After Death

After Death
Bagian 52: Pengaktifan Cakra III



Cakra Mahkota ( Sahasrara )


Cakra ketujuh disebut juga cakra Mahkota, Sahasrara, Shunnya, atau Niralambapuri. Cakra mahkota berwarna violet dan terletak pada ubun-ubun kepala. Cakra ketujuh ini adalah yang paling spiritual dari seluruh cakra utama. Cakra sahasrara berfungsi sebagai cakra Integrasi dan Pemahaman. Cakra ini juga merupakan sumber masuknya energi Tuhan ke seluruh bagian tubuh manusia dan juga sebagai sumber kesadaran manusia. Cara mahkota menjadi pintu gerbang ke diri kosmik atau diri ilahi, ke kesadaran universal. Itu terkait dengan yang tak terbatas, universal.


Ketika cakra ini terbuka, prasangka menghilang dari diri seseorang, menjadi lebih sadar akan dunia, dan tercipta koneksi ke diri sendiri.


Jika cakra mahkota kurang aktif, individu cenderung untuk tidak memiliki sense spiritual, dan mungkin cukup kaku dalam berpikir. Bahkan seseorang dengan cakra sahasrara yang tidak atau kurang aktif bisa mengalami depresi, mengasingkan diri, serta ketidakmampuan untuk belajar dan sulit mengerti.


Sedangkan bila cakra ini terlalu aktif, seseorang menjadi sangat mementingkan hal-hal terkait spiritual. Bahkan mungkin hingga mengabaikan kebutuhan tubuh, seperti kebutuhan untu makan dan minum, tempat tinggal, dan lain-lain.


Pram juga memiliki cakra mahkota yang telah aktif dengan baik. Namun, sebelum memulai meditasinya itu, Kakek Putih tetap mempertanyakan kesiapannya. Hal itu karena lama waktu yang digunakan untuk prosesi tersebut adalah paling lama dari kesemua meditasi sebelumnya.


Kedua, dalam meditasi puncak itu, Pram harus memiliki pondasi yang kuat, maksudnya cakra dasar atau cakra muladhara Pram harus terbuka atau aktif dengan baik. Bila Pram tidak memiliki pondasi yang kuat, maka bisa menghancurkan bangunan cakra yang telah diaktifkan.


"Aku telah siap, Kek." kata Pram penuh keyakinan.


Masih dalam posisi duduk bersila, Pram meletakkan tangannya di bawah perut.


Bentuk tangan pada meditasi terakhir ini hampir sama dengan bentuk tangan saat meditasi pada cakra ajna. Bedanya, jari telunjuk, jari tengah, dan jari manis disilangkan, bukan ditekuk ke dalam.


Mulanya, Pram menelakupkan kedua tangannya dengan arah seperti orang memohon. Kemudian ia membiarkan kedua kelingkingnya tetap dengan posisi begitu. Sedangkan jari telunjuk, tengah, dan manis pada tangan kanan dan kiri disilangkan. Sementara untuk ibu jarinya bertumpukan, yakni dengan ketentuan jempol kanan berada di atas jempol tangan kiri.


Pram lantas memusatkan pikirannya pada letak pusat cakra mahkota, yakni di bagian paling atas kepala(ubun-ubun). Ia benar-benar dalam kondisi santai dengan pikiran yang damai.


"Selamat Pram, kini semua cakramu telah aktif dan terbuka dengan baik dan seimbang." kata Kakek Putih yang kemudian menunjukkan kembali tawa khasnya setelah sekian lama tak tampak.


Pram tersenyum lega. Ia mengucapkan terima kasih sambil menahan air mata haru.


Kakek guru menambahkan informasi bahwa kini ia bisa dengan mudah mempelajari dan menguasai ilmu bahkan hanya dengan membaca, alias tanpa adanya guru sekalipun. Oleh sebab itu, Kakek Putih memintanya untuk bergegas menemukan buku "Anak Purnama Ketujuh".


Pram tahu itu adalah buku yang dimaksud Kharon untuk mencari tahu cara meningkatkan kekuatannya. Dan menemukan buku tersebut juga termasuk dalam rencana-rencana yang mereka susun alakadarnya.


" Tapi Kakek, entah mengapa aku merasa sangat lapar." kata Pram dengan wajah melas sambil mengelus perutnya.


"Itu karena kau belum makan selama tiga hari dua malam." Kakek Putih terekeh lagi.


Pram terperajat, matanya melotot dengan mulut terbuka. Ya, tentu saja Pram terkejut karena sepanjang yang ia tahu, pagi belum juga datang sejak malam penculikkannya itu. Suasana di sekitarnya jelas-jelas masih sama, gelap dan hanya diterangi sinar bulan yang temaram, dan sedikit terang dari cahaya sebuah obor bambu.


Sebetulnya prosesi pengaktifan cakra bisa dilakukan dalam waktu lebih singkat. Namun, Kakek Putih ingin memastikan bahwa proses aktivasi cakra yang dilakukan Pram telah benar-benar sempurna, sehingga tidak akan memungkinkan terjadinya penyumbatan cakra di kemudian hari, meski tanpa diperbarui.


"Kembalilah dan temui kodammu. Mungkin dia akan terbangun sebentar lagi. Dan sekarang tutuplah kedua matamu perlahan." kata Kakek Putih membuat ingatan Pram tertuju pada Kharon. Namun, entah mengapa kali ini ia tak merasa cemas lagi.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Akhirnya bab tentang Cakra telah usaai....