After Death

After Death
Bagian 26 : Sudah Saatnya Siluman Harimau Pergi



  “Pram, tempat ini sudah tak aman


bagimu. Sebenarnya tadi aku ingin pulang sendiri dan menjamin keamananmu di


sini. Setelah mencium sendiri ada hawa Jin Hitam berseliweran di sini, aku tak


bisa menjamin keberadaanmu aman. Dante juga tak bakal bisa berbuat apa-apa. Kau


tahu, dia lebih tak bisa apa-apa ketimbang dirimu!”


            “Hei… Stop mengolok-olok Dante di hadapanku. Meski dia tak bisa apa-apa aku tetap lebih memilih dia ketimbang


dirimu!”


            “Ayolah serius sedikit! Kau selalu


membawa-bawa perasaanmu! Di saat-saat genting seperti ini, kita harusnya sudah menyusun banyak rencana!”


            “Lalu, apa rencanamu?”


Gubrak!!!!!


            Seseorang tergopoh mendorong pintu.


            “Pram, kau tak apa? Bagaimana


keadaanmu? Dari mana saja Kau selama ini? Mengapa Dokter Musa tidur di sofa


kamarmu ini? Dan siapa pria berpakaian aneh ini?”


            Dante datang menyeruak dan


menghujani Prameswari dengan berbagai pertanyaan. Tanpa meminta izin, Dante


langsung menyerobot Kharon dan mendekati Prameswari, mengecek kepala, pundak, tangan dan kaki Prameswari.


            “Hei, seharusnya kami yang menanyai keadaanmu. Dasar Bod*h!” Kharon selalu tidak senang dengan kehadiran Dante.


            “Kau siapa? Apa urusanmu dengan Prameswari?”


            “Aku? Aku malas menjelaskannya


padamu. Tanya saja padanya!” Kharon menunjuk Prameswari.


            “Dia siluman harimau putih. Dia bilang dia akan menjagaku dari mara bahaya.”


            “Aku juga bisa menjagamu. Kau tak boleh mempercayai orang baru, Pram.”


            Kharon jengkel melihat pandangan


Dante yang mencurigainya. Ia pun mengubah wujudnya menjadi Harimau Putih berbulu-bulu biru safir. Kharon mengaum keras-keras ke arah Dante dan Dante pun terperanjat ketakutan. Sebelum Pram marah, Kharon buru-buru mengubah wujudnya kembali menjadi manusia.


            “Padahal itu baru separuh ukuranku saja. Coba kalau kuperlihatkan ukuran tubuhku yang asli, Kau pasti kencing di celana!” Kharon berbicara dengan nada menghina, membuat Prameswari kembali


kesal terhadapnya.


            “Pram, mengapa Kau berteman dengan makhluk buas mecam dia? Dia bisa membahayakan dirimu! Oh ya, aku mendapat informasi dari Dewi Thalassa bahwa Kau kini menjadi buronan di Negeri Shaman. Bisa jadi Harimau ini mata-mata mereka.”


            Kharon ingin mencekik Dante karena geram, tapi keinginannya terhambat begitu Prameswari beranjak dari ranjang dan segera memeluk Dante.


            “Sudah… Kau tak perlu khawatirkan apa pun tentang aku. Kecuali nanti jika Kau sudah jatuh cinta padaku, terserah, Kau boleh khawatir bahkan di level yang berlebihan pun, silakan.” Pram


menepuk-nepuk pundak Dante, memahami kebingungan pria baik nan lugu di


hadapannya. Entah bagaimana, Pram selalu merasa nyaman dan damai setiap kali merasakan keluguan hati Dante.


begini, aku diberi tahu oleh Dewi Thalassa bahwa di sebuah pulai kecil di dekat


hutan Halmahera ada sebuah peninggalan kuno yang disembunyikan. Yaitu Buku ‘Anak Purnama ke Tuj…


            Perkataan Dante dipotong oleh Kharon dengan cara membekap mulut Dante.


            “Tunggu. Akan kubuat perisai


terlebih dahulu tempat ini agar mata-mata tak bisa mendengar pembicaraan kita.”


            Setelah menciptakan sebuah perisai, Dante melanjutkan ceritanya tentang pusaka buku kuno. Dante berkata bahwa pengikut Bemius telah bergerak berbulan-bulan dan belum mendapatkan hasil. Lagi, menurut Thalassa, pusaka tersebut disembunyikan di sebuah tempat ghaib yang hanya bisa dimasuki lewat portal yang koordinatnya ada di Bumi. Sayangnya, di Bumi tempat itu merupakan sebuah pohon beracun yang bisa mematikan baik manusia maupun Jin.


Dibutuhkan satu tumbal nyawa untuk bisa melewati Portal tersebut.


            “Stop! Kita sudahi dulu diskusinya. Chakraku hampir habis. Aku harus segera kembali ke alamku tapi aku tak bisa membiarkan kau menjaga Prameswari sendiri, bagaimana ini?”


            “Tidak bisa! Pram masih harus


mengurus penukaran kesialan untuk berjaga-jaga dari hal buruk. Pram harus tetap di sini.”


            “Dante benar, Kharon, ada hal


penting yang harus kuselesaikan. Jika tidak, aku takut hal tersebut akan menggaggu perjalanan kita nantinya.”


            “Sebenarnya ada satu cara yang bisa ditempuh agar aku tetap bisa bertahan di sini paling tidak tiga hari. Aku harus


menyatu dengan tubuhmu, Pram. Menempel dengan dirimu agar Chakraku terisi oleh Chakramu, kita memiliki golongan Chakra yang sama.”


            “Apa artinya menyatu dan menempel?” Dante bertanya ketus.


            “Menempati bagian tubuh Pram. Konsekuensinya, apa pun yang dipikirkan Pram dan ke mana pun ia pergi aku akan tetap bersamanya.”


            “Termasuk ke Toilet?”


            “Ya, benar!”


            “Tidaak… aku tidak mau!”


            “Baiklah kalau begitu. Aku pulang


tanpa Kau, dan ingat…


            Belum selesai Kharon berbicara, Rumah Sakit dihantam oleh meteor yang menyala-nyala. Kebakaran terjadi. Kharon


berteriak bahwa ada kemungkinan itu ulah anak buah Bemius dan ia mencoba


meyakinkan Prameswari untuk menerimanya di tubuhnya.


*********


Episode-episode


ini dibuat dengan agak ngawur dan kemungkikan besar akan segera saya revisi


besok. Terpaksa saya up demi memenuhi persyaratan keikutsertaan kontes


Noveltoon yang mewajibkan batas minimal Novel adalah 20 ribu kata. Sementara


sampai saat ini masih belum mencapai. Maka sepertinya chapter-chapter setelah


ini aka nada versi revisinya. Mohon map dan terima kasih…