After Death

After Death
Bagian 8 : Pembelajaran Dunia Baru



             Karena hari sudah beranjak petang, Pram berharap Dante segera sampai di Rumah Sakit. Sayang sekali, Pram mulai meragukan Dante setelah hampir pukul delapan malam Dante tak kunjung datang. Pram tak memiliki hak untuk kesal atau kecewa, dia tau itu. Tapi hatinya tak bisa dibohongi, dia kecewa. Mungkin karena sedang kesepian dan tak memiliki siapa pun, Pram menjadi bergantung kepada Dante. Ia yakin kekecewaan dalam dirinya hanya sebuah bentuk rasa kesepian yang berwujud lain.


            Pintu kamar terketuk. Pram memejamkan mata dan pura-pura tidur. Ia tak ingin ekspresi kecewanya ketahuan Dokter Musa.


            “Nona Prameswari, Bangunlah. Kali ini aku datang sambil membawa oleh-oleh kesukaanmu.” Suara Dokter Musa terdengar seperti suara seorang kakek kepada cucunya. Pram membuka mata dan melihat Dokter Musa datang bersama Dante.


            Prameswari bahagia melihat oleh-oleh yang dibawa Dokter Musa. Karena takut kebahagiaannya diketahui Dokter Musa dan Dante, Pram pura-pura cuek dan mengantuk.


            “Nona Prameswari, dari denyut


nadimu, kurasa Kau tak sedang mengantuk. Ini bukanlah denyut nadi seorang gadis yang mengantuk. Ha ha… Apakah kedatanganku membuatmu gugup. Ataukah karena hendak kusuruh minum obat maka Kau menjadi gugup?” Dokter Musa tersenyum menggoda, Pram tahu Dokter itu sedang mengerjainya.


            “Dokter, bisakah Kau diam saja dan segera memberiku obat? Sepertinya tadi aku sedang mimpi buruk. Jadi wajar


jantungku berdebar-debar.”


            “Oh ya, boleh Kau ceritakan mimpi


burukmu itu, Nona?”


            “Oh… Eh… aku lupa detailnya. Tapi kurasa berhubungan dengan hantu dan binatang buas.”


            “Waah… Mimpi yang menyeramkan sekali ya. Baiklah… Ini obatnya, segera minum dan tidurlah jika memang masih ngantuk. Tapi jangan paksa dirimu tidur jika Kau takut mimpi burukmu terulang.” Dokter


Musa pergi sembari tersenyum dan mengerlingkan mata.


            Setelah Dokter Musa pergi, Dante


yang menduduki kursi di pojokan kamar mendekat. Ia membawa rantang yang lumayan besar dan mulai membukanya satu-satu. Semua rantang itu berisi aneka makanan yang lezat dan bergizi. Pram yang sudah menahan lapar beberapa hari dan aneka makanan di depannya membuatnya ingin segera menerkam semuanya.


            “Hei tunggu, katamu di dunia ini


kita tak bisa saling berbagi harta dan makanan?”


            “Ya, betul.” Dante membalas singkat sembari menyiapkan satu porsi makanan ke dalam piring. Sepertinya memang untuk


Prameswari.


            “Lalu, mengapa Kau membawa makanan? Kau mau makan-makanan enak di depan gadis yang kelaparan?”


            “Ini untukmu. Karena ini jatahmu.”


            “Jatahku? Dari mana?”


            “Begini, setelah melakukan


registrasi pasca kematian, sebenarnya masih ada satu tahap lagi bagi para


penghuni baru negeri ini, yaitu registrasi kelas pasca kematian. Itu adalah


fasilitas gratis untuk para penghuni baru. Ya, mungkin di duniamu dulu kau


mengenal istilah Matrikulasi, anggap saja semacam itu.”


            “Semacam materi pelajaran tentang dunia ini?” Pram bertanya.


            “Ya, program Matrikulasi itu


berlangsung selama 1 bulan. Namamu sudah terdaftar di kelas, dan kamu mendapat jatah makanan gratis dari sana. Aku datang terlambat karena mengurus birokrasi yang agak ribet demi bisa membawakan makananmu ke sini, selama seminggu ke depan.”


            Kekecewaan yang dirasakan Prameswari lenyap seketika. Dante telah membuat segalanya memburuk, dan lekas


            “Dante, boleh aku bertanya?”


            “Tentu. Silakan.”


            “Mengapa Kau baik padaku?”


            “Baik? Kurasa aku hanya melakukan apa yang semestinya kulakukan. Apa ada yang keliru?”


            “Tidak… Tidak keliru. Hanya saja,


pria tak boleh terlalu baik pada wanita jika kau bukan saudaranya. Paling tidak


itu peraturan tak tertulis yang berlaku di duniaku dulu.”


            “Benarkah? Alasannya?”


            “Memangnya Kau bukan penghuni dunia? Apa Kau belum pernah tinggal di dunia sebelumnya?”


            “Hem… Semua Petugas Kematian dulunya pernah dilahirkan ke Bumi. Kami semua sama sepertimu, manusia biasa yang hidup di Bumi lalu mati dan melanjutkan hidup di sini. Kita bisa menyebut dunia ini sebagai Alam Kubur karena sejatinya portal masuk menuju dunia ini adalah alam kubur. Setelah kau dihidupkan lagi di sini, Kau akan mati sesuai dengan jatah usiamu. Dan kembali melanjutkan hidup di alam akhirat. Semua yang di sini setidaknya percaya bahwa alam akhirat itu ada. Tapi kami tak menemukan satu literature


pun tentang alam akhirat.”


            “Sebentar… tadi katamu Kau juga


pernah dilahirkan di Bumi? Apa Kau lupa dengan kehidupanmu yang dulu?”


            “Tidak. Aku tidak lupa karena memang tak ada kenangan yang bisa kami ingat. Para Petugas Kematian direkrut dari manusia yang mati di bumi di usia di bawah 1 tahun. Itu artinya di duniaku yang dulu


aku juga pernah hidup, hanya saja usiaku tak genap satu tahun lalu aku mati. Saat


dihidupkan kembali, aku sudah berusia 25 tahun, ya, semua petugas kematian


memiliki usia yang seragam, 25-30 tahun. Jadi aku tak memiliki kenangan apa pun di


bumi.”


            “Oh… begitu… Eh, itu makanan keburu dingin, boleh aku makan dulu?”


            “Ini. Silakan.”


            Pramsewari makan dengan lahap


sementara Denta terlihat sangat serius memikirkan sesuatu.


            “Pram, katamu tadi, di Bumi seorang laki-laki tidak boleh terlalu baik kepada perempuan? Boleh kau jelaskan


mengapa? Dan apa akibatnya jika laki-laki berlaku terlalu baik kepada


perempuan?”


            “Nanti kuceritakan saat Kau sudah


cukup mental hehe… Kukira Kau sudah berpengalaman menjadi pria. Tak kusangka, aku sedang berhadapan dengan bocah kecil di tubuh pria dewasa.”


            “Apa maksudmu bocah kecil dengan tubuh pria dewasa?”


            “Hem… Bagaimana ya menjelaskannya. Sudahlah, biarkan aku makan dulu. Aku berjanji akan mengajarimu menjadi pria dewasa sungguhan.”