After Death

After Death
Bab 177: Racun yang Tertanam



Hari ini adalah hari baru bagi Raja Ramadhana. Ia sangat bersemangat hingga bangun dini hari saat orang masih nyenyak tidur. Perasaannya becampur aduk. Ada rasa senang pastinya, haru, lega, dan gugup.


Raja Ramadhana berulangkali menatap dirinya sendiri di dalam cermin. Ia merasa perlu untuk memastikan bahwa penampilannya sangat baik sebab Raja Ramadhana ingin menyapa semua penduduk Shaman pagi ini. Dan yang teristimewa, ia akan ikut Pram mengajar anak anak Shaman.


Philemon yang jelas jadi tak bisa tertidur setelah sang ayah bangun, begitu bahagia melihat senyum bahagia yang lepas dari Raja Ramadhana, tidak terbebani seperti dulu.


“Apa mereka akan menyukaiku?” tanya Raja Ramadhana sambil membetulkan lengan bajunya.


“Tentu saja, ayah. Apa ayah tidak menyadari betapa menyenangkannya ayah?" jawab Philemon yang turut tersenyum lebar.


"Kau ini, selalu mengatakan apa yang ingin aku dengar." Raja Ramadhana memeluk Philemon erat dan lama.


Hari ini rencananya Raja Ramadhana akan menjadi tamu istimewa dalam pelajaran ‘perawatan’ yang akan disampaikan langsung oleh Pram.


Pram dan Kharon mengerti bahwa mereka tidak akan bisa berbohong selamanya kepada anak anak Shaman yang telah terbentuk sebagai anak Anathemus. Dan hal terbaik yang perlu dilakukan adalah menyiapkan semuanya agar saat kebohongan itu terungkap tidak menimbulkan rasa sakit bagi siapa pun.


Karena Pram dan Kharon telah memperkenalkan diri sebagai pengajar, maka mereka pun terus berperan demikian di hadapan anak anak sebagaimana seorang guru. Namun, bedanya jika Bemius berusaha keras mengajarkan keburukan serta ilmu ilmu hitam tersebut, kini mereka juga berjuang untuk bisa mengajarkan hal baik yang diharapkan akan mengurangi keburukan itu.


Pram sengaja mengajak Raja Ramadhana turut belajar setidaknya untuk mengingatkan para anak Shaman itu, bahwa raja asli mereka masih hidup. Meski kehadiran Raja Ramadhana tak mungkin akan langsung menyadarkan mereka, setidaknya pertemuan itu akan mengobati rindu seorang pemimpin kepada rakyatnya.


“Bagaimana tidur kalian? Apakah nyenyak?” tanya Pram kepada anak anak yang telah berbaris rapi di hadapannya.


“Nyenyak.” jawab anak anak itu kompak.


“Bagus. Apa kalian senang berada di sini?” tanya Pram lagi.


“Senang...! ! !”


“Bagus. Ya?” ucap Pram melihat seorang anak yang mengangkat tangan kanannya.


“Apakah ini semua milik Raja Bemius?” tanya anak tersebut, membuat Pram tersenyum getir dan menelan ludah. Demikian pula dengan Raja Ramadhana yang berdiri di belakang para anak itu.


Namun, setiap kali rasa sakit hendak menguasai hatinya, Raja Ramadhan selalu menghibur dirinya sendiri. Setidaknya aku mesti berterima kasih pada Bemius karena telah menjaga dan merawat para generasi Shaman dengan sangat baik selama ini.


“Tidak. Ini adalah mlik seseorang yang sengaja membiarkan kita di sini untuk belajar banyak hal. Beliau bernama Ramadhana. Tapi ada banyak orang yang memanggilnya Raja Ramadhana karena beliau seperti seorang raja yang selalu berusaha membantu dan mengayomi orang lain. Kenalkanlah, ini adalah Raja Ramadhana. Sahabat, ayah, guru, sekaligus panutan bagi saya.” Pram mengenalkan sang raja dengan menunjuk ke arah belakang anak anak. Membuat barisan itu secara kompak menoleh ke belakang.


Raja Ramadhana terlihat tersenyum lebar dengan mata yang menahan air mata haru. Ia melambaikan tangan kepada anak anak, dan dibalas dengan senyim dan lambaian juga.


“Entah mengapa sepertinya aku tidak asing dengan wajah itu.” celetuk seorang anak sambil menggaruk kepalanya.


“Iya, sepertinya aku juga mengenalnya.” kata seorang anak lainnya.


Pram tersenyum berharap anak anak itu segera mengingat masa lalu mereka bahwa raja mereka yang sesungguhnya adalah Raja Ramadhana.


