After Death

After Death
Bab 54: Biji Emas Ajaib



Perburuan Pram dan Kharon menghasilkan seekor ayam hutan. Padahal sepanjang berburu, Kharon beberapa kali melihat rusa, kelinci, dan hewan lainnya yang bisa segera menghilangkan lapar. Namun Pram, ia hanya bernafsu untuk makan ayam hutan.


"Entah apa yang terjadi pada gadis itu." kata Kharon dalam hati.


Maka, tak heran jika kini Pram memakan ayam hutan bakar itu dengan penuh semangat, seperti seorang yang telah menyimpan dendam terlalu lama. Ia merobek daging paha itu tanpa ampun, tanpa sisa. Ia bahkan merasa perlu untuk mengelamuti tulangnya. Pram tak peduli apakah itu adalah ayam hutan yang telah menakutinya ataukah itu ayam hutan lainnya yang bernasib siap. Yang pasti ia merasa puas karena dendamnya telah terbayar tuntas.


Tingkah Pram yang demikian membuat Kharon tak tega untuk memakan secuil pun daging ayam. Ia tak ingin membuat Pram menyisakan lapar di perutnya, meski kini perutnya hanya dipenuhi oleh udara.


"Makan, makan. Makanlah Kharon!" ucap Pram tanpa berhenti mengunyah.


"Sepertinya aku tidak sedang bernafsu untuk makan, Pram."


"Hei, kau harus bernafsu untuk menghabiskan ayam hutan ini. Dia harus menebus dosanya padaku. Ha..ha." Pram menyodorkan ayam bakar pada Kharon.


Kharon merasa Pram berbeda. Apa yang ia lakukan dan ucapkan benar-benar membuat Kharon semakin bingung.


"Aku telah berhasil membuka semua cakraku, Kharon." ucap Pram dengan nada yang lebih lembut setelah memakan habis ayam bakar bagiannya.


Kata-kata Pram barusan membuat Kharon meletakkan kembali dada ayam hutan bakar yang dipegangnya. Ia tak berkata apapun. Hanya diam dan menunggu Pram untuk melanjutkan ceritanya.


"Malam pertama di hutan ini benar-benar membuatku takut. Entah bagaimana suasana yang muncul sangat menyeramkan, termasuk suara kokok ayam hutan di tengah malam. Kau tertidur pulas, bahkan saat aku menjerit keras ketika ada lelaki tua tiba-tiba muncul, kau bahkan tak membuka matamu sedikit pun."


"Tapi,"


"Aku tahu kau takkan percaya, tapi memang itulah yang terjadi. Dan kau akan semakin tak percaya jika kukatakan padamu bahwa kau tidur selama tiga hari dua malam."


Kharon kali ini hanya mendengarkan dan tak berani menyela sedikit pun. Pikirnya, Pram tak mungkin berbohong. Dan mungkin itu sebabnya saat terbangun ia merasa sangat lapar. Tapi, ia tak mungkin tertidur selama itu jika tak sedang dimantra-mantrai. Jika memang begitu, tentu yang memantrainya adalah seorang yang sakti. Lantas, Kharon begitu cemas kalau-kalau semuanya adalah ulah Bemius. Namun, Kharon menahan semua praduganya dalam hati. Dan membiarkan Pram melanjutkan ceritanya.


"Kakek itu juga meminta kita agar segera menemukan buku 'Anak Purnama Ketujuh' agar aku bisa meningkatkan kemampuanku untuk melawan Bemius."


Kharon kali ini tersenyum lega. Ia mengambil kembali daging ayam hutan yang diletakkannya. Ia menghabiskan semua daging yang tersisa sama persis dengan yang dilakukan Pram. Melihat hal itu Pram tertawa kecil.


"Tunggu apa lagi, ayo kita ke Lembah Namea sekarang juga." Kharon berdiri penuh semangat.


"Kharon, bisakah kita ke suatu tempat sebelum ke Anastasia?" nada Pram sedikit tertahan.


***


Tidak ada yang berbeda. Semua perabotan tertata sama persis dengan yang terakhir kali ia lihat. Namun, suasana yang terasa sangat jauh berbeda. Begitu pengap, gelap, senyap, dan hampa. Ia bahkan tak menemui tanda-tanda kehidupan di sana. Sebaliknya, ia menemukan banyak jin jahat yang bersliweran menebar takut.


Pram menuju ke kamarnya dengan napas sedikit sesak. Dan dalam kamarnya itu ia mendapati aneka jin jahat dan siluman berjubel penuh sesak. Ada yang berwujud genderuwo, kuntilanak, pocong, wewe, kuda berkepala manusia, ular berwajah cantik, monyet berwajah manusia, dan lain sebagainya. Pram tak tahu apa yang akan mereka lakukan jika melihatnya di sana.


Ya, Pram memang pulang untuk melihat keluarganya. Ia tahu bahwa mata-mata Bemius telah menunggu di sana untuk menangkapnya saat ia kembali. Maka, ketika Kakek Putih memintanya segera menemukan buku "Anak Purnama Ketujuh", Pram menyampaikan maksudnya untuk pulang sejenak.


"Seraplah sari bunga padma raksasa dengan cara bermeditasi, jika kau berhasil akan muncul sebuah biji berwarna emas dan bunga langsung menguncup seketika itu juga. Letakkan biji tersebut di titik pusat cakra ajnamu dan katakan dalam hatimu kepada siapa kau tujukan biji itu. Setelah kau melakukannya, biji tersebut akan terserap dan menyatu dengan cakra mata ketigamu. Siapapun yang kau sebut tidak akan mampu melihat atau merasakan kedatanganmu. Tapi ingat, hal itu hanya berlaku 1x6 jam. Maka, saat urusanmu telah selesai, pergilah segera." begitu Kakek Putih menjelaskan panjang lebar tanpa kekeh sedikitpun.


Dan benar, kedatangan Pram tak mampu dilihat dan dirasakan antek-antek Bemius meski yang berilmu tinggi sekalipun.


Kreeek!


Pram mendengar pintu depan rumahnya terbuka. Ia bergegas keluar untuk melihatnya. Dan di balik pintu, ia melihat seorang lelaki muda dengan jas dan koper kecil di tangannya. Lelaki itu sangat kurus hingga tulang-tulangnya menyembul ke permukaan, tampak lingkaran hitam di sekeliling matanya. Lelah tersangkut jelas di wajahnya, di wajah saudara laki-lakinya, Ghozie.