
Hari telah mulai petang. Pulau Amsleng sudah ditinggalkan matahari. Bintang terbesar itu telah benar-benar pulang. Kharon masih bertahan pada posisinya. Ia sama sekali tak beranjak dari balik selimut. Namun kini matanya sudah tak terpejam. Ia mulai dirundung gelisah sebab Pram tak kunjung pulang.
Akhirnya setelah sekian lama, Kharon membuka selimutnya. Ia duduk dengan perasaan tak karuan. Ia sungguh tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Tetap diam di rumah menunggu Pram pulang, atau ia perlu menyusul perempuan itu. Jika mesti menunggu, sampai kapan ia harus diam menanti. Sedangkan setiap detik terasa begitu lama berlalu tanpa perempuan itu. Namun, jika harus menyusul. Kemana ia harus pergi? Apakah kembali ke pantai? Tapi bagaimana jika kedatangannya justru tidak diinginkan? Bagaimana jika semua lebih baik tanpa kehadirannya? Begitulah pertanyaan yang diajukan Kharon untuk dirinya sendiri.
Namun, pada akhirnya Kharon bertekad untuk menemui Pram. Meski harus kucing-kucingan seperti yang telah ia lakukan, tidak masalah baginya. Yang terpenting ia telah melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa Pram baik-baik saja.
Dan saat Kharon telah berdiri di balik pintu, secara mengejutkan dan tiba-tiba pintu diketuk. Kharon sungguh lega dan bahagia, sebab Pram akhirnya pulang juga. Ia emasang senyum termanis yang ia miliki. Setelah beberapa kali ia memasang berbagai bentuk senyum di wajahnya, ia menemukan satu senyum termanis yang ia miliki, menurutnya.
Namun, saat ia membuka pintu, senyumnya seperti mau jatuh. Ia sungguh berusaha menahan senyum itu untuk tetap bertahan di wajahnya. Tetapi, apa yang terlihat di matanya hampir-hampir membuatnya menangis.
“Apa aku boleh membaringkan Pram di tempat tidurnya?” kata Philemon sambil tersenyum. Nafasnya sedikit tersengal karena menahan berat badan Pram.
“Iya, tentu saja tuan. Masuklah tuan.” Kharon bergegas menata tempat tidur Pram.
Pram yang tengah terlelap dalam gendongan Philemon pun dibaringkan di tempat tidurnya. Philemon menyelimuti Pram. Ia juga mengelus rambut gadis itu sebelum membalikkan badan.
Kharon tidak berkata apapun. Baik dalam mulut ataupun dalam hati. Ia dengan terburu-buru mengusap air mata yang menetes di pipinya. Lantas sekuat tenaga mencoba mempertahankan senyum.
“Maafkan aku, Ron. Pasti kau khawatir sebab Pram tak kunjung pulang hingga hari sudah gelap. Tadi ia mengatakan bahwa ia mungkin membutuhkan cukup istirahat. Pram tertidur di pinggir pantai. Aku takut kalau menggendongnya pulang saat itu juga, ia akan terbangun. Jadi, aku menunggunya hingga nyenyak.” kata Philemon sambil tersenyum.
“Oh, tidak apa tuan. Maafkan gadis ini karena selalu merepotkan.” kata Kharon tanpa menggeser senyumnya. Meski sesekali senyum itu lenyap sendiri walau ia telah menahannya.
“Tak masalah, aku senang melakukannya.”
“Duduklah tuan, hamba akan membuatkan secangkir teh untuk tuan.” Kharon memundurkan sebuah kursi dari bawah meja.
Philemon pun menerima tawaran Kharon dan duduk menunggu. Ia mengamati wajah Pram. Philemon sungguh mengagumi gadis itu. Baik lahir maupun batin.
“Di mana Raja Ramadhana, tuan?” tanya Kharon memecah hening sambil mengaduk teh.
“Oh, ayah sudah beristirahat di rumah. Ia langsung pulang tanpa mampir ke sini. Katanya, ia juga merasa sedikit lelah.” kata Philemon masih tanpa menggeser pandangannya dari wajah ayu Pram. Alis tebal menyambung, hidung mungil tapi mancung, bibir mungil dan tipis, wajah tirus, rambut hitam legam yang panjang. Sungguh paduan yang sempurna, benak Philemon.
Philemon tersenyum mengingat tingkah dan ucapan Pram. Tidak akan ada orang yang mengira bahwa wajah sekalem itu memiliki banyak tingkah polah. Jika tidak mengenalnya, tentu seseorang tidak akan tahu bahwa dari bibir mungil itu bisa keluar seabrek kata tanpa jeda.
“Silakan tuan.” kata Kharon membuyarkan lamunan Philemon.
“Terima kasih, Ron.” Philemon tersenyum lantas menyeruput teh di depannya.
“Bagaimana kondisimu? Apa kau sudah membaik?” kata Philemon kemudian. Ia meletakkan cangkir yang kini hanya tertinggal setengah teh di dalamnya.
“Pram sangat khawatir padamu. Sepertinya ia tadi tampak murung juga karena terlalu memikirkanmu.” kata Philemon sambil memegangi bunga mawar biru yang telah layu yang ada di vas bunga bening yang terletak di atas meja.
“Dia memang sering berlebihan dalam banyak hal.” Kharon tersenyum. Kali ini dengan senyum sungguhan sebab ia senang mengetahui bahwa Pram mencemaskannya.
“Apa bunga-bunga ini telah lama tidak diganti.” ucap Philemon keheranan. Ia mendapati ada banyak vas bunga di tempat itu. Setidaknya ebih dari lima vas. Dan semuanya berisi bunga mawar yang telah layu.
