After Death

After Death
Bab 178: Ingatan yang Hilang



Anak anak Shaman yang telah menjadi seperti generasi penerus Anathemus itu langsung lenyap senyumnya ketika mereka melihat banyaknya orang yang sedang terbaring lemah di atas tempat tidur. Wajah mereka secara otomatis langsung menjadi muram melihat orang orang yang meringis menahan kesakitan.


“Hei, Kak Ron, Kak Phil, bisakah kalian mengantar anak anak ini untuk sekadar melihat lihat saja di sekitar rumah rawat?” tanya Pram dengan suara lantang dan ceria, langsung menyita perhatian semua orang yang ada di rumah rawat satu, baik anak-anak itu ataupun para pasien.


Kharon dan Philemon sempat bingung mendengar intruksi Pram. Lalu, Pram memberikan isyarat dengan tangannya bahwa ia sudah mengubah rencana.


Semula Pram ingin mengajari anak anak itu untuk merawat orang orang yang sakit. Namun, melihat raut muka mereka yang mendadak sedih saat melihat orang orang sakit, Pram menjadi tidak tega.


Maka, kini yang akan dilakukan oleh anak anak itu hanyalah berjalan melihat lihat rumah rawat satu, dua, dan tiga sebentar saja. Lantas kembali ke rumah belajar mereka lagi.


Selama berkunjung ke rumah rawat, anak-anak hanya diam dengan wajah penuh tanda tanya. Mereka jelas bingung atas tingkah pasien yang kadang memanggil mereka 'anakku', ada yang mengaku sebagai Paman mereka, ada pula yang sampai menangis dan memeluk mereka.


Perlakuan dari para pesien yang seolah mengenal mereka, bahkan terlihat karib itulah yang membuat anak-anak berulangkali menoleh melihat Kharon dan Philemon. Seperti bertanya siapa para pasien itu.


Tentu saja para pasien di rumah rawat tidak sedang terganggu mentalnya sehingga bertingkah demikian pada anak-anak. Mereka memang mengenal anak-anak itu. Tapi kekejian Bemius dan kelompoknya telah memisahkan anak-anak itu dari keluarganya. Bahkan juga mengambil segala kenangan mereka.


Saat anak anak itu telah kembali ke rumah belajar mereka, wajah yang biasanya ceria dengan suara tawa atau teriakan khas anak anak, tidak ada lagi. Mereka semua kembali dengan wajah lelah dan tak bersemangat. Bahkan banyak di antara mereka yang kemudian memilih untuk tidur dan tak sempat makan terlebih dahulu.


“Semua, apa kalian lelah? Bagaimana kunjungannya? Apa kalian senang?" tanya Pram dengan semangat menyambut kedatangan murid-muridnya.


Tidak ada yang menyahut. Anak-anak menoleh ke arah Pram, lantas menghela napas panjang, tanpa mengatakan satu apapun.


Pram sedikit bingung saat menghadapi anak anak yang semula begitu periang berubah menjadi pemurung. Jangankan untuk tertawa atau tersenyum, mengatakan sesuatu dengan semangat saja tidak.


Tidak ada kejar kejaran, tidak ada ledekan, bahkan juga kemarahan.  Mereka hanya diam dan terkadang menjadi cukup kesal sebab apa yang mereka rindukan, tidak mereka ingat.


Pada akhirnya Pram yang tidak turut dalam mengantar anak-anak berkunjung ke semua rumah rawat hanya bisa diam. Sebetulnya ia tidak mengerti mengapa anak anak itu terlihat sedikit berlebihan dalam bersedih.


Anak anak pada umumnya tidak akan bersedih dalam waktu yang lama. Mereka biasanya selalu bisa mengatasi kesedihan mereka dalam sekejap saja, kemudian kembali riang seolah tidak pernah terjadi apa apa. Setidaknya begitulah anak anak semestinya.


Kharon yang menemukan kebingungan di wajah Pram, lantas mengambil alih komando. Ia mengatakan pada anak anak itu bahwa mereka bebas melakukan apa yang ingin dilakukan sebab pembelajaran diakhiri lebih awal.


Kharon dan Philemon kemudian mengajak Pram untuk pulang. Sepertinya mereka juga membutuhkan waktu untuk beristirahat setelah melewati hari hari yang melelahkan.


***


Di rumah Pram, Kharon membuat teh untuk dirinya sekaligus dua orang yang tengah berbincang di meja makan. Kharon meletakkan teh itu di meja. Lantas turut duduk menyimak pembicaraan.


“Kau jangan terkejut dengan perubahan ekspresi wajah anak anak. Mereka seperti itu karena Bemius telah menghapus ingatan mereka. Mereka sama sekali tidak ingat siapa orang tua atau keluarga mereka.


