
Beberapa hari sudah berlalu. Para anak dari penjara lapang telah terbiasa untuk merawat para pasien yang ada di ruang rawat. Meski mereka belum bisa mengingat semua kenangan yang mereka miliki bersama orang-orang tertentu yang ada di ruang rawat tersebut, keakraban mereka semakin terbangun. Hal itu menunjukkan bahwa kenyataannya kasih sayang bisa membuat orang yang mungkin asing dalam ingatan bisa menjadi dekat dengan kita.
Philemon tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Pram yang tertawa riang bersama anak-anak. Ia menjadi saksi betapa keras usaha gadis itu dalam menumbuhkan kembali optimisme dari sang ayah, agar bisa bangkit dan meninggalkan segala sakit batin. Menyemangati Raja Ramadhana untuk merebut kembali hati anak-anak meskipun dengan mengenalkan diri sebagai orang lain. Pram membantu Raja Ramadhana agar bisa lebih dekat dengan para anak dari penjara lapangan yang tidak lain merupakan anak-anak penerus kerajaan Shaman itu.
"Hei, Ron," kata Philemon sedikit terjingkat saat Kharon menepuk pundak kanannya. Ia tersenyum dan berusaha untuk menjelaskan pada Kharon kalau ia tadi sedang mengamati anak-anak. Philemon tidak mengerti mengapa ia perlu memberikan penjelasan tentang itu. Kharon bahkan tidak menanyakan menyoal apa yang sedang ia lakukan.
Rupa-rupanya Philemon sedang sangat terpesona pada kepribadian Pram yang hangat, peduli, dan penyayang. Meskipun ia telah mengetahui hal itu sejak dulu, rasa-rasanya kekagumannya pada Pram tidak bisa berhenti mengikutinya.
"Tuan Philemon, paduka raja memanggil Tuan sejak tadi. Meminta Tuan untuk segera bersiap di dalam tempat berlatih. Sekarang waktunya pelajaran bersama Tuan. Pram akan meminta anak-anak masuk," kata Kharon selalu penuh hormat. Walau mereka telah sangat akrab dan selalu menghabiskan waktu bersama, Kharon tidak bisa bersikap biasa-biasa saja. Terlebih Philemon dan Raja Ramadhana selalu bersikap baik padanya meski ia hanya siluman harimau putih, sedangkan ayah dan anak itu adalah keturunan darah biru.
"O, baiklah. Aku akan ke sana. Tapi Ron, ada hal penting yang ingin aku bicarakan padamu. Bisakah kita hanya berbincang nanti malam? Berdua saja di kediamanku."
"Tentu, tentu Tuan."
Latihan pun kembali berlangsung setelah jeda makan siang. Semua anak tampak sangat serius berlatih jurus yang diajarkan Philemon.
Sebagai pengajar yang sangat sabar dan murah senyum Philemon memiliki banyak penggemar, terutama dari murid perempuan. Sangat berbeda dengan cara mengajar Kharon yang tegas dan penuh disiplin, hingga membuat para muridnya kerap mengeluh pada Pram.
Kharon memang sangat serius. Meski sesekali ia memberikan lelucon, tak lama setelahnya para murid harus kembali fokus dan berlatih dengan sungguh-sungguh.
"Kak Phil, teruslah mengajar kami dan jangan biarkan Kak Ron yang mengajar," rengek salah seorang murid perempuan.
"Iya, Kak Phil. Kami bisa mati kalau Kak Ron yang mengajar," sahut seorang lainnya mulai melebih-lebihkan.
"Kak Ron tidak memberi waktu istirahat. Tidak ada waktu bersantai, apalagi bergurau. Selama jeda latihan yang mungkin hanya beberapa detik, dia terus berbicara tentang perang, perang, dan perang. Seolah masa depan kami hanya untuk perang."
"Benarkah?" tanya Kharon dengan wajah seolah terkejut. Kedua matanya sengaja dibuka lebar-lebar untuk memberikan efek tidak percaya.
