
Malam semakin dingin, atau sebenarnya hari telah pagi. Namun masih terlalu pagi untuk bangun. Di saat-saat seperti itu biasanya seseorang justru berada dalam kondisi paling nyenyak dalam tidur. Tapi tidak demikian dengan Pram dan Kharon yang kini terjebak dalam keheningan. Angin dini hari yang berhembus menambah udara terasa semakin dingin. Angin tersebut kadang kencang hingga menggerakan gorden, tapi kadang juga pelan, hanya menggerakkan rambut Pram yang terurai. Membuat Pram beberapa kali terlihat sibuk merapikannya.
Baik Pram maupun Kharon hanya diam saling menunggu lawan bicara memulai percakapan. Mereka terjebak dalam keheningan dialog yang selalu membuat pelaku yang terlibat merasa tidak nyaman dan cenderung gelisah.
Selain sama-sama diam, Pram dan Kharon juga tak berani saling memandang atau sekadar mengangkat kepala melihat hal-hal di sekitar. Keduanya kini sama-sama tertunduk. Dikuasai rasa malu, canggung, sekaligus cinta.
Kharon menguatkan diri untuk mengangkat cangkir di hadapannya lalu meminumnya. Teh yang tadinya sedikit panas itu, kini telah menjadi dingin sebab terlalu lama dianggurkan setelah dibuat. Sementara itu, Pram masih diam. Ia tidak juga meminum teh di depannya.
“Maafkan aku Pram, jika ada yang tidak benar dari ucapanku dan membuatmu merasa tidak nyaman dan kesal.” kata Kharon lirih sambil kembali menunduk. Seteguk teh membuat tenggorokannya yang terasa sangat kering menjadi sedikit basah.
“Tidak Ron. Kau selalu membuatku bahagia. Aku selalu nyaman berada di dekatmu. Aku yang minta maaf jika mungkin tanpa sengaja telah melukai perasaanmu. Tapi sungguh aku tidak pernah berniat untuk melakukannya. Karena kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku juga.” kata Pram masih dengan kepala menunduk. Pram memutar-mutar cangkir di depannya untuk menyalurkan segala kegelisahannya.
Entah bagaimana ucapan Pram barusan bisa membuat Kharon merasa sangat senang. Ia pun tidak bisa menahan untuk tidak tersenyum. Kharon meraih tangan Pram yang masih khusyuk memainkan cangkir. Lantas menggenggamnya. Membuat Pram mengangkat kepalanya dan memandang Kharon yang kini juga tengah memandangnya. Kharon tersenyum dan mengelus tangan Pram dengan ibu jarinya.
“Minumlah, Pram. Meski sudah tidak hangat lagi, teh serai akan tetap menghangatkan tubuhmu.” lirih Kharon berkata.
Pram pun tersenyum. Ia lantas mengangkat cangkir teh yang sedari tadi ia mainkan. Kemudian, Pram meminum teh tersebut dengan khidmat.
“Bagaimana? Apa kau suka?” tanya Kharon sebab ini kali pertama ia membuatkan teh serai untuk Pram. Biasanya ia hanya membuatkan teh biasa atau kalau tidak begitu Pram memintanya untuk dibuatkan kopi.
Pram hanya mengangguk dan tersenyum tanpa mengucapkan satu kata pun. Ia terus memandang lelaki yang ada di hadapannya itu. Entah bagaimana Pram selalu merasa di balik sikap dan perkataan Kharon yang cenderung tak lembut itu, tersimpan sebuah hati yang sangat baik dan tulus. Kharon selalu saja dengan mudahnya mengabaikan perasaannya sendiri demi orang lain.
Masih tergambar jelas bagaimana lelaki itu begitu mengabaikan perasaannya saat Kharon menyangka dirinya masih mencintai Dante. Tidak pernah sekalipun Kharon berbicara soal perasaannya. Lelaki itu terus saja ceramah soal keselamatannya. Dan tentu saja, untuk lelaki sebaik Kharon, Pram akan melakukan apapun agar mereka bisa tetap bersama. Ia tidak ingin kehilangan siluman harimau putih itu.
