After Death

After Death
Bab 144: Jurus Pemanggil Roh Dewi Pencabut Nyawa



Gemericik air kolam yang terdengar mengalir itu semakin lantang sebab Pram dan Raja Ramadhana telah berhenti dari cekikikannya dan keduanya hening sesaat. Sang Raja tersenyum memandangi bunga mawar biru teringat hari-hari penuh tawa bersama sang istri tercinta dulu.


Sementara Pram, ia tersenyum sebab untuk kesekian kali ia tahu bahwa kekasihnya sangat menyayanginya. Lelaki itu bahkan rela menahan lapar hanya demi bisa makan bersamanya. Lantas saat tahu makanan dan minumannya telah habis padahal ia belum juga makan sedikit pun, Kharon justru mengatakan akan memasak lagi. Pram tak tahu bagaimana bisa orang pergi memasak dalam keadaan perut yang sangat kosong dan dengan rasa kecewa yang ada di hati. Kecuali jika Kharon telah membuang semua rasa kecewanya.


“Pram, kedatanganku ke sini selain kangen padamu, kangen pada masakan Kharon, juga karena aku ingin memberi tahu soal jurus Pemanggil Roh Dewi Pencabut Nyawa.” kali ini sang raja berkata dengan serius. Kembali menjadi Raja Ramadhana yang biasanya, membuyarkan lamunan Pram yang mulai ambyar ke mana mana.


“Iya, paman. Aku juga ingin menceritakan soal itu pada paman.” Pram menanggapi pernyataan serius sang raja dengan mimik muka yang serius pula.


“O, iya? Jadi apa yang ingin kau katakan padaku?” kini Raja Ramadhana tersenyum ramah dengan suara yang terdengar lebih ceria. Ia mengubah raut wajah dan gaya bicaranya sebab tidak ingin membuat Pram merasa tertekan.


“Begini, paman. Sudah berulang kali aku mempelajari jurus tersebut namun selalu gagal persis di saat aku telah merasakan kehadiran Dewi Pencabut Nyawa. Aku terus bertanya soal apa yang menyebabkan diriku begitu kesulitan untuk menguasai jurus tersebut. Dan di ujung pertanyaanku aku teringat pada pesan Kakek Putih, seorang lelaki tua di Bumi yang membantuku menyempurnakan semua cakra-cakraku.


Aku teringat pesan beliau untuk senantiasa menjaga keseimbangan cakra. Dominasi salah satu atau beberapa cakra dapat membuat cakra yang lainnya menjadi lemah. Ya, meskipun cakra-cakraku tidak akan tertutup lagi, tapi aku merasa ada yang tidak beres pada diriku yang mungkin disebabkan oleh ketidakseimbangan itu. Makanya tadi pagi aku bertekad untuk menyeimbangkan kembali ketujuh cakraku. Dan setelah berjam jam akhirnya kini semua telah kembali seimbang.” kata Pram tanpa ada cekikikan atau candaan sedikit pun.


“Ya, kau benar Pram. Semua yang terjadi dalam hidup kita, segala rasa yang kita alami, bisa berpengaruh pada energi dari cakra cakra dalam tubuh. Dan saat energi itu sudah tidak berimbang, kita akan cenderung melakukan hal negatif. Perasaan kita juga menjadi terganggu. Aku yakin setelah ini kau pasti akan menguasai jurus pemanggil roh itu. Sebab dari petunjuk yang aku dapatkan saat bersemedi, kau harus terlebih dahulu memastikan bahwa cakra-cakramu terbuka secara sempurna dan semua berjalan seimbang. Dan itu baru saja selesai kau lakukan. Bagus Pram. Besok ayo coba lagi jurus itu dan aku akan mendampingimu. Kau hanya perlu berkonsentrasi dan fokus saja.” kata Raja Ramadhana tak kalah serius.


"Baik, paman. Aku sungguh beruntung ada paman di sampingku sehingga aku merasa seperti memiliki seorang guru pendamping. Saat aku kebingungan, paman selalu ada untuk memberikan pencerahan yang tentu saja sangat membantuku." kata Pram tulus dari dalam hati.


“Kegembiraan telah datang.” Kharon memecah keseriusan dengan nada suaranya yang penuh semangat. Ia datang membawa omlet jamur dan wedhang ronde, minuman kesukaan kakek buyut Pram.


Raut wajah Raja Ramadhana dan Pram langsung berubah. Kini mereka tengah fokus pada makanan dan minuman yang dibawa Kharon, melupakan keseriusan yang baru saja terjadi. Pram membantu Kharon menurunkan nampan yang memuat tiga gelas wedhang ronde. Sedangkan Raja Ramadhana hanya duduk antusias sabar menunggu makanan dan minuman itu siap terhidang di meja.


