
Raja Ramadhana menghela nafas panjang mengingat perselisihan yang terjadi di antara ia dengan sang istri. Ia meninggalkan jendela dan mengambil sebuah foto di meja. Itu adalah foto Tri Laksmini yang sedang menggendong Bemius kecil. Ia memandangi lekat-lekat wajah ayu istrinya.
Bagi sang raja, Tri Laksmini adalah perempuan paling cantik dan istimewa. Tak ada istilah selir atau wanita simpanan dalam hidupnya, tak seperti raja pada umumnya yang memiliki istri lebih dari satu. Tri Laksmini selalu spesial karena hatinya, ia tak pernah bisa jahat pada siapapun. Meski sedang marah, sang istri tak pernah tak peduli padanya.
Istrinyalah yang selama perjuangan membangun kerajaan selalu setia menemaninya. Tri Laksmini sering secara tiba-tiba memijat pundak suaminya yang duduk serius di ruang kerja. Perempuan itu selalu memeluk dan menariknya kuat untuk keluar dari ruang kerja saat hari sudah terlalu larut. Namun, saat kejailan perempuan itu kumat, Raja Ramadhana yang sedang tertidur di meja kerja langsung terbangun karena teriakan istrinya yang secara bersamaan juga menepuk pundaknya dari belakang secara tiba-tiba.
Raja Ramadhana tersenyum mengingat gelak tawa istrinya yang sangat bahagia mendapati kejut di wajahnya. Ia lantas memeluk foto istrinya.
Sebagai seorang istri raja, Tri Laksmini hampir tak pernah istirahat. Perempuan itu selalu ngeyel untuk mengurus semua keperluannya. Padahal ada banyak dayang yang dengan setia siap melayani setiap saat. Tidak hanya itu, Tri Laksmini juga selalu mencicipi hidangan sebelum sang raja memakannya. Dan jika Raja Ramadhana kedapatan telah memakannya terlebih dahulu, sang istri akan memarahinya di depan semua pengawal, dayang, bahkan panglima. Bukan tanpa alasan Tri Laksmini bersikap demikian. Pasalnya sang raja pernah jatuh sakit karena ada racun yang sengaja dimasukkan di hidangan raja. Sejak saat itu, Tri Laksmini gemar mencicipi hidangan apapun yang akan dimakan suaminya, terlebih jika hidangan itu pemberian para bangsawan atau orang lain di luar kerajaan. Namun, lagi-lagi jika kejailan Tri Laksmini kambuh, ia sengaja mencicipi hidangan dengan porsi yang terlalu banyak, terlebih jika tampak gurat selera di wajah suaminya. Maka, para dayang dan pengawal seringkali menahan tawa melihat tingkah polah raja dan ratunya yang berebut makanan layaknya anak-anak.
Raja Ramadhana menghapus air matanya. Ia tak menyangka, istrinya akan pergi demikian cepat di tangan anak kecil yang sedang digendongnya. Padahal sebelum terbunuh, Tri Laksmini selalu menangis diam-diam, menangisi kepergian Bemius ke pengasingan.
Setelah Tri Laksmini mengantarkan putra pertamanya itu pergi meninggalkan istana, air mukanya tak pernah tampak marah atau kecewa. Ia selalu tersenyum sumringah dan tetap menjadi istri yang sangat baik untuk sang raja. Ia juga tak pernah menanyakan kabar Bemius, ataupun meminta suaminya untuk menyudahi hukuman pengasingan Bemius.
Akan tetapi, Philemon, putra keduanya sering melihat ibunya itu menangis diam-diam di dalam gudang pada malam hari buta. Ibunya sering menangis hingga memegangi dadanya dengan nafas tersengal. Tri Laksmini kerap menangis sampai berjam-jam. Hingga hari mulai terang kembali.
Philemon tak berani menghampiri ibunya. Ia hanya menunggu di balik pintu. Tak jarang air matanya ikut keluar menyaksikan kesedihan perempuan yang melahirkannya itu.
Lantas, ia melaporkan hal itu pada ayahnya setelah tiga malam berturut-turut, Tri Laksmini tak tidur karena tak berhenti menangis.
Raja Ramadhana mengingat mata istrinya yang selalu sembab saat menyambutnya bangun tidur. Tapi istrinya itu selalu memberikan senyum padanya. Dan Raja Ramadhana lagi-lagi dibuat heran karena istrinya itu tak pernah sekalipun menanyakan Bemius. Atau berkeinginan ikut ke pengasingan saat dirinya sedang melakukan inspeksi dadakan.
"Paduka saja yang pergi." begitulah selalu istrinya menjawab ketika diajak survei ke pengasingan.
Saat Raja Ramadhana menerima aduan dari Philemon perihal aktivitas istrinya di malam hari, ia pun memutuskan untuk diam-diam mengikuti Tri Laksmini. Benar, di tengah malam, dalam gudang belakang istana, ia menemukan istrinya sedang terisak sambil memeluk sebuah potret, itu foto Bemius. Seperti halnya Philemon, sang raja juga tak berani mengusik istrinya. Ia hanya menunggu di balik pintu. Lama ia menunggu, tapi tangisan itu tak kunjung berhenti. Kadang terdengar agak keras, namun kadang hanya sisa-sisa isakan.