“Emm, Pram, bisakah kau berhenti menatapku begitu. Aku jadi kikuk karenanya.” Kharon beberapa kali memegangi lehernya.
“Mengapa kau menjadi kikuk? Aku kan kekasihmu. Kita bahkan sudah pernah berciuman. Kau tidak lupa kan? Sebab itu ciuman pertamamu.” kata Pram tanpa sedikit pun menggeser pandangannya. Ia masih ingin mengagumi Kharon yang bisa dengan mudah berkorban.
“Yaaa, memang. Tapi aku tak bisa menerima pandangan semacam itu. Itu membuatku tidak nyaman.” Kharon terus menunduk dan tidak berhenti memegangi lehernya.
“Memangnya menurutmu padangan seperti apa yang aku lakukan ini? Dan bagaimana bisa kau menjadi tidak nyaman hanya gara-gara seseorang sedang memandangmu?” Pram mendekatkan wajahnya kepada Kharon. Ia bahkan merendahkan tubuhnya demi bisa melihat wajah Kharon yang tertunduk.
“Pram, mengapa kau sangat keras kepala?” kali ini Kharon memandang wajah Pram dengan wajah dikesal-kesalkan.
Pram menarik wajahnya dan kembali duduk tegak. Ia juga tak lantas menjawab atau menanggapi pertanyaan Kharon. Ia malah menyeruput kembali teh di hadapannya dan juga memasukkan beberapa potong pisang karamel keju ke dalam mulutnya. Kemudian, ia juga menyodorkan kudapan itu ke mulut Kharon.
“Buka mulutmu dan makanlah.” Pram tersenyum. Menunggu Kharon menerima suapan darinya.
“Dan aku memotongnya untukmu. Makanlah.” akhirnya Kharon pun membuka mulutnya dan memakan suapan dari Pram. Ia hafal benar bahwa berdebat dengan Pram hanya akan membuatnya lelah tanpa kemenangan. Karena yang terjadi pada akhirnya seperti yang Pram inginkan.
“Harus berapa kali aku bilang padamu. Kau juga mesti memperhatikan dirimu. Jangan selalu melakukan sesuatu untuk orang lain. Kau juga berhak menerima semuanya.” Pram kembali menyuapi Kharon dengan air mata yang tak bisa ia tahan lagi.
Kharon tak mengerti mengapa Pram menjadi sedikit aneh. Tingkahnya menjadi begitu manja dan terkadang menjadi begitu sentimentil. Perempuan itu juga terkadang berceloteh soal ini itu yang sebetulnya terkadang menyinggung apa yang ia rasakan. Kharon menjadi ragu. Ia khawatir Pram telah mengetahui apa yang sedang ia rasakan.
“Sudah, aku sudah hampir menghabiskannya.” Kharon menghalangi sendok yang disodorkan Pram dengan tangan kirinya. Sementara tangan kanannya sibuk menutupi mulutnya.
“Makanlah sampai habis, Ron. Lihatlah kau terlihat sangat kurus sekarang karena terlalu sibuk memikirkanku dan lupa memikirkan dirimu sendiri.” Pram tak meletakkan sedok yang ia sodorkan. Ia tetap mendorong sendok itu sampai menabrak telapak tangan Kharon.
Kharon mengambil sendok itu dari tangan Pram. Lantas mengambil kudapan itu dari sendok dengan tangannya. Ya, Kharon kini menyodorkan potongan pisang karamel keju terakhir ke mulut Pram, tapi bukan dengan sendok, melainkan dengan tangannya langsung. Dan Pram melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan Kharon, yakni menghalangi suapan tersebut dengan telapak tangannya. Maka tangan kedua orang yang saling mengasihi dengan begitu tulus itu pun bertemu dan saling dorong-mendorong hingga membuat potongan terakhir itu terombang-ambing ke kanan dan ke kiri.