“Jadi, telah sampai di mana pembicaraan barusan?” tanya Kharon sambil meletakkan sepiring omlet jamur lengkap dengan saus sambal pedas.


“Lupakan dulu semuanya, dan biarkan perutmu terisi dulu agar nyanyian perutmu yang sumbang itu segera berakhir." kata Pram sambil menyodorkan sesendok omlet yang telah dicocolkan ke dalam mangkuk sambal ke mulut Kharon. Kharon pun menerima suapan itu dengan sangat lahap karena telah menahan lapar selama berjam-jam.


Raja Ramadhana tersenyum mendapati keakraban tuan dan khodamnya itu. Ia tak mengerti bahwa keakraban itu lebih dari yang ada dalam benaknya. Itu bukan hanya keakraban biasa antara tuan dengan khodamnya, melainkan keakraban sepasang kekasih. Sang raja tak melihat hal itu sebab sudah terlalu fokus pada keinginannya untuk menjadikan Pram sebagai menantu.


“Apa ini wedhang ronde? Kesukaan sahabatku Sadawira?” tanya sang raja mengingat kakek buyut Pram.


“Iya, paduka. Dulu hamba sering membuatkan minuman ini untuk tuanku Sadawira.” Kharon tersenyum dan ingatannya sesaat juga kembali pada tuannya terdahulu yang sangat baik hati


“Dan kini, kau membuatkan minuman ini untuk buyutnya yang cantik. Hahaha...” kata Pram setelah menyeruput wedhang tersebut.


“Besok Pram akan mencoba kembali jurus Pemanggil Roh Dewi Pencabut Nyawa. Tubuh dan mentalnya kini telah lebih siap.” jawab sang raja setelah menelan omlet jamur.


Kharon langsung tersedak oleh minumannya. Ia tahu benar bahwa jurus itu sangat berbahaya. Selama ini Pram tidak mengalami cedera sebab roh itu belum sempat merasuk ke tubuhnya. Namun, jika roh Dewi Pencabut Nyawa telah masuk ke tubuh seseorang dan orang itu tidak mampu atau tidak kuat untuk mengendalikannya, maka roh itu akan menguasai orang tersebut selamanya alias tidak akan pernah bisa keluar atau dikeluarkan.


"Kau tidak perlu cemas, Ron. Aku sudah siap." kata Pram yang melihat keresahan tersangkut di wajah Kharon saat mendengar penjelasan dari Raja Ramadhana.


"Ya, Ron. Pram benar. Dia sudah siap. Dia akan baik baik saja. Roh Dewi itu tidak akan bisa menguasai Pram." kata sang raja menambahkan.


"Tapi, Pram..." Kharon jelas jelas tidak rela jika karena mempelajari jurus tersebut akan membahayakan keselamatannya.


"Percayalah padaku." ucap Pram meyakinkan. Sebetulnya ia ingin meyakinkan Kharon sambil memberikan sebuah pelukan. Tapi ia tentu saja mengurungkan niatnya sebab ada Raja Ramadhana di antara mereka.


Kharon hanya diam dan memandang Pram tanpa berkedip. Sama seperti Pram, ia juga sangat ingin memeluk gadis itu.


"Apakah aku boleh memakan potongan terakhir omlet ini?" tanya sang raja memecah keheningan.


Pram dan Kharon kompak hanya tersenyum dan mengangguk. Dan Raja Ramadhana pun membuat piring di hadapannya itu kosong. Hanya menyisakam beberapa remahan kecil.


Meski Kharon telah tersenyum, ia belum bisa melupakan kecemasannya pada keselamatan Pram yang akan mempelajari jurus Pemanggil Roh Dewi Pencabut Nyawa yang sangat berbahaya dan telah menelan banyak korban itu.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Halo readers... Numpang promosi ya... Saya lagi rilis novel baru, genre Adult Romance (hehe lagi nantang diri sendiri buat nulis di genre ini, setelah sebelumnya nantangin diri buat nulis di genre Kependekaran).


Judul novel baru saya: Menikah Karena Taruhan (dari judulnya saja sudah klise ya hehe)


Ini novel mau saya ikutkan ke lomba You are Writer 3 dari Noveltoon. Pengennya After Death yg maju tapi After Death sudah kontrak, Pendekar Pedang Naga juga sudah kontrak, jadi musti bikin novel baru buat ikut lomba.


Mohon kakak2 kalau ga keberatan bisa mampir ya, buat sekadar naruh like atau komen hehe... Makasih sebelumnya....