
Saat pergi meninggalkan Lembah Namea, Pram dan juga yang lainnya sepakat untuk berdiskusi sejenak sebelum pergi ke Shaman. Untuk merencanakan lokasi penyusupan dan lain sebagainya.
“Seperti yang telah kita rencanakan sebelumnya, kita akan menyusup ke rumah penduduk. Kita muai dari rumah sebelah barat. Di sana jumlah rumah penduduknya tidak sebanyak yang di utara. Sehingga jika kita habisi penghuninya satu per satu kemungkinan akan lebih aman.” usul Raja Ramadhana.
“Tunggu.” kata Pram tiba tiba membuat semua orang melihat ke arahnya.
“Ada apa Pram? Jangan mengatakan yang macam macam. Waktu kita tidak banyak, dan di sini kau menjadi buronan. Jadi tetap fokus.” kata Kharon mencurigai Pram akan membicarakan hal lain di luar pembahasan.
“Iya, iya, aku tahu. Tapi maaf paman, aku sudah sangat berusaha untuk fokus, tapi pikiranku terus mengingat soal permohonan maaf paman kepada Dewi Thalassa. Mengapa paman meminta maaf? Ada hubungan apa sebenarnya antara paman dan Dewi Thalassa?” kata Pram ingin tahu.
“Benar ‘kan kataku? Kau ini.”
Philemon hanya diam. Namun dalam hatinya ia juga memikirkan hal yang sama dengan yang ada dalam pikiran Pram sehingga membuat ia tak fokus pada diskusi pelaksanaan misi. Sedangkan Raja Ramadhana tersenyum mendengar kejujuran Pram.
“Paman mengerti. Paman berjanji akan menceritakan hal itu suatu saat nanti. Tapi untuk sekarang, ayo kembali fokus pada rencana penyusupan kita.” ucap sang raja membuat Pram senang.
Diskusi pun dimulai kembali. Mereka berempat sepakat bahwa mereka tidak boleh terpisah selama menjalankan misi. Seandainya terjadi hal yang tidak diinginkan, setidak-tidaknya tetap berpasangan. Kharon bertugas menjaga Pram sebagaimana kewajibannya sebagai seorang khodam. Sedangkan Philemon berkewajiban untuk selalu ada di sisi Raja Ramadhana.
Selagi Pram dan Kharon mulai membunuh para jin dan siluman hitam di kediaman masing masing, Philemon dan Raja Ramadhana akan menaburkan bibit racun pencabut nyawa di sungai dan di beberapa sudut kerajaan, tentunya dengan kewaspadaan ekstra.
“Kalian akan terkejut jika melihat efek dari bibit racun ini. Jin ataupun siluman yang terkena racun ini, jika ia tidak memiliki ketahanan diri yang baik, maka akan langsung merasakan gatal yang luar biasa sehingga tidak akan mampu menahan diri untuk tidak menggaruknya. Dan jika mereka sudah mulai menggaruk satu kali saja, mereka tidak akan bisa berhenti sebab rasa gatal akan semakin hebat.
Dampak dari menggaruk itu pula akan muncul benjolan benjolan merah yang jika tetap digaruk akan mengeluarkan darah. Bila sudah begitu tak membutuhkan waktu lama untuk tewas. Jadi sangat efektif dan bisa menghilangkan jejak sebab efek obat ini tampak seperti sebuah wabah.” kata Raja Ramadhana penuh keyakinan akan menang.
“Bagus, paman. Apa paman memiliki banyak bibit racun pencabut nyawa?” tanya Pram semangat.
“Itu, sayangnya jumlah bibit ini sangat terbatas. Paman hanya memiliki sepuluh bibit, Pram. Bibit racun ini dibuat dari tanaman beracun langka yang perkembangbiakannya sangat lama. Jadi, bibit ini harus dimanfaatkan dengan sangat baik. Rencananya untuk di sungai aku akan menanam dua bibit, satu bibit di sungai utara dan satu lainnya di sungai sebelah timur.” kata sang raja menjelaskan.
“O, iya. Pram dan Kharon saat nanti kalian telah berhasil membunuh mereka, jangan lupa kalian sembunyikan jasad mereka atau terserah kalian mau diapakan jasad jasad itu. Yang jelas agar penyusupan berjalan lancar, kita harus menghilangkan jejak.” ucap Raja Ramadhana lagi.
“Apa sekarang kita sudah bisa memulai mejalankan misi penyelamatan ini?” tanya Pram.
“Ya, tentu saja. Ayo lekas berteleportasi ke Shaman.” jawab Kharon sambil berdiri, bangkit dari duduknya. Membuat ketiga orang lainnya turut berdiri juga.
“Angkat tangan!” suara teriakan seorang laki laki sontak membuat Pram dan rombongan beserta orang orang yang berada di taman kota terkejut.
Pram dan juga yang lainnya langsung mengangkat tangan sebab ada lima pistol yang mengarah kepada mereka.
“Ada apa ini?” tanya sang raja cemas.
“Itu artinya urusan kami juga.” jawab Kharon mantap.
“Menyingkirlah. Jangan menghalangi kami menangkap penjahat ini.” jelas seorang petugas keamanan lainnya.