Di pengujung malam, Raja Ramadhana tak kuat lagi. Ia memeluk istrinya yang tertunduk dari belakang, membuat Tri Laksmini terkejut dan dengan cepat menghapus air mata dengan kedua tangannya, lalu berusaha menerbitkan senyum di bibirnya.
Raja Ramadhana membantu istrinya menyingkirkan beberapa helai rambut yang berserakan di wajah istrinya. Lantas memeluk kembali Tri Laksmini erat.
Nafas sang ratu masih terdengar sesak. Ia berusaha keras menghentikan sisa-sisa isakannya.
"Apa yang membangunkan paduka? Ini masih terlalu pagi untuk bangun. Mari kuantar ke kamar paduka lagi." Tri Laksmini mencoba untuk berdiri. Tapi suaminya masih mendekapnya erat.
"Apa kau begitu marah padaku?"
"Mengapa paduka bertanya begitu."
"Mengapa kau selalu berusaha tampak bahagia di depanku, dan menangis di sini diam-diam?"
Tri Laksmini terdiam. Ia tak mengatakan apapun, membiarkan pertanyaan raja menguap begitu saja. Perempuan itu lagi-lagi hanya menyunggingkan senyum.
"Apa aku perlu membawa Bemius kembali agar kau tak sedih lagi?"
"Siapa yang mengatakan pada paduka bahwa aku sedang bersedih? Ayolah paduka raja, aku sangat bahagia untuk semuanya. Aku bersyukur memiliki suami seperti paduka, juga seorang putra yang sangat baik seperti Philemon." Tri Laksmini mengubah nada suaranya, terdengar jelas kalau ia sedang menutupi kesedihannya.
"Kalau kau bahagia, mengapa kau selalu menangis diam-diam di sini?"
"Terkadang kita harus menangis agar lebih kuat."
Hening sesaat. Terdengar rintik hujan mulai turun, diikuti suara kokok ayam.
Tri Laksmini berdiri dengan wajah berseri. Dan menarik tangan suaminya agar turut berdiri.
"Ayo kita tidur lagi. Aku selalu suka tidur saat hujan begini."
Sang ratu menggandeng suaminya keluar gudang dan kembali ke kamar.
Sejak saat itu, Tri Laksmini tak pernah lagi menangis diam-diam di dalam gudang. Ia menyimpan tangisannya dalam batin. Hingga akhirnya ia terjatuh sakit.
Dalam sakit sang ratu selalu tersenyum, dan mengusap air mata suaminya yang sering keluar saat duduk di samping ranjang tempatnya berbaring.
Raja Ramadhana kini selalu menyesal karena tak mampu membuat istrinya menunjukkan perasaan yang sesungguhnya kepadanya. Ia memang ingin melihat istrinya selalu tersenyum, tapi bukan senyum palsu.
Baginya Tri Laksmini adalah cahaya di hidupnya. Berkat istrinya itu ia selalu kuat melawan pemberontakan kelompok sparatis dan radikal. Ia tetap kuat menghadapi berbagai bencana yang menimpa negerinya. Ia tetap tegar menenangkan penduduk yang berdemo soal perilaku sewenang-wenang kaum bangsawan. Ya, Tri Laksmini adalah kekuatannya.
Maka, saat melihat istrinya itu terbunuh oleh anaknya sendiri, batin Raja Ramadhana telah terkoyak sempurna. Putra pertamanya yang selalu membuat istrinya menangis diam-diam hingga jatuh sakit, telah melemparkan tombak tepat mengenai jantung Tri Laksmini.
Peristiwa mengerikan yang terpampang di depan matanya itu terjadi saat Bemius melakukan kudeta guna menggulingkan dirinya. Bemius yang selama bertahun-tahun tinggal di pengasingan kembali bersama seluruh pasukannya dengan kekuatan yang luar biasa dahsyat.
Yang membuat dirinya tak berhenti merasa bersalah adalah karena istrinya mati mengorbankan diri untuk melindunginya. Lantas dimana harga dirinya sebagai seorang suami yang harusnya melindungi istrinya itu.
Maka, hingga kini pun Raja Ramadhana selalu sesenggukan ketika mengingat peristiwa berdarah itu. Perempuan satu-satunya yang sangat ia cintai mati tepat di depan matanya di tangan anaknya sendiri.
Meski akhirnya kudeta itu tak berhasil berkat upaya yang dilakukan Philemon, jiwa Raja Ramadhana sesungguhnya telah mati sebagian bersama kepergian istrinya itu. Dan dukanya semakin lengkap karena Philemon juga pergi meninggalkan istana.
Di hari peringatan kematian istrinya seperti saat ini, Raja Ramadhana tak pernah berhasil menghapus semua kesedihannya. Meski telah bertahun-tahun berlalu, peristiwa itu masih sangat menyesakkan batinnya.