“Pram melarangku untuk menggantinya tuan. Katanya bunga-bunga ini sangat istimewa.” kata Kharon dengan sedikit kesombongan di hati.
“Istimewa? Apa Pram suka bunga mawar?” tanya Philemon sambil mengernyitkan dahi.
“Iya, dia sangat suka bunga mawar ini. Entah bunga mawar yang lainnya suka atau tidak.” jawab Kharon semakin membuat Philemon bingung. Ia tidak mengerti apa bedanya bunga mawar itu dengan mawar lainnya. Menurutnya sama saja.
“Sepertinya kau membutuhkan lebih banyak istirahat, Ron. Heeem, gadis ini pasti sangat merepotkanmu. Tingkahnya kelewatan banyak sebagai seorang perempuan. Hahaha. Apa kau pernah berada dalam kondisi yang begitu sulit bersama Pram?” tanya Philemon kemudian setelah beberapa saat terdiam. Ia lantas kembali menyeruput tehnya.
“Apapun kondisinya, hamba selalu senang di samping Pram. Bagi hamba Pram adalah segalanya. Keselamatan dan kebahagiaannya adalah yang utama.” kata Kharon cepat. Hingga membuat Philemon terkejut. Kata-kata yang ia tahan pada akhirnya ada yang menyembul keluar juga. Bahkan bibirnya seperti bergerak sendiri mengucapkan kalimat itu.
“Hahaha, aku lupa, kau memang selalu penuh tanggung jawab. Baiklah aku telah menghabiskan tehku. Sepertinya ini saatnya untuk pulang. Terima kasih untuk suguhannya, Ron. Teh buatanmu memang yang terbaik.” kata Philemon sambil berdiri dan merapikan kursi yang ia duduki.
“Sama-sama tuan, sudah biarkan saja tuan. Nanti biar hamba saja yang merapikan.” kata Kharon sambil membungkukan badan.
Philemon berjalan menuju pintu yang masih terbuka. Lantas berlalu pergi hingga pungungnya sudah tak tampak lagi. Terlihat sebelum beranjak dari kediaman Kharon, Philemon menyempatkan untuk menengok ke arah Pram.
Kharon menutup pintu dan berjalan menghampiri Pram. Ia melihat wajah gadis itu. Lantas tersenyum sekaligus menahan tangis. Ia sungguh ingin memeluk Pram kala itu. Namun, ia takut akan membuat gadis itu terbangun.
Saat mendapati Pram pulang di antar Philemon dalam kondisi tertidur barusan, perasaan Kharon menjadi bercampur aduk. Ia senang dan sedih di saat yang sama. Dan jujur saja ia begitu takut kehilangan gadis itu ketika melihat ia ada dalam gendongan Philemon. Ternyata batinnya begitu terluka saat melihat Pram bersama Philemon.
Kharon duduk di samping tempat tidur Pram. Ia meletakkan kepalanya di samping tangan kanan Pram, menumpang sedikit di atas tempat tidur itu. Kharon lantas memejamkan mata. Lagi-lagi meski ia sedang tidak mengantuk. Dalam diam dan pejamannya, Kharon bertanya sendiri pada dirinya, apakah ia kuat kehilangan Pram, apa luka hatinya bisa menghilang saat tahu bahwa akhirnya Pram dan Philemon hidup bersama, atau ia akan menyesali semuanya karena telah melepaskan tangan Pram yang sebetulnya begitu mencintainya.
Kharon menjadi ragu untuk pergi sebagai seorang yang naif. Ia mulai berpikir ulang akan pergi atau tinggal. Jika pergi ia harus menanggung resiko meratapi dan menyesali perbuatannya seumur hidup. Dan hidup menderita tanpa Pram. Namun, jika memilih untuk tinggal, ia mesti dengan tegas mengatakan kepada Raja Ramadhana dan Philemon tentang hubungan dirinya dengan Pram. Yang artinya, ia harus tega melukai hati kedua orang yang sangat ia hormati itu.
Kharon memikirkan soal keputusan yang harus ia ambil hingga kepalanya pening. Dalam mata yang terpejam, Kharon mengernyitkan dahi menahan sakit dengan bibir yang sedikit meringis. Benang kusut memenuhi kepalanya. Dan ia masih belum tahu bagaimana harus menguraikan benang tersebut.
Kharon meraih tangan Pram yang ada di hadapannya di depan kepalanya, masih dengan mata yang terpejam. Lantas mendekap tangan itu di dadanya. Ia seolah meminta kekuatan pada Pram untuk melewati semua.
Kharon meluapkan semua yang ia rasakan pada tangan Pram, tentang kegelisahannya, kebingungannya, sakit hatinya, dilemanya, rasa cemburunya, dan semuanya. Ia meluapkan semua yang sengaja ia tahan agar Pram tidak terlibat dalam kebingungan yang ia rasakan. Kebingungan yang dulu ia harap akan segera mampu menemukan jalan keluar untuk mengatasinya. Kharon sama sekali tidak menyangka bahwa menunda memberi tahu Raja Ramadhana dan Philemon soal hubungannya dengan Pram karena tak tega, justru membuatnya berada dalam situasi sepelik saat ini, justru seolah memberi kesempatan cinta Philemon menjadi semakin besar. Dan tentunya ia semakin tak tega untuk mengatakan, sebab ia tahu bahwa hati Philemon akan lebih terluka.
Kharon mencurahkan isi hatinya benar-benar dengan hati, tanpa ada suara sedikit pun. Dalam diamnya itu air matanya merembes membasahi tangan Pram. Ia tak bisa berhenti menangis hingga akhirnya Kharon benar-benar tertidur.