“Bukalah mulutmu, Pram. Biarkan yang terakhir ini untukmu. Seperti cintaku, kau adalah yang terakhir untukku. Sampai kapanpun, aku tidak akan bisa berhenti berlebihan mengkhawatirkanmu, berhenti memikirkan keselamatanmu, berhenti berusaha membahagiakanmu, dan lain-lain. Aku tidak pandai berbual soal cinta, Pram. Inti dari semua perkataanku yang tidak penting barusan adalah aku sangat mencintaimu, sampai aku tak tahu seberapa besar cinta itu, sebab tak ada benda raksasa sekalipun yang bisa mewakili takarannya.”
Kharon seperti orang kesurupan meluapkan isi hatinya. Kata-kata itu seperti biasa, menyembul begitu saja tanpa terkontrol. Padahal ia sempat berpikir untuk membuat Pram lebih dekat dengan Philemon. Lantas, jika ia mengatakan semua perasaannya itu dengan begitu gamblang, bagaimana bisa Pram akan berpaling.
Semua celoteh Kharon jelas saja langsung membuat Pram berderai air mata. Semua kata-kata itu jelas menerangkan betapa besarnya Kharon menyimpan cinta untuknya. Namun, bagaimana mungkin lelaki itu sempat berpikir untuk melepasnya. Apakah ia tidak berpikir tentang rasa sakit yang akan ia derita karena telah melakukannya? Pram selalu bertanya, terbuat dari apa hati pria kasar yang ada di hadapannya itu.
Pram membuka mulutnya dan menerima suapan dari tangan Kharon dengan senyum haru. Kharon pun tersenyum melihat Pram menerima suapan tangannya. Jari jempol dan telunjuk Kharon lantas mendarat di samping kanan bawah bibir Pram, memungut secuil keju yang tercecer dan memakannya.
“Tetaplah menjadi Pram yang seperti ini. Selalu bahagia dan ceria, serta apa adanya. Aku selalu berharap bisa selalu ada di sampingmu hingga akhir hayatku. Memastikan kau selalu bahagia dan baik-baik saja.” kata Kharon kemudian, dengan nada yang lebih lirih. Membuat Pram mengangguk-angguk.
Kharon mengusap seluruh air mata dari wajah Pram dengan tisu di meja.
“Sudahlah, berhentilah menangis atau kau akan menghabiskan semua tisu ini.” ucap Kharon membuat Pram tertawa kecil.
“Lihatlah betapa repotnya aku harus mengusap air mata dan juga ingusmu. Kau ini, memang sangat merepotkan.” Kharon sengaja beberapa kali mengelap wajah Pram dengan agak keras, sambil memasang muka seperti ibu-ibu yang kesal mengetahui harga barang di toko lain lebih murah daripada di toko tempatnya membeli barang.
Pram lantas berdiri dan memeluk lelaki yang ada di hadapannya. Ia juga mengelus dan mengecup kepala Kharon.
“Apapun yang terjadi, jangan pernah berpikir untuk meninggalkanku. Aku tidak akan sanggup menahan sakitnya kehilangan cinta yang selalu aku jaga. Aku akan sangat hancur dan tidak akan ada obat untuk semua itu. Aku sudah tidak bisa mencintai lelaki lain. Kehilanganmu sama artinya dengan menderita untuk selamanya. Membayangkannya saja aku tak kuat, apalagi jika hal itu sampai benar-benar terjadi. Aku sudah sangat terlanjur mencintaimu, Ron. Sangat mencintaimu. Berhentilah berpikir receh.” ucap Pram lirih. Membuat wajahnya kembali penuh oleh air mata.
“Berhentilah menangis atau kau akan membuat rambutku basah kuyup karena air matamu itu.” kata Kharon sambil berdiri. Ia kembali membersihkan muka Pram dari air mata dan ingus. Kali ini dengan tangannya.
Ia mengelap semuanya dengan sangat lembut. Hari itu dalam hatinya Kharon membulatkan tekad untuk mempertahankan hubungan mereka dan menjelaskan kepada Philemon tentang semuanya. Apa adanya, tanpa tabir.