
Tak ada satu pun pohon atau tanaman yang hidup. Semua telah layu dan mengering. Aliran sungai yang biasanya selalu menjadi melodi ritmik persembahan alam, sudah tidak ada lagi. Semua telah kering. Bangunan-bangunan megah yang biasanya berjejer rapi dan gagah, sudah porak poranda, menyisakan puing-puing yang ringkih dan menyedihkan. Tidak pernah ada matahari, yang ada hanya awan hitam yang tidak pernah menjadi sumber hujan.
Seluruh kota hingga pelosok desa tampak sepi dari aktivitas penduduk Shaman sebagaimana biasanya. Jalan-jalan lengang tanpa ada mobilitas kendaraan bermotor. Laboratorium yang tidak pernah libur dari kegiatan penelitian juga terlihat sepi. Shaman benar-benar seperti sudah mati. Jika dilihat dari jauh, sudah sangat sulit menemukan kehidupan di negeri itu. Kalaupun masih ada, hanya jin-jin dan siluman hitam yang telah menggeser keberadaan penduduk asli.
Ya, sejak peristiwa penyerangan yang dilakukan Bemius dan para pengikutnya beberapa waktu lalu, yang menyebabkan para petinggi negeri dan panglima, juga pengawal kerajaan gugur, Shaman benar-benar telah diambil alih. Terlebih Raja Ramadhana yang selama ini menjadi pelindung utama negeri itu dari segala keburukan dan kejahatan, juga telah pergi dan tak kunjung kembali.
Shaman menjadi sangat kelabu. Banyak jamur aneka rupa dengan bau yang menyengat tak sedap tumbuh di segala tempat. Burung gagak menjadi satu-satunya binatang yang masih tetap ada. Mereka menikmati mayat-mayat jin, siluman, juga hewan yang berserakan seperti rontokan daun kering pada musim gugur. Burung-burung itu bahkan tinggal dengan leluasa di atas rumah para penduduk yang telah ditahan.
Seluruh penduduk Shaman dikumpulkan dan ditahan di dalam penjara. Ada tiga jenis penjara yang telah disediakan oleh para pengikut Bemius, yakni penjara kotak, penjara goa, dan penjara lapang.
Penjara kotak adalah penjara yang dikhususkan untuk para petinggi dan pengawal kerajaan, juga para penduduk Shaman yang dianggap memiliki ilmu yang cukup tinggi. Penjara ini seperti Penjara Urga yang ada di Mongolia, sangat mengerikan, kejam, dan sadis. Bagaimana tidak, setiap jin atau siluman dipenjara dalam sebuah kotak kayu berukuran 1x1,2 meter. Kotak itu tertutup rapat, hanya ada lubang kecil berdiameter 6 inchi atau cukup untuk sebuah kepala menyembul keluar. Tepat di bawah lubang itu, menempel sebuat papan kayu dengan luas 10x20 cm. Karena kotak tersebut sangat kecil, para tahanan akan tidak nyaman untuk duduk atau berbaring, terlebih kedua tangan mereka juga diikat. Kotak itu tidak pernah dibersihkan. Sehingga kotoran para tahanan tetap ada bersama mereka. Tidak berhenti sampai di situ, makanan yang diberikan sehari satu kali merupakan makanan yang hampir busuk. Makanan itu diletakkan di atas papan kayu di bawah lubang ventilasi. Para tahanan harus mengeluarkan kepala mereka untuk bisa makan langsung dengan mulut, seperti binatang. Bemius sengaja membiarkan mereka mati dengan sendirinya. Tidak perlu menghabiskan energi untuk memukuli dan lain sebagainya.