Itu sebabnya saat mereka melihat wajah orang orang Shaman yang mungkin pernah mereka lihat, ada kebingungan yang melanda pikiran mereka. Terlebih saat para pasien menunjukkan perhatian dan kasih sayang kepada mereka.


Hal itu memunculkan rasa kehilangan yang sangat dalam. Tapi mereka tak tahu, mereka kehilangan apa. Dan itulah yang justru membuat mereka tidak bisa tersenyum.” kata Philemon menjelaskan.


“Banyak. Ada banyak drama dan tangisan. Orang tua yang menangisi anaknya, paman yang menangisi keponakannya, juga nenek yang menangisi cucunya, serta yang lain sebagainya. Tapi mereka bisa mengerti setelah kami menjelaskannya.” kata Philemon lagi.


“Lalu apa yang harus kita lakukan?”


“Walau bagaimana pun jurus itu tidak akan bisa menghilangkan rasa sayang. Kita tidak perlu terburu buru. Walau membutuhkan waktu lama untuk membuat semuanya kembali seperti sediakala, tidak masalah. Kita arahkan mereka untuk kembali. Aku yakin suatu saat mereka akan mengingat semuanya dan akan mengetahui kebenaran yang terjadi.” kata Philemon panjang lebar.


Pram mengangguk mengerti. Ada kesedihan yang turut ia rasakan setelah mendengar semua penjelasan Philemon.


Pram kemudian menceritakan semua yang terjadi sebelum anak anak itu memasuki rumah rawat. Bagaimana ekspresi Raja Ramadhana saat mengetahui bahwa selama ini Bemius telah memfitnahnya, tentang pertanyaan lugu dari anak anak, dan lain sebagainya.


Philemon tersenyum. Ia mengerti jika ayahnya pasti kini tengah berpikir keras. Mengingat semua ucapan anak anak itu, serta memikirkan bagaimana caranya agar anak anak itu mengetahui dan mempercayai kebenaran sesungguhnya.


“Biarkan saja Raja Ramadhana sendiri dulu. Aku yakin paduka akan baik baik saja. Paduka raja hanya terkejut atas apa yang terjadi. Raja Ramadhana memerlukan waktu untuk sendiri saja. Setelah ini pasti paduka akan bisa lebih mengerti dan memahami keadaan yang sedang dialami anak-anak. Sehingga menjadi lebih kuat lagi.” Kharon memberi saran, mencegah Philemon yang hampir pulang untuk menenangkan Raja Ramadhana.


***


Pram, Kharon, dan Philemon sepakat akan mengajari anak anak dari penjara lapang untuk merawat para mantan tahanan dari penjara kotak dan penjara goa. Mereka diajari cara membantu para pasien yang masih memerlukan pendampingan itu. Mulai dari makanan, obat, dan lain sebagainya.


Setelah semua anak mengerti materi yang disampaikan, Philemon membagi anak anak itu ke dalam beberapa kelompok sesuai dengan tugas masing masing.


Anda yang tergabung dalam kelompok farmasi, kelompok perawat, koki, dan lain sebagainya. Mereka semua membantu Pram, Kharon, dan Philemon dalam menyelesaikan semuanya.


Pram dan kawan kawan awalnya sempat khawatir jika suatu saat anak anak itu akan menanyakan kapan mereka bisa kembali ke Shaman. Tapi ternyata kesibukan dan keseruan mereka di Pulau Amsleng Sufir Matdrakab tidak mengizinkan mereka untuk sekadar ingat pada tempat mereka dimanjakan dalam penjara dulu.


Pram berharap sedikit demi sedikit anak anak korban kekejian Bemius itu akan menghilangkan semua prasangka buruknya kepada Raja Ramadhana. Juga lupa pada semua hal hal buruk yang telah dipelajari selama ini dari anak buah Bemius.


Pram tersenyum membayangkan masa masa indah itu tiba hingga ia tak sadar kalau Kharon sedang bertanya padanya, kemana dia akan pergi. Pram berjalan melewati Kharon dan Philemon begitu saja.


Melihat tingkah Pram yang demikian ceria dan seringkali melompat lompat, Membuat Kharon tersenyum lega. Selama perang melawan kerajaan Anathemus, Pram seperti telah kehilangan senyumnya sehingga selalu saja serius dalam banyak pikiran.


Walau Kharon tahu perjuangan mereka masih sangat berat, pada saatnya harus kembali berperang melawan Bemius dan para jin hitam, siluman harimau itu yakin bahwa bagaimanapun susahnya perjuangan itu, kebenaran pasti akan menang.


 


\=\=\=\=\=


Halo halo setelah sekian ribu purnama novel ini mangkrak begitu saja, bismillah author bisa segera menuntaskan kewajiban mengkhatamkan kisah Pram dan Kharon ini... Terima kasih untuk yg masih (barangkali) menunggu kelanjutan After Death ini 😁


Salam bahagia selalu....