesal mengingat ulah Kharon yang semena-mena.
“Jadi, akan berburu apa kita kali ini? Aku sungguh ingin makan.” Pram mengelus perutnya yang sedari tadi malam keroncongan.
“Tanyakan saja pada peliharaanmu ini! Aku tidak ingin mengambil resiko mati dipatok ular.” Dante semakin fasih berbicara kasar. Ia tertular dengan cara bicara Kharon yang blak-blakan dan tidak mengenal santun. Ia sangat semangat untuk membuat Kharon tersinggung dan bersalah atas perbuatannya.
Kali ini Kharon benar-benar mati kutu. Mereka kelaparan memang gara-gara ulah Kharon. Tidak seperti biasanya, ia hanya terdiam penuh sesal tanpa berusaha membalas keketusan Dante.
“Sudahlah, perutku sudah tidak kuat lagi menahan lapar. Kita harus bergegas mencari makanan.” Pram bangkit dan mulai berjalan mengamati hutan.
Pram sangat terkesan dengan pohon-pohon di Białowieża yang menjuang tinggi. Terdapat 26 spesies pohon yang hidup subur di hutan tersebut. Pohon Hornbeam adalah jenis pohon yang mendominasi. Selain itu terdapat juga pohon Oak, Pinus, Spruce, dan Ash.
Sebanyak 37% dari keseluruhan pohon telah hidup lebih dari 100 tahun. Dedaunan dari pohon-pohon tersebut berjubel menutupi panasnya matahari. Udara terasa begitu lembab dan tercium aroma khas seperti bau tanah kering yang baru diguyur hujan. Juga aroma magis yang tak luput dari penciuman Kharon dan Pram.
Insting Pram menangkap keberadaan elk yang sedang minum sekitar 140 meter dari tempatnya berdiri. Pram bergegas meminta Kharon untuk memberikan perlengkapan memanah. Lantas berlari menuju hewan buruan.
Benar saja, di tepi sungai Narewka, tampak seekor elk besar yang tengah minum. Elk tersebut menoleh ke berbagai arah seolah merasakan keberadaan makhluk asing sedang mengawasinya.
“Kumohon, kali ini izinkan aku memanah rusa itu.” kata Pram bersungguh-sungguh tanpa bermaksud untuk menyinggung Kharon.
Kharon mengangguk dengan sedikit perasaan tak enak. Sementara Dante sedikit panik mendapati calon hewan buruannya berlari.
Jlep! Anak panah Pram yang terbuat dari bulu Kharon mendarat tepat di jantung elk. Rusa itu pun tersungkur kelabakan beberapa saat sebelum akhirnya benar-benar berhenti bergerak.
Baik Kharon maupun Dante sama-sama tercengang menyaksikan kepiawaian Pram dalam memanah. Keduanya beberapa saat terpaku sebelum akhirnya melompat kegirangan.
“Ternyata kau tidak hanya cantik Pram. Kau adalah pemburu terbaik yang pernah aku lihat sepanjang hidupku.” puji Dante membuat Pram tersipu senang.
“Iya, kamu luar biasa Pram. Tak kusangka perempuan sepertimu bisa dengan mudah menakhlukan elk sebesar itu tanpa membiarkan satu pun anak panah terbuang sia-sia.” ucap Kharon tak mau ketinggalan.
Pujian Kharon pada Pram membuat Dante sungguh kesal. Ia benar-benar merasa bahwa kali ini Kharon mengajaknya bersaing secara blak-blakan untuk merebut perhatian dari Prameswari.
***
“Makanlah.” Kharon menyerahkan potongan paha elk yang telah matang sempurna kepada Pram.
“Tidak perlu, aku sudah memanggang sendiri untukku. Kau makan saja untukmu sendiri. Aku yakin kemurnian elk ini akan membuat energi positif di tubuhmu meningkat.” Pram tersenyum menyaksikan sisi lembut Kharon padanya.
“Ambilah. Aku akan memanggang lagi. Aku belum terlalu lapar. Selagi menunggu daging yang kau panggang itu benar-benar matang, kau bisa memakan ini untuk mengganjal lapar.” Kharon menyodorkan kembali daging elk pada Pram.
“Apa kita perlu menangkap ikan untukmu?” potong Dante kesal.
“Kau ‘kan kucing. Pasti kau suka ikan.” tambah Dante sinis. Ia tak suka melihat Pram bersimpati atas kebaikan Kharon.
Meski kesal dengan pernyataan Dante, Kharon memilih diam dan memotong daging elk untuk dipanggang lagi.
***
Aroma magis yang kerap menyeruak di Hutan Białowieża ternyata muncul dari peri-peri hutan. Peri hutan adalah sekelompok makhluk astral yang bertugas menjaga kelestarian dan keberlangsungan kehidupan di hutan. Mereka memiliki kemampuan untuk melakukan blok atas energi jahat yang bisa mengganggu keberlangsungan hayati dan hewani di hutan.
Sehingga tidak sembarang orang mampu memasuki hutan tersebut. Itu sebabnya Kharon merasa tempat itu cukup aman untuk tinggal sementara sembari mematangkan rencana-rencana yang telah terperinci di benaknya. Anak buah Bemius akan kesulitan untuk menemukan mereka karena selubung kabut yang dibuat para peri. Di sisi lain, ketersediaan logistik di Białowieża sangat melimpah. Mereka tidak akan kesulitan untuk menemukan hewan buruan seperti rusa merah, rusa roe, bison, dan lain sebagainya.
*****
Halo semua.... Terima kasih author sampaikan untuk kalian yang masih setia menanti update dari novel After Death ini. Oh ya, author mau curhat sedikit nih 😄
Author sedang kejar target untuk menulis sebanyaj 60 ribu kata dalam sebulan ini. Mohon dukungan semangatnya dari kakak reader semoga author berhasil menggenapi 60 ribu kata sebelum bulan maret berakhir 😄😄
Karena sedang dalam posisi mengejar sebuah target yang tergolong berat, author berharap kualitas cerita dalam novel ini tidak menurun. Meski demikian, untuk mewanti-wanti hal tersebut, author sangat terbuka dengan segala kritik dan saran. Jika dirasa ada penurunan kualitas cerita, mohon kesediaan kakak reader untuk memberi peringatan dan masukan di kolom komentar. Jika memang cerita dalam novel ini tetap baik dan stabil, mohon beri dukungan berupa like di setiap chapter yg diupdate.
Jangan lupa untuk share Novel ini ke teman-teman agar semakin banyak yang membaca novel-novel bergenre Fantasi 😅😅😅