After Death

After Death
Bab 135: Niat Mundur



Sore ini Pram seperti biasa berkeliling pulau Amsleng. Namun, kali ini ia hanya ditemani Raja Ramadhana dan Philemon. Sedangkan Kharon, khodamnya itu masih tidak beranjak dari pembaringan.


Pram mulai sadar bahwa Kharon adalah segala tempat baginya untuk mengekspresikan diri. Ia bisa bermanja, marah, bergurau, bercerita santai, mengekspresikan rasa cintanya, kesalnya, dan lain sebagainya dengan Kharon. Kini Pram merasa jalan-jalan sorenya sangat menjemukan dan sama sekali tidak menyenangkan tanpa kehadiran khodamnya itu.


Sebetulnya, Pram sudah tidak sabar untuk menghampiri Kharon dan lekas-lekas ingin membangunkannya sebelum berangkat jalan-jalan. Namun, ia mengingat pesan Kharon untuk tidak membangunkannya terlebih dahulu. Maka, Pram pun berusaha dengan sangat keras agar tidak mengusik khodamnya itu, dan mencoba untuk lebih sabar menunggu Kharon bangun atas kemauannya sendiri. Ia khawatir Kharon memang merasa tek enak badan karena kurang tidur.


Baik Raja Ramadhana ataupun Philemon sama-sama merasa bahwa Pram sedang tidak senang. Gadis itu terlihat lebih diam dan murung. Hanya sesekali saja Pram tersenyum. Itu pun dengan senyum yang tidak sesungguhnya. Padahal biasanya jalan-jalan sore tidak pernah sepi, sebaliknya pasti selalu gaduh, sebab Pram terus mengoceh tanpa jeda dan seperti tidak pernah kehabisan kata-kata. Apa saja yang terlihat olehnya akan ia komentari. Selalu dengan suara melengking. Dan sekarang melihat Pram begitu murung membuat kedua lelaki itu kebingungan harus berbuat apa. Mereka telah mencoba beberapa hal dengan harapan akan mampu mendatangkan kebahagiaan untuk Pram. Namun, Pram hanya tersenyum saja dengan senyum yang jelas-jelas dipaksakan, tanpa atau dengan komentar sekenanya saja.


“Pram, apa sebenarnya yang telah mengganggu pikiranmu hingga kau terlihat sangat sedih, nak?” tanya Raja Ramadhana setelah ketiga orang itu mendarat di pinggir pantai mengantarkan matahari kembali pulang ke peraduannya.


“Tidak, paman. Tidak apa. Aku mungkin sedikit lelah saja. Latihan demi latihan yang setiap hari setiap saat aku lakukan, mulai terasa akibatnya di tubuh ini.” kata Pram sambil tersenyum. Ia sengaja berbohong agar Raja Ramadhana tak mengkhawatirkannya.


“O, kalau begitu, ayo kita lekas pulang saja.” kata Philemon sambil berdiri.


“Tidak apa, Phil. Kita tunggu hingga matahari terbenam saja dulu. Paman selalu menyukainya. Iya kan Paman?” tanya Pram sambil memasang senyum. Ia tidak ingin melihat sang raja kecewa karena telah datang di tempat itu dan pulang tanpa melihat matahari terbenam.


“Tidak apa, nak. Kesehatanmu lebih penting daripada melihat matahari terbenam. Lagipula aku bisa melihatnya lagi di hari yang lain.” kata sang raja sambil mengelus kepala Pram lantas turut berdiri dan mengibas pelan pakaiannya yang ditempeli beberapa butir pasir.


“Tidak paman. Haaaaah, aku akan berbaring sebentar di sini hingga matahari sudah tidak ada lagi.” Pram berkata sambil merebahkan tubuhnya di atas pasir putih. Ia lantas memejamkan mata. Membuat wajah Kharon semakin tergambar jelas di pikirannya.


Tingkah Pram itu membuat kedua laki-laki yang sedang berdiri di pinggir pantai kembali duduk. Kemudian Raja Ramadhana dan Philemon segera mengikuti tingkah Pram. Merebahkan diri di atas pasir putih pantai, mengapit Pram yang berbaring di tengah-tengah mereka. Namun, hanya Raja Ramadhana yang terpejam. Philemon tidak memejamkan matanya. Ia menoleh ke kiri, memandangi wajah ayu Pram. Philemon melihat ada gurat kesedihan yang tengah disembunyikan Pram. Ia lantas mengubah posisi tubuhnya yang terlentang menjadi miring, berbaring menghadap ke arah Pram.


Philemon mengelus kepala Pram. Membuat gadis itu terkejut dan refleks membuka mata lantas menoleh ke arahnya.


“Pejamkan matamu, Pram. Tidurlah. Aku akan mengelus kepalamu agar kau lekas tidur. Nanti aku akan menggendongmu pulang.” kata Philemon lirih namun masih terdengar oleh sang raja. Membuat ayahnya itu tersenyum senang namun tetap diam tidak berkata apapun, juga tetap memejamkan mata.


“Tapi....” Pram merasa tak enak, karena biasanya yang akan mengelus kepalanya saat ia mengalami kesulitan untuk tidur adalah Kharon. Dan baginya tidak ada yang bisa menggantikan Kharon.


“Sudahlah. Tidak apa. Kita kan sahabat. Aku tahu Kharon selalu melakukan ini padamu, saat kau sulit untuk tidur. Aku mungkin tidak akan sebaik Kharon. Tapi aku akan berusaha agar kau bisa segera terlelap sehingga tubuhmu akan lekas mendapat haknya untuk beristirahat. Sekarang pejamkan matamu, dan buatlah dirimu relaks agar kau bisa segera tidur. Kau memang butuh istirahat.” Philemon kembali mengelus kepala Pram setelah sebelumnya sempat terhenti sebab Pram menahan tangannya.


