After Death

After Death
Bab 66: Kesempurnaan Cakra Sahasrara Prameswari



Pram mengabaikan apapun yang dilakukan Roh Yurei pada tubuhnya. Ia menjaga pikiran dan batinnya untuk tetap fokus pada cakra ketujuhnya. Dan saat Roh Yurei telah berhenti membentur-benturkan tubuhnya ke pohon-pohon, Pram mulai berusaha mengendalikan emosi roh perempuan itu dengan mengungkap masa lalunya.


"Aku tahu status keluargamu yang terpandang di masyarakat membuat cintamu pupus bahkan membuatmu kehilangan lelaki yang kau cintai untuk selamanya."


Pram merasakan Roh Yurei bergetar menahan luka masa lalunya itu.


"Tapi pada siapa kau tujukan semua dendammu? Pada orang tuamu sendiri? Pada ayah yang selalu menggendongmu di punggungnya? Atau pada ibu yang selalu mengepang rambutmu setiap pagi? Atau pada kakak laki-lakimu yang membiarkan wajahnya lebam saat kau diganggu preman jalanan?"


Yurei meronta-ronta. Ia menutup kedua telinganya dan meliliti Pram dengan rambut panjangnya. Lilitan itu begitu kuat seperti lilitan ular sawah pada tubuh mangsanya. Lantas tubuh Pram beberapa kali terhempas lagi membentur batang pohon, tapi ia tak merasakan sakit.


"Dan hadiah apa yang ingin kau minta dari Bemius? Apakah kematian ayahmu sebagai otak pembunuhan? Atau kematian ibumu yang telah mengurungmu sehingga kau tak dapat keluar untuk menolong kekasihmu? Atau kematian kakakmu yang dengan tega memukuli kekasihmu hingga sekarat lantas menguburnya hidup-hidup? Atau kau ingin semua nyawa keluargamu? Apa dengan begitu semua dendammu impas? Atau justru membuatmu merasakan kehilangan yang lebih besar?"


Berondongan pertanyaan yang ditembakkan Pram membuat Roh Yurei terduduk lemas di atas sebatang kayu yang roboh. Tidak tampak kaki di tubuhnya. Ia meletakkan Pram di sampingnya. Yurei menunduk dan terus menangis. Namun, kali ini ia tak menjerit-jerit, hanya lirih.


"Kau tahu Yurei, jika kau mati atas kehendakmu sendiri, aku mati terbunuh tepat dalam pesta perayaan ulang tahunku yang ke-20. Awalnya aku begitu marah menyadari kejahatan orang-orang yang selama ini tampak baik padaku. Tapi aku tak bisa lebih lama menyimpan dendam pada kedua saudara kandungku. Sebaliknya, aku sekarang justru iba melihat keadaan mereka, kesulitan, dan kesedihan mereka."


Roh Yurei melihat air muka Pram yang tampak menahan tangis.


"Kini tak ada lagi dendam yang tersisa dalam hatiku. Kau pun harus ikhlas dan mencoba merenung. Walau bagaimana pun, kita turut andil atas kemalangan yang menimpa hidup kita, dengan kata lain, semua terjadi juga karena kesalahan kita sendiri. Seandainya dulu aku lebih peduli dan lebih mengerti saudaraku, mungkin semua tak akan jadi begini." kali ini Pram mengusap air matanya tanpa mengeluarkan isakan.


Sementara itu, Kharon yang duduk dan menunggu kehadiran Pram terlihat sangat gelisah. Namun, ia tetap menjaga untuk melakukan intruksi tuan puterinya itu.


"Tapi, dengan semua yang kualami, kini aku memiliki sahabat yang sangat tulus dan peduli padaku, siluman harimau putih yang kau serang tadi."


"Cobalah untuk menemui keluargamu melalui mimpi. Katakan pada mereka tentang semua kemarahan dan kesedihanmu pada mereka. Lalu, sampaikan pula bagaimana akhirnya kau memaafkan mereka. Dan mintalah agar mereka melanjutkan hidup mereka dengan sebaik-baiknya serta meminta mereka untuk selalu mengenangmu dengan cara mendoakanmu." Pram mengelus pundak Roh Yurei.


"Pergilah. Aku akan berpura-pura tak pernah melihatmu."


Yurei meminta Pram untuk segera melarikan diri dan sembunyi dari pantauan mata-mata Bemius. Ia juga mengatakan agar Pram lebih berhati-hati karena Bemius telah meminta anak buah mereka untuk berjaga-jaga di semua tempat yang mungkin akan disinggahi Pram dan Kharon.


Pram pun kembali pada Kharon tanpa diikuti Roh Yurei. Ia membuat Kharon tercengang karena berhasil menyelamatkan dirinya sendiri, juga bahkan telah menyelamatkan khodamnya yang sempat kualahan menghadapi besarnya amarah dalam diri Yurei.


Kharon memeluk Pram dengan kuat.


"Maafkan aku telah membiarkanmu mengalami semua ini."


"Aku bisa menahan sakit fisik, tapi bukan sakit hati."


"Maafkan aku untuk semuanya. Akan aku ceritakan semuanya nanti padamu saat kita telah aman."


Pram mengangguk dan memeluk balik Kharon. Ia sendiri tak mengira bisa melalui insiden itu tanpa takut yang ia rasakan sebelumnya.