
Pram merasa berat meninggalkan keluarganya. Namun, ia tahu waktu yang ia miliki tak banyak lagi. Jika bertahan sebentar saja, Pram takut Kharon akan nekat menyusulnya.
Pram benar. Terbesit dalam pikiran Kharon untuk menjemput Pram di rumahnya. Ia telah terlalu lama menunggu Pram di jembatan. Entah berapa wewe dan kuntilanak yang telah menggodanya. Mulai dari sangat ramai, hingga kini jembatan tempat Kharon menunggu Pram, sudah tampak lengang, gadis itu tak kunjung datang. Kendaraan bermotor yang sedari tadi bergantian melewati jembatan, kini sudah sepi karena malam semakin larut.
Kharon yang merasa hampir mati karena cemas memusatkan pikirannya agar lebih tenang. Ia juga duduk bersila, berusaha untuk melakukan komunikasi jarak jauh dengan Pram untuk mengingatkan soal waktu yang semakin sempit.
"Bergegaslah, Pram. Sudah saatnya kita pergi. Atau kau ingin aku ke situ?" begitulah pesan yang dikirimkan Kharon.
Pesan itupun dengan cepat diterima Pram. Pram kemudian berpamitan pada ketiga anggota keluarganya itu. Ia juga mengecup dahi Ghozie. Lantas pergi.
"Apa kau benar-benar ingin membunuhku?" ucap Kharon kesal.
Pram hanya terdiam dan memasang wajah penuh sesal, berharap Kharon akan mengampuninya dan tak meneruskan omelannya.
"Tenggorokanku seperti tercekik karena kesal. Kau benar-benar sangat merepotkan." lanjut Kharon mengeluarkan kedongkolannya
"Maaf telah membuatmu menunggu lama." kata Pram lirih sambil menunduk. Ia tak berani melihat wajah Kharon yang dipenuhi kejengkelan.
"Tak masalah jika aku harus menunggu lama. Menjadi masalah karena kau hanya memiliki waktu yang tidak lama. Apa kau tahu apa yang terjadi jika kau masih di sana melebihi 1x6 jam?" kini Kharon bahkan berbicara sambil berkacak pinggang.
"Semua jin dan siluman jahat yang ada di rumahmu akan menangkap dan mencabik-cabik jiwamu! Dan kau tak mampu berkutik lagi. Lalu mereka akan menyerahkan jiwamu yang telah hancur ke raja mereka yang bengis, Bemius Ramadhana Putra." kata Kharon dengan nada yang lebih tinggi dan lantang.
"Aku tahu aku salah. Dan aku sudah meminta maaf. Tidak bisakah kau menyimpan dahulu unek-unekmu itu. Semua ocehanmu membuat waktu kita semakin sempit." tutur Pram dengan nada tak kalah tinggi.
"Kau tak mengerti rasanya bertemu kembali dengan keluarga setelah sekian lama terpisah. Kau juga tak tahu keluarga seperti apa yang aku temui barusan. Kau bahkan mungkin tak pernah merasa rindu pada keluargamu." kini Pram yang memuntahkan amarahnya.
Sebetulnya bukan kata-kata itu yang ingin ia lontarkan. Pram ingin menceritakan bagaimana latar belakang keluarganya. Tapi yang terdengar justru amarahnya. Dan amarah itu juga bukan untuk Kharon, melainkan untuk dirinya sendiri yang tak bisa menjaga keluarga karena harus pergi menjalankan tugas entah.
"Maafkan aku. Aku sebatang kara sejak kecil." tanggapan Kharon kali ini membuat Pram skak mat.
"Kharon aku sungguh menyesal."
"Sudahlah, bukan salahmu jika tak mengerti rasanya sepi dan sendiri sejak lahir. Sekarang sudah waktunya kita untuk pergi. Pejamkan matamu dan bersiaplah."
Kharon dan Pram bersiap untuk melakukan teleportasi menggunakan bulu sayap Eliztanu yang tinggal satu. Mereka akan berteleportasi ke Anastasia Cato.
"Apa aku masih boleh menggandengmu?"
Pram tak menjawab. Ia hanya menyodorkan tangannya karena malu.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Jika ada plot hole atau kejanggalan isi cerita, mohon ingatkan author di komentar ya, Kak. Karena banyak pikiran, kadang Author silap dan membuat plot hole 😅