Pram pun kemudian memejamkan mata. Ia menarik nafas panjang agar tubuhnya lebih relaks. Dan membiarkan Philemon mengusap kepalanya. Pram tak tahu bahwa kini Kharon telah berdiri di bawah pohon kelapa memandangi dirinya yang tengah terbaring di samping Philemon.


Khron memutuskan untuk bangun setelah ia merasa telah begitu lama membiarkan Pram pergi tanpa dirinya. Ia selalu cemas saat berada jauh dari Pram, sebab Kharon selalu waspada kalau-kalau secara tiba-tiba serangan datang menghampiri. Ia sungguh tidak ingin melihat perempuan yang ia kasihi itu berada dalam situasi berbahaya. Dengan cepat Kharon mampu menemukan Pram beserta dua lelaki lainnya dengan cara membaui jejak mereka.


Meski hatinya begitu pedih, Kharon lega karena Pram baik-baik saja. Sepertinya tanpa kehadirannya pun Pram akan baik-baik saja sebab tuan Philemon menjaganya dengan sangat baik, begitu batin Kharon berkata. Ia tersenyum getir.


Sepanjang perjalanan pulang, Kharon terus berpikir. Ia tak marah pada Pram, ataupun pada Philemon. Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa ia sungguh sangat sakit hati. Ia merasa posisinya telah tergantikan. Dan sepertinya hal itu justru tampak lebih baik. Pram pun sudah terlihat nyaman di samping Philemon. Dan untuk sesaat Kharon mulai berpikir untuk pergi dari pulau itu.


Ia mulai mencari cara agar bisa keluar dari Amsleng. Mengingat dirinya tiba di pulau itu berkat teleportasi yang dilakukan Raja Ramadhana, ia sama sekali tak tahu bagaimana caranya untuk keluar. Tentu ada mantra khusus yang harus diucapkan. Dan ia tidak tahu sama sekali bagaimana pelafalan mantra tersebut.


Kharon berencana untuk menanyakan hal itu pada sang raja besok. Ia akan mengajak sang raja berkeliling, jalan-jalan pagi. Lantas menanyakan cara untuk keluar dari pulau Amsleng, cara berteleportasi ke tempat lain.


Ya, Kharon telah membulatkan tekadnya untuk pergi secara diam-diam meninggalkan Pram bersama Philemon dan Raja Ramadhana agar tidak ada hati yang tersakiti. Rasa sakit yang akan dirasakan Pram ketika terpisah darinya pasti tidak akan bertahan lama karena ada Philemon di sampingnya yang ia yakini akan mampu menenangkan gadis itu.


Philemon tentu akan memperlakukan Pram jauh lebih baik dari apa yang bisa dan biasa ia lakukan. Dalam kondisi batin yang terasa sesak, Kharon melihat dirinya, juga mengingat Philemon. Kharon berpikir bahwa mau dilihat dari sisi manapun Philemon tetap lebih baik darinya. Parasnya lebih tampan dan kharismatik sama seperti Raja Ramadhana, sikapnya lebih baik dan kalem, tabiatnya lebih terpuji, ucapannya lebih santun, dan semuanya.


Ia benar-benar kalah telak dari Philemon. Putra bungsu raja Shaman itu selalu berkata lembut pada Pram, tidak seperti dirinya yang selalu kasar pada gadis itu. Yang dalam setiap ucapannya seringkali berisi celaan. Meski Kharon tahu dan sadar benar bahwa Pram terlalu sempurna untuk dicela. Perempuan itu memiliki hati yang murni dan tulus, baik kepada siapapun bahkan pada orang yang telah menyakitinya.


Lalu, soal sakit hatinya, ia yakin akan mampu menahannya dan mencoba menghilangkannya secara perlahan. Walau bagaimanapun, Kharon berpikir bahwa perasaannyalah yang lebih pantas untuk dikorbankan. Rasanya sangat egois jika ia tetap bersama Pram, dan membuat ayah dan anak sakit hati karena harapan terbesar mereka telah pupus. Terlebih, gadis sebaik Pram tentu sangat berhak untuk mendapatkan lelaki yang lebih baik darinya, kata Kharon dalam hati.


Kharon kembali berbaring dan memejamkan mata di atas lantai beralaskan tikar. Ia juga menyelimuti hampir seluruh tubuhnya seperti sediakala. Ia tidak ingin Pram, Philemon, dan Raja Ramadhana tahu bahwa ia sempat datang berkunjung ke pantai untuk menemui Pram. Dan karena itu, tubuhnya hampir kuyup karena saking banyaknya keringat yang keluar.


Kharon memejamkan mata meski tidak sedang mengantuk. Sebaliknya di balik matanya yang tertutup, ia berpikir keras. Bagaimana caranya membuat Pram bisa lebih legowo melepasnya dan mampu menerima cinta Philemon. Juga memikirkan apa yang harus ia katakan ketika nanti atau besok Pram menemuinya dan memberondonginya dengan banyak pertanyaan.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Halo readers... Numpang promosi ya... Saya lagi rilis novel baru, genre Adult Romance (hehe lagi nantang diri sendiri buat nulis di genre ini, setelah sebelumnya nantangin diri buat nulis di genre Kependekaran).


Judul novel baru saya: Menikah Karena Taruhan (dari judulnya saja sudah klise ya hehe)


Ini novel mau saya ikutkan ke lomba You are Writer 3 dari Noveltoon. Pengennya After Death yg maju tapi After Death sudah kontrak, Pendekar Pedang Naga juga sudah kontrak, jadi musti bikin novel baru buat ikut lomba.


Mohon kakak2 kalau ga keberatan bisa mampir ya, buat sekadar naruh like atau komen hehe... Makasih sebelumnya....