“Benar, kau benar. Wajahnya memang sangat mirip dengan wajah raja Bemius.” kata seorang lainnya membenarkan.


Dan kini anak anak yang ada di hadapan Pram itu tengah saling berbicara satu sama lain, hingga terdengar seperti suara dengungan lebah. Pram menjadi sedikit gugup mendengar semua ucapan anak anak yang ada di depannya. Sepertinya doktrin yang diberikan oleh Bemius telah membuahkan hasil yang seperti diinginkan.


“Tuan, apakah Tuan adalah keluarga dari Raja Bemius?” tanya seorang anak setelah mengacungkan tangannya.


“Benar.” jawab sang raja masih dengan senyum yang tersungging.


“Apanya? Kakaknya atau adiknya?” tanya seorang lagi.


“Bukan keduanya. Aku adalah ayahnya. Ayah dari Bemius Putra Ramadhana.” jawab Raja Ramadhana yang terlihat sangat berusaha untuk mempertahankan senyumnya.


Pram sangat mengerti apa yang sekarang dirasakan oleh Raja Ramadhana. Pasti sangat sulit untuk menerima kenyataan menjadi orang tua dari orang yang sangat jahat, kejam, dan tidak memiliki hati.


Anak anak Shaman itu sangat terkejut mendengar jawaban dari Raja Ramadhana. Percakapan mereka dengan teman di samping kanan dan kiri kini terdengar lebih lantang. Macam macam yang mereka bicarakan. Walau tidak terlalu lantang dan diucapkan dengan suara tertahan itu, cukup jelas untuk didengar.


Pembicaraan mereka rata rata mengenai kejahatan Raja Ramadhana yang tega melukai Bemius. Padahal Bemius teramat sangat menyayangi ayahnya. Tidak hanya itu, mereka juga membicarakan kejahatan Raja Ramadhana yang telah tega mengusir anaknya sendiri. Membuat Bemius menderita sendiri saja dalam pengasingan.


 


Dalam situasi yang tak lagi terkendali itu Raja Ramadhana akhirnya pergi meinggalkan anak anak Shaman karena sudah tidak kuat lagi mendengar segala fitnah keji yang dilakukan Bemius selama ini. Raja Ramadhana sama sekali tidak menyangka jika Bemius selama ini telah berusaha membuat anak anak itu membenci dirinya.


Pram sempat bingung mesti menyusul sang raja atau membuat anak anak itu tenang. Tapi pada akhirnya Pram memilih untuk tetap bersama anak anak itu. Ia meminta anak anak untuk tenang agar pembelajaran segera dimulai. Syukurlah, kata Pram dalam benaknya ketika anak anak tersebut mau menuruti ucapannya.


Setelah mengetahui bahwa selama ini anak anak di hadapannya itu tidak hanya mempelajari ilmu hitam, tetapi juga menerima racun kebencian yang sengaja dijejalkan Bemius, Pram menjadi lebih berhati hati dalam memutuskan sesuatu. Dan Pram bertekad akan mengubah pemikiran anak anak itu tentang Raja Ramadhana.


“Racun yang telah diberikan setiap hari setiap saat tidak mungkin bisa langsung disembuhkan begitu saja. Harus ada perawatan intensif yang mesti dilakukan agar racun itu bisa dinetralkan.” ucap Pram dalam hati.


Pram tidak ingin merusak suasana hati para anak itu. Ia mengajak anak anak itu untuk bermain, bernyanyi, sambil belajar dengan cara bergembira. Dan ketika Pram merasa semuanya telah cukup, ia pun mulai menyampaikan materi pada hari itu.


“Baiklah, kalian akan belajar bagaimana caranya merawat orang sakit. Hal ini untuk melatih kepekaan kalian dalam menolong sesama, juga kesigapan kalian dalam menghadapi suatu masalah. Kalian tidak boleh malas atau pilih kasih. Harus mengerjakannya dengan baik supaya orang yang kita rawat bisa cepat sembuh.” kata Pram membuat anak anak mengangguk mengerti.


Pram kemudian mengajak anak anak berdiri di halaman depan rumah. Sementara di dalamnya Kharon dan juga Philemon telah bersiap untuk membantu.


“Apa kalian telah siap untuk belajar?” tanya Pram sangat bersemangat.


“Siap... ! ! !” jawab anak anak tak mau kalah.


“Baik. Nanti kalian akan dipersilakan masuk ke dalam. Di balik tembok ini ada banyak sekali orang orang sakit yang memerlukan perhatian dan perawatan. Selain itu, nanti di dalam rumah rawat ini kalian tidak hanya akan belajar bersama saya, tetapi juga dua pengajar lainnya."