After Death

After Death
Bagian 11 : Mencari Keberadaan Ibu



 Dante bercerita panjang lebar tentang orang-orang yang berlaku jahat di Bumi, kemudian mati dan mendapat balasan yang setimpal di duniaku yang sekarang ini. Balasan-balasan itu berupa aneka kesialan yang tak terduga. Seperti halnya yang aku alami tempo hari, aku merupakan manusia dengan jatah kesialan yang melebihi 50%. Tak heran, bahkan sebelum memasuki kelas Pasca Kematian, aku sudah terlebih dahulu masuk Rumah Sakit. Dante juga mengatakan, ada hal unik yang bisa dilakukan oleh manusia di dunia ini yaitu, menukar kupon kesialan.


            “Kuharap tabungan pahalamu akan bertambah sehingga kau akan mampu menukar kesialan di loket Penukaran Kupon Kesialan.”


            “Bagaimana caranya agar tabungan pahalaku gemuk?”


            “Kau tidak bisa berbuat apa-apa di sini, tapi Kau tetap bisa berdoa agar kerabatmu di bumi berkenan untuk melakukan kebaikan untukmu.”


            “Bisakah aku menelepon mereka, bukankah di sini ada telepon juga. Kalau bisa, aku bisa saja membangun rumah sakit untuk umum, menyumbang panti asuhan, atau menghibahkan seluruh hartaku untuk amal.”


            “Telepon di sini, dan semua alat komunikasi di sini tak bisa menghubungkan dua dunia sekaligus. Tapi, ada satu hal yang bisa diupayakan. Telepati. Sayangnya ilmu tentang telepati hanya diajarkan di bumi, sedangkan aku hanya menjadi bayi ketika di bumi. Kau tahu tentang telepati?”


            “Telepati? Semacam komunikasi batin seseorang dengan orang lain?”


            “Ya, kalau kau bisa melakukan


telepati, maka kirimkanlah pesan ke kerabatmu di bumi. Jika pesanmu sampai,


maka mereka akan melihatmu di mimpi, atau mereka akan segera terkenang akan


dirimu dan merasa rindu sekali denganmu. Oh ya, jika ada yang merindumu di


bumi, tabunganmu juga akan meningkat meski tak terlalu banyak.”


            “Jadi, menurutmu ketika orang di


bumi sedang memimpikan orang mati atau kepikiran tentang orang yang sudah mati,


itu artinya mereka sedang mencoba berkomunikasi dengan kita?”


            “Ya, seperti itu. Tapi aku belum


mati terlalu dini.”


            “Hei, ngomong-ngomong soal orang yang melahirkan kita, aku juga punya ibu yang sudah mati, apakah aku bisa menemuinya


di sini?”


            “Tentu. Orang-orang yang memiliki kedekatan batin cukup kuat akan diperetmukan kembali di sini. Tapi ada juga


keluarga yang tak pernah dipertemukan lagi karena hubungan kedekatan batin


mereka tak cukup kuat. Ketahuilah di sini ada banyak Negara bagian, kita menempati Negara bagian Anastasia Cato, kau bisa menyebut negeri ini negeri Cato. Jika memang ibumu berada di Cato, aku bisa melakukan pengecekkan di database Registrasi Kematian.”


            “Baiklah, aku ingin Kau ke kantormu segera, tolong cek keberadaan ibuku, Arimbi namanya. Tolong ya, Dante. Kukira aku akan segera sembuh jika berjumpa dengannya.”


            Dante mengelus-elus punggung tanganku sambil berdoa semoga ibuku benar-benar berada di Negara bagian Cato, karena katanya, penghuni Anastasia tidak bisa berpindah dari satu negera bagian ke bagian lain kecuali petugas-petugas tertentu.


            Kulihat punggung Dante yang mulai


menghilang, dia begitu perhatian dan murah hati. Jika di bumi ada pria seperti


itu, dan tingkah lakunya juga seperti itu kepada semua wanita, aku yakin Dante


akan membuat banyak wanita patah hati. Bukankah para wanita di bumi memiliki


derajat kebaperan yang cukup tinggi, termasuk aku saat ini yang sudah beberapa


kali ketahuan oleh diriku sendiri sedang melamun tentang Dante.