Penjara goa adalah penjara yang dibuat untuk penduduk Shaman yang biasa-biasa saja dengan kategori remaja hingga tua. Dalam penjara itu para tahanan menerima perlakuan yang tidak kalah ektrem dengan perlakuan yang diberikan kepada tahanan di penjara kotak, apa yang dilakukan Bemius dan para pengikutnya pada tahanan juga sangat tidak beradab. Para penduduk Shaman dikumpulkan di sebuah goa yang selalu digenangi air. Mereka penuh sesak di dalam goa yang pengap dan gelap, dengan tubuh yang selalu terendam air. Airnya pun bukan air biasa, melainkan seperti air comberan dengan bau busuk khas bangkai tikus. Mereka yang sudah lelah berdiri tetap menguatkan diri untuk berdiri, karena jika mereka duduk bukan hanya akan terganggu dengan bau busuk air, tetapi juga akan tenggelam dan mati. Selain itu, karena saking padatnya kapasitas penjara, para tahanan bahkan tidak jarang saling menginjak, terkadang jatuh tersenggol, dan yang sudah pasti mereka alami adalah tidak bisa berpindah tempat alias selalu statis, diam di tempat. Sedangkan soal makan, makanan diberikan dengan cara dilempar, sehingga para tahanan berebut seperti ikan lele yang menunggu lemparan pelet. Saat kelaparan benar-benar tak tertahan, tidak sedikit tahanan yang memunguti makanan yang jatuh ke dalam genangan air busuk, lalu memakannya dengan berlinang air mata. Namun, tidak sedikit pula tahanan yang memilih untuk mengakhiri hidupnya dengan cara menenggelamkan diri karena tidak kuat dengan perlakuan yang diberikan. Sehingga aroma dalam penjara menjadi semakin busuk, karena mayat-mayat penduduk dibiarkan mengapung di dalamnya. Bahkan terkadang, tahanan yang masih hidup terpaksa mengginjak mayat-mayat itu hingga terbenam ke dasar goa agar penjara tak semakin sesak.
Antara penjara kotak, penjara goa, dan penjara lapang letaknya sangat berjauhan. Hal itu untuk mengurangi risiko komunikasi dengan batin atau telepati. Seluruh penjara dilingkupi dengan selubung anti sihir. Sehingga individu yang sakti dan berilmu tinggi sekalipun tidak dapat menggunakan ilmu mereka di dalam penjara.
Semua kekejian Bemius semata-mata dilakukan untuk memancing ayahnya keluar dari persembunyian. Ia sebetulnya tidak peduli apakah penduduk Shaman bahagia atau menderita, ia tak ada urusan tentang itu. Semua menjadi terkait karena ia sangat menginginkan jantung ayahnya, dan sang ayah begitu menyayangi seluruh rakyatnya.
Ya, kini tujuan utama Bemius bukan lagi mendapatkan buku Anak Purnama Ketujuh, atau menangkap dan menghabisi Prameswari, misi pokoknya kali ini adalah mendapatkan jantung Raja Ramadhana untuk dimakan mentah-mentah tanpa sisa, tanpa sesal. Sehingga ia turun langsung dalam penghancuran Shaman dan penduduknya. Sedang untuk misi-misi lainnya, ia serahkan kepada kaki tangannya.
Selama penduduk Shaman berada dalam penjara, telah banyak sekali yang meninggal. Terhitung hingga hari kedua dalam penjara, total kematian mencapai 237 jiwa. Dengan rincian, korban penjara kotak 55 jiwa, 158 korban yang meninggal di penjara goa, dan sisanya anak-anak yang meninggal sebanyak 24 jiwa karena terlalu asyik bermain hingga lupa makan dan beberapa yang sengaja dibunuh karena terus melawan dan tidak mau memanggil Bemius dengan sebutan raja.
Hari ini Bemius membebaskan para pengikutnya untuk memilih tempat tinggal baru di Shaman, mengambil alih aset tak bergerak yang ditinggal pemiliknya ke penjara. Oleh sebab itu, langit Shaman ramai daripada biasanya, para jin hitam dan siluman bersliweran membawa koper.
“Ayah, cepatlah pulang. Semua hadiah ini aku buat khusus untukmu, orang yang selalu menginginkan kematianku. Hanya untukmu. Aku yakin kau akan sangat terkejut melihat ini.” kata Bemius dalam hati sambil tersenyum tipis dan mengusap sedikit air yang ada di pipinya.