
Pram dan Kharon dapat melewati Danau Orakel dengan selamat. Ilusi yang mereka buat benar-benar membuat ikan-ikan kanibal itu berhalusinasi.
Kharon mengeringkan tubuhnya dengan mudah. Ia menyatukan kedua telapak tangannya. Lalu menarik napas panjang dan menghembuskannya ke badan.
Pram menirukan apa yang dilakukan khodamnya, dan seketika itu pula ia langsung bisa. Benar kata sang kakek guru, membuka ketujuh cakra akan membuat Pram lebih mudah dalam menguasai jurus atau ilmu-ilmu baru, bahkan hanya dengan melihatnya.
Kharon lantas merasuk kembali ke tubuh Pram. Setelah beberapa langkah berjalan, ada seorang perempuan berambut panjang berwarna pirang menghampiri. Perempuan itu menggunakan gaun menjuntai panjang berwarna keperakan. Tampak kilauan sinar keemasan yang terpancar darinya. Ia juga memiliki bau seperti bau bunga Sweet Alyssum
Bunga Alyssum atau Lobularia maritima merupakan tanaman berbunga pendek yang tingginya hanya berkisar 30 cm saja. Batangnya bercabang banyak membentuk klaster bunga yang kecil-kecil dan padat. Tanaman ini berasal dari wilayah Mediterania, Macaronesia (Kepulauan Canary, Azores) dan Prancis tepatnya di Teluk Biscay. Alyssum banyak ditemui di daerah pantai dan bukit berpasir, ia juga biasa dijumpai di ladang dan lereng bukit. Warna bunga tersebut bermacam-macam, yakni pink, putih, kuning, krem hingga ungu. Aromanya sangat khas, manis menyerupai aroma pada madu yang bisa membuat orang yang menghirup merasa lebih rileks. Beberapa orang bahkan percaya, menanan alyssum di halaman rumah dapat menangkis mantra-mantra jahat. Orang-orang yang percaya akan manfaat magis alyssum biasanya juga menyimpan tangkai alyssum di kerah atau saku untuk memberi perlindungan kepada seseorang dari kemarahan.
"Apa kau Kharon?"
Kharon keluar dari tubuh Pram.
"Perkenalkan, akulah Kharon." kehadiran siluman harimau putih yang mendadak itu memunculkan kaget di wajah Dewi Thalassa.
"Maafkan aku jika membuatmu terkejut."
"Aku mengerti, energimu sedikit berbeda." Dewi Thalassa sedikit terkesima menjumpai wajah rupawan Kharon. Ia tersenyum dan meminta tamunya untuk mengikutinya.
Dewi Thalassa mempersilakan Pram dan Kharon untuk duduk di kursi kayu yang terbuat dari akar pohon gaharu. Pram memandangi sekelilingnya takjub. Ia merasa berada di taman bunga yang sejuk dan rindang, tanpa sampah, asap, dan klakson kendaraan.
Dewi Thalassa mempersilakan Pram dan Kharon menikmati teh hijau dan beberapa potong macaron. Pram dengan sigap memakan kue dan meneguk teh hingga cangkirnya kosong. Semenjak berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain, dari hutan satu ke hutan lain, Pram merasa telah menjadi karnivora sepenuhnya. Maka, makanan favoritnya saat masih hidup di Bumi itu lekas-lekas ia habiskan.
Kharon memandang Pram. Mulutnya sampai ternganga melihat Pram makan begitu cepat. Dewi Thalassa pun tersenyum gembira melihat suguhannya disantap dengan lahap.
"Apa?" Pram merasa tak nyaman dengan tatapan Kharon.
"Macaron itu aku sisakan untukmu. Makanlah." Pram menunjuk sebuah macaron berwarna kuning yang tersaji di atas piring putih dengan ornamen bunga.
"Makanlah kalau kau mau." ucap Kharon. Ia tahu bahwa Pram masih menginginkan kue itu.
"Baiklah jika kau memaksa."
Tangan Pram mencomot macaron yang tersisa. Membuat piring putih itu benar-benar kosong.
