
Kamar Philemon sama persis dengan design kamar Bemius. Bemius sendiri yang meminta Raja Ramadhana untuk memberikan kamar yang sama agar tidak timbul kecemburuan. Tak heran baik raja ataupun ratu Shaman begitu bangga dengan kedewasaan putranya yang belum genap lima tahun itu.
Dinding kamar Philemon berwarna biru muda, penuh gambar bertema langit. Ada gambar awan, beberapa burung, juga matahari menghiasi dinding. Atap kamar bernuansa langit pada malam hari. Banyak ornamen bintang dan beberapa bulan.
Bemius melihat ibunya yang sesenggukan menahan tangis sambil memandangi adiknya.
"Ibu." Bemius memegang tangan Tri Laksmini erat. Lantas ia mencium tangan ibunya. Bemius juga mengecup kening adik laki-lakinya.
Tri Laksmini mengelus rambut Bemius yang selalu bisa membuatnya tersenyum. Ia memeluk erat Bemius seraya berusaha menghentikan tangisannya.
"Biarkan chanayang dan pengawal pergi dengan tenang, Ibu."
Bemius menatap wajah ibunya. Ia mengusap sisa-sisa air mata yang masih tampak di pipi ibunya.
Tri Laksmini mengangguk dan membaringkan Philemon di tempat tidurnya.
"Ibu akan mencuci muka dan pergi makan. Apa kau mau ikut?"
"Ibu makanlah dahulu. Aku masih ingin menemani Philemon."
Tri Laksmini lantas meninggalkan kedua putranya untuk melarutkan segala kesedihannya. Ia menyempatkan untuk menoleh ke belakang sebelum membuka pintu kamar. Senyum indah tampak kembali di wajahnya karena mendapati anak pertamanya mengecup kembali kening adiknya. Ia pun keluar dan berjalan ke meja makan yang ada di ruang tengah istana dengan penuh haru.
Ratu Shaman itu tak tahu, bahwa kecupan yang diberikan Bemius adalah kecupan perpisahan. Setelah beberapa saat terlewat, Bemius mengangkat adiknya yang tertidur pulas. Lantas menggendongnya.
"Kau tahu, kehadiranmu tak diinginkan. Cukup akulah pewaris tahta." Bemius kecil menaburkan serbuk berwarna hijau ke tubuh adiknya.
Raja Ramadhana yang menyaksikan hal itu langsung refleks merebut Philemon dari gendongan Bemius. Sebetulnya ia datang untuk mengajak anak pertamanya itu makan bersama, sementara sang ratu telah menunggu di ruang tengah.
Raja Ramadhana tak mengatakan apapun. Ia lantas memanggil seorang tabib untuk memeriksa kondisi Philemon. Saat tabib datang, Raja Ramadhana menggendong Bemius dan mengajaknya pergi ke kamarnya sendiri.
Sang Raja yang selalu ramah pada semua penduduk itu mendekap kuat anak lelakinya, tanpa mengatakan apapun. Lantas terisak. Ia teringat dengan pesan lelaki tua yang muncul tujuh malam berturut-turut dalam mimpinya saat Bemius masih dalam kandungan.
"Ayah." suara lirih Bemius membuat sang ayah semakin erat mendekapnya.
Terbesit dalam pikiran Raja Ramadhana untuk membunuh Bemius saat itu juga. Lantas membuang mayatnya masih di sumur tua kerajaan.
"Apa ayah akan membunuhku kali ini?" pertanyaan Bemius membuat ayahnya tersentak kaget. Raja Ramadhana memandangi Bemius kecil yang jernih matanya berwarna biru muda.
Raja Ramadhana semakin terisak. Ia bimbang. Apa ia harus menuruti kata hatinya atau perasaannya.
Bemius mengusap air mata ayahnya. Dan ia mengulangi lagi perkataannya yang mempersilakan ayahnya untuk membunuhnya.
"Tidak nak. Ayah tidak akan membunuhmu. Ayah akan menjagamu dari kekuatan jahat."
Raja Ramadhana menepati perkataannya pada Bemius. Ia bahkan merahasiakan semua yang ia ketahui tentang sisi lain putranya dari semua orang termasuk istrinya.
Setelah tenang dan tak terisak lagi Raja Ramadhana meminta Bemius untuk beristirahat di kamarnya sampai ayahnya datang kembali. Ia lantas menemui tabib yang memeriksa anak keduanya. Dan ternyata serbuk hijau yang ditaburkan Bemius adalah racun yang membuat Philemon sesak napas. Jika dibiarkan, Philemon bisa meninggal.
Raja Ramadhana seperti tercekik mendengar penjelasan sang tabib. Namun, ia juga lega karena nyawa Philemon masih bisa diselamatkan.
Satu hal yang mengganjal pikiran raja adalah dari mana Bemius mendapatkan serbuk racun itu. Ia lantas kembali ke kamar putranya itu untuk menanyakannya.
"Ada seorang gelandangan memberikannya padaku setelah dia menerima sekeping emas yang kuberikan sebagai sedekah."
"Lalu apa yang dia katakan, nak?"
"Dia memintaku untuk menaburkannya di tubuh Philemon."
Raja Ramadhana tak mengajukan pertanyaan lagi pada Bemius. Ia meminta panglimanya untuk menyelidiki semua gelandangan yang ada di tempat yang dimaksud Bemius. Sang raja menduga ada kekuatan jahat yang memanfaatkan tubuh anaknya. Ia bahkan melakukan ruwatan pada Bemius agar terbebas dari pengaruh jahat.
Tri Laksmini yang tak tahu apa-apa menanyakan tentang apa yang sebenarnya terjadi. Tentang mengapa Philemon tampak sangat lemas dan harus menjalani beberapa perawatan dari tabib. Juga sebab apa yang melatarbelakangi dilakukannya ruwatan pada Bemius.
Raja Ramadhana tak menceritakan banyak hal. Ia hanya mengatakan bahwa semua baik-baik saja. Hanya ada sedikit gangguan dari jin hitam yang ingin merusak kestabilan kerajaan.
Sayang sekali, Raja Ramadhana tak tahu bahwa putranyalah yang telah dengan sengaja menggunakan kekuatan jin hitam untuk mengganggu keluarganya sendiri.
Bemius pun mengikuti prosesi ruwatan dengan sangat taat. Ia dimandikan dengan air dari berbagai sumur, dengan taburan bunga aneka rupa di dalamnya. Ia juga meminum sejenis jamu berwarna hitam yang sangat pahit. Tapi bukan Bemius jika meronta-ronta menolaknya. Baginya rasa pahit itu sepadan dengan apa yang akan ia dapatkan, yakni kepercayaan ayahnya lagi. Ruwatan itu dijalani Bemius selama tiga hari berturut-turut.
Selama proses ruwatan Bemius menyimpan senyum kemenangannya yang telah berhasil mengelabuhi ayahnya. Ia bahkan akan menyusun kembali rencana untuk menghabisi adiknya.