"Benar, memang benar kita menjadi lebih cepat menguasai jurus, tapi caranya berbicara itu seolah tidak ada hal lain yang bisa dibahas selain perang. Memangnya siapa yang mau kita perangi? Semua akan baik-baik saja selama raja Bemius masih berkuasa. Kita hanya perlu berlatih jurus untuk membantu menjalankan negeri di masa mendatang," protes gadis kecil yang tadi tidak suka kalau Kharon selalu membicarakan perang.
Mendengar ucapan gadis itu, Philemon menjadi tertegun. Meski kedekatan anak-anak itu dengan mereka sudah menunjukkan peningkatan tajam, ternyata dalam benak mereka masih ada sisa-sisa penanaman pola pikir dari kerajaan Anathemus. Bahwa Bemius adalah raja kuat yang menjaga keamanan negeri, yang menjadi raja idola dengan segala kemuliaannya. Padahal faktanya sungguh sangat berbeda. Semua yang mereka tahu tentang Bemius berkebalikan dari yang sebenarnya.
"Apa kau tidak mengerti juga, esok kalau kemampuan bertempur kita sudah mempuni, kita akan melawan para pasukan jahat yang merebut sebuah tempat dari pemimpinnya yang baik. Tempat itu kini dihuni oleh para jin dan siluman hitam yang sangat kuat. Itu sebabnya kita diamankan ke pulau ini karena ingin memberikan serangan mengejutkan pada mereka!" tukas anak lelaki itu menimpali.
"Tempat apa? Kak Ron tidak pernah menerangkan itu secara rinci. Dia juga tidak bisa menjawab saat aku bertanya siapa nama pemimpin dari tempat itu? Mengapa dia tidak meminta bantuan pada Raja Bemius? Itu artinya, Kak Ron hanya berbohong agar kita menjadi sangat serius dalam berlatih," jelas gadis itu tidak mau kalah.
"Tepat sekali! Apa pun yang dikatakan Kak Ron, entah itu karangan atau sungguhan, dia hanya ingin kita berlatih dengan serius. Lalu apa salahnya dengan itu sehingga kau meminta Kak Phil untuk tidak membiarkan Kak Ron mengajar kita? Kak Ron memang sangat tegas dan jarang sekali tersenyum saat mengajar, tapi dia tidak pernah memukul kita dan tidak pernah memaksa anak yang sakit untuk terus berlatih."
Ucapan anak laki-laki itu kini berhasil membungkam mulut si anak perempuan. Membuat Philemon tersenyum karena tampaknya Kharon sudah menemukan penggemar sejati yang mau membelanya sampai lawan debatnya tidak sanggup membantah lagi.
"Sekarang, mintalah izin pada Kak Phil untuk meminta maaf pada Kak Ron. Tindakanmu yang mengolok-olok Kak Ron tadi bisa membuat teman-teman kita berpikir buruk pula tentang Kak Ron. Padahal kau tahu benar bahwa Kak Ron sudah berusaha keras untuk melatih kita menjadi lebih kuat."
Anak perempuan itu pun mengangguk penuh sesal. Ia sebenarnya menyimpan kesal pada Kharon setelah kemarin Kharon melarangnya untuk minum karena waktu istirahat sudah habis. Sebelumnya dia menghabiskan waktunya hanya untuk menggerutu mengeluhkan ini dan itu hingga lupa untuk minum.
Gadis itu lantas pergi meninggalkan tempat berlatih setelah Philemon memberinya izin untuk menemui Kharon.
Saat gadis itu mencari Kharon ke rumahnya, ia tidak menemukannya. Lalu ia bertanya pada Pram yang kemudian memintanya untuk pergi ke rumah rawat yang tampak sepi karena banyak pasien yang sudah pulih dan mulai berlatih di area dekat danau.
Setelah memasuki area dapur, gadis kecil itu melihat Kharon ada di sana sedang mengaduk sesuatu dalam panci yang sangat besar. Ia pun melangkah ragu dengan kepala tertunduk. Ia menjadi sangat cemas karena berpikir kalau Kharon pasti akan memarahinya, bahkan juga memberikan hukuman berat padanya.
----
Maaf karena update sesukanya 🙏🙏🙏