"Apa kau akan membiarkan tehmu dingin?"
"Minumlah kalau kau mau."
"Baiklah." kini Pram juga membuat cangkir di depan Kharon kosong.
"Maafkan temanku, Dewi Thalassa. Dia memang payah soal menyenangkan orang lain karena dia terlalu jujur. Kau tahu kan dia ini aaargh, yang seperti ini dia tak suka."
"Sepertinya semenjak semua cakranya terbuka, Pram menjadi pribadi yang lebih bebas dan terbuka. Maafkan dia kalau membuatmu tak makan siang hari ini."
"Apa kalian selalu selucu ini?"
Pram dan Kharon tersenyum mendengar pertanyaan Dewi Thalassa.
"Dewi Thalassa, kau tentu sudah mengetahui maksud kami ke sini. Aku sungguh menyesal karena telah mengganggu kedamaianmu dan bahkan mungkin akan sangat merepotkan. Tapi, kami benar-benar membutuhkan pertolongan."
Pram menatap Kharon penuh kagum. Ia tak mengira bahwa lelaki kasar itu bisa demikian santun. Dan sesaat kemudian kekaguman itu berubah menjadi dongkol sampai membuatnya enggan melihat wajah Kharon.
"Mengapa ia tak pernah begitu padaku. Aku bahkan seperti tong sampah yang selalu menampung omongan recehnya." kata Pram dalam hati.
Dewi Thalassa tak menanggapi perkataan Kharon. Ia malah beranjak dari tempat duduknya dan masuk ke dalam rumah. Membiarkan Kharon gelisah.
Mengapa kau tak pernah bicara selembut itu padaku?"
"Setelah dari sini, kau beristirahatlah. Tak tidur empat hari membuat bicaramu ngelantur."
"Aku, ngelantur? Kau yang ngawur! Apa karena kau suka pada dewi pembuat macaron itu?"
"Sangat receh." kata Kharon sambil menggeleng.
Sebelum Pram meluapkan emosinya, Dewi Thalassa datang kembali membawa satu piring penuh macaron dan sebotol air jernih.
Pram sendiri merasa dirinya berbeda. Entah bagaimana, segala tingkah dan ucapan Kharon menjadi begitu mempengaruhi emosinya. Ia bahkan sering menyesali tindakan dan omongannya kemudian.
Dewi Thalassa meletakkan apa yang dibawanya dan mempersilakan tamunya untuk menikmati.
Ia menarik napas panjang lantas memulai ceritanya
"Mungkin kalian telah mengetahui penyebab diriku bisa tinggal di sini. Aku tak ingin menggunakan kemampuanku untuk terlibat dalam peperangan, apapun itu. Aku minta maaf, bukannya aku hendak berperilaku tak sopan, tapi aku tak pernah menerima tamu yang hatinya diselimuti kebencian.
Mulanya, saat membaca pesan Eliztanu, aku ingin memberikan jawaban bahwa aku tak bisa membantu. Tapi aku tahu Eliztanu, ia tak mungkin memiliki teman yang tidak baik."
Perkataan Dewi Thalassa membawa ingatan Kharon pada peri Eliztanu. Mengingat semua kebaikkan peri penjaga hutan itu serta kemalangan yang baru saja menimpanya.
"Namun, saat kalian tiba di Lembah Namea, aku merasakan energi yang positif, sangat hangat, dan terus terang membuat perasaanku menjadi lebih gembira. Aku belum pernah menemui pancaran energi yang seperti ini sebelumnya." Dewi Thalassa melanjutkan ceritanya.
"Hem, air apa ini?" tanya Pram memecah keseriusan suasana.
"Ini air murni yang kubawa dari negeriku dulu. Air ini bisa meningkatkan energi dalam tubuh kita. Rasanya memang sedikit unik. Minumlah, Pram."
"Sungguh demi kedamaian di Lembah Namea, kami bersumpah bahwa kami tidak menginginkan peperangan."
Pram menangkap keseriusan di wajah Kharon. Ia kemudian meletakkan botol dan sepotong macaron hijau dari tangannya.