“Sebentar, mengapa kalian ingin menangkap Pram?” tanya Philemon.
“Kami harus menangkapnya bukan karena ingin, tapi karena aturan. Perempuan itu telah melanggar aturan di Anastasia Cato. Jadi dia harus bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukan.”
“Memangnya apa yang telah dilakukan perempuan ini hingga kalian menganggapnya sebagai penjahat?” tanya Raja Ramadhana.
“Dia telah mengingkari kewajibannya untuk membayar denda karena terlalu sering bepergian meninggalkan Anastasia Cato. Semua denda dendanya menumpuk. Bahkan saldo rekening pahalanya juga telah minus. Jika orang lain terbebani oleh banyaknya denda yang harus dibayar akan bekerja hingga lembur lembur, perempuan itu justru terus bepergian dan membuatnya memiliki banyak hutang, dan tentu saja telah merugikan distrik.”
Dan akhirnya Pram pun dibawa para petugas keamanan ke kantor Loket Pelanggaran Aturan, yakni sebuah tempat yang digunakan untuk mengadili orang orang yang melanggar aturan di Anastasia Cato. Seseorang bisa bebas jika memang bisa memberikan bukti kuat bahwa ia tidak bersalah, namun jika tidak tentu akan dimasukkan ke dalam penjara.
Pram untuk sementara waktu masih di tahan di penjara singgah, yakni sebuah penjara sementara yang digunakan untuk menahan para pelanggar aturan yang belum diadili. Sementara itu Kharon, Philemon, dan juga Raja Ramadhana duduk di kursi antrean menunggu tiba waktunya Pram untuk diadili. Pram tidak diberi waktu untuk menyiapkan semua pembuktian sebab kasus pelanggarannya telah lama terjadi. Jika memang ia menolak segala tuduhan, seharusnya ia segera mengajukan pembelaan. Namun, Pram justru disibukkan dengan urusan di luar Anastasia Cato hingga membuat pelanggarannya semakin berat dan membuat dirinya dianggap sengaja menghindar dari peradilan sebab ia memang bersalah.
Dalam batin Raja Ramadhana kini sedang sangat gelisah. Pikirannya sudah tertuju pada penyelamatan rakyat Shaman, namun kini ia terpaksa harus berdiam di Anastasia Cato menunggu Pram menuntaskan urusannya.
“Prameswari.” seorang petugas keamanan langsung membawa Pram berdiri di hadapan Ketua Peradilan setelah seorang petugas lainnya menyebut nama Pram.
Kharon, Philemon, dan Raja Ramadhana langsung bangkit dan duduk di bangku depan yang telah ditinggalkan para kerabat dan sahabat dari pesakitan sebelumnya.
Ketua Peradilan memandang Pram dengan wajah sangar dan tatapan tajam, mulai dari ujung kaki hingga ujung kepala. Membuat Pram menelan ludah. Sebenarnya Pram benar benar tak mengerti dengan keadaan yang kini menimpanya. Saldo rekeningnya jelas jelas terakhir dulu memiliki nominal yang sangat besar. Lantas jika dihitung dengan pengurangan denda keluar dari Anastasia Cato selama ini, semestinya masih ada sisa yang lumayan. Namun, yang ia dapati dari laporan transaksi rekening justru lain. Tidak hanya kosong, saldo rekeningnya bahkan minus.
Ia mengingat-ingat kembali soal isi saldo rekeningnya dulu. Pada awal kehidupannya di Cato, jelas jelas saldo yang ia miliki sangat sedikit, bahkan hingga tak mampu untuk memenuhi keperluannya dengan layak. Lantas, dengan sangat tiba tiba, jumlahnya menjadi sangat besar, membuat ia menjadi seorang yang kaya mendadak. Dan kini ia tersandung kasus yang aneh. Seolah saldonya yang sangat banyak dulu, yang tiba tiba bertambah, dengan tiba tiba pula berkurang sendiri hingga amblas.
Pram mulai berpikir bahwa hal itu ada hubungannya dengan Bemius. Ia curiga bahwa Bemius telah melakukan saboltase. Yang artinya, wilayah Cato sudah tidak murni lagi. Selain adanya anak buah Bemius yang sangat mungkin berkeliaran di kota itu, kekuasaan Bemius ternyata juga telah menyusup ke bagian administrasi, yang merupakan bagian pokok di Anastasia Cato, dan mungkin juga masuk ke bagian lainnya. Pram menyimpulkan bahwa secara diam diam pertahanan Cato telah ditembus oleh Bemius dan anak buahnya.
Bila hal itu tidak dideteksi oleh kepala distrik Cato, bisa jadi suatu saat Cato akan dikuasi oleh Bemius. Bahkan bisa menyebar ke wilayah lainnya di Anastasia.
“Berat. Ini kasus yang berat. Apa kau tahu gadis muda, kau bisa menerima hukuman mati karena kasus ini.” kata Kepala Peradilan membuat Pram dan ketiga lelaki yang mendukungnya tersentak dengan degup jantung yang kompak lebih cepat.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Semakin banyak komentar di novel ini, author bisa jadi lebih bersemangat up sesering mungkin 😁😁 Makasih sebelumnya....