After Death

After Death
Bab 134: Pusaka Panah Naga Api



Pram melihat Kharon tengah terbaring di atas lantai beralaskan tikar dengan selimut yang hampir menutup seluruh tubuh. Entah apa yang ada dalam pikiran lelaki itu, pikir Pram. Tubuh Kharon menunjukkan ia sedang kedinginan. Namun, jika memang benar begitu, tentu Kharon sendiri tahu bahwa lantai bukan tempat yang tepat.


“Ron, apa kau baik-baik saja.” tanya Pram sambil menepuk pundak Kharon.


“Heeem. Biarkan aku tidur sebentar Pram. Aku mohon jangan membangunkanku dulu.” kata Kharon samar-samar.


Pram heran, jika memang Kharon sedang dilanda kantuk, mengapa baru sekarang. Ia lihat sedari tadi Kharon sepertinya tampak segar bugar dan tidak menunjukkan tanda-tanda mengantuk. Namun, Pram membiarkan keganjalan yang ia rasakan itu berlalu, karena semalaman lelaki itu memang tak tidur. Lagi-lagi karena ulahnya.


Akhirnya Pram mengurungkan niatnya untuk berkata dan bertanya macam-macam. Ia membiarkan Kharon mendapatkan waktu tidur sebagai gantai tidur yang terlewat tadi malam. Lantas ia pergi perlahan agar tidak menimbulkan suara yang menganggu.


Pram berjalan menghampiri Raja Ramadhana dan Philemon. Ia sengaja menjauh dari Kharon, sebab jika masih ada di dekat khodamnya itu, ia tidak akan membiarkan Kharon tidur dengan tenang. Pasti ada saja ulahnya yang tujuan akhirnya adalah membuat Kharon terbangun.


“Haaah, sepertinya Kharon memang sedang ngantuk berat. Ia bahkan menjawab pertanyaanku dengan suara yang terdengar seperti dengungan lebah.” keluh Pram sambil duduk dan memungut sebuah kue macaron hijau.


“Memangnya kenapa semalam Kharon tidak tidur, Pram? Apa kau juga tidak tidur?” tanya Philemon turut mengambil sebuah macaron hijau.


Pram terbatuk mendengar pertanyaan Philemon. Itu adalah pertanyaan mudah yang jawabannya sulit diungkapkan. Tak lucu jika ia menjawab tak tidur juga. Dan pertanyaan lain pasti akan terlontar setelahnya. Apa iya, Pram mesti cerita bahwa mereka semalam tak tidur karena asyik ciuman.


Ia kemudian meminum air lemon sebelum berkata apapun. Dan setelah tenggorokannya sudah mulai tak serak lagi, ia pun baru membuka mulutnya.


“Kalau aku tidak tidur, tentu aku telah mengantuk seperti Kharon saat ini. Aku tak tahu apa yang tengah mengganggu pikiran Kharon. Dan sepertinya itu membuat dia terus terjaga tadi malam. Akhir-akhir ini pikiran Kharon memang sepertinya agak kacau.” kata Pram ragu-ragu sebab ia sedang berbohong. Ia tidak ingin Raja Ramadhana dan Philemon curiga, apalagi sampai tahu kalau semalam ia dan Kharon berciuman, juga bermesraan, berkelakar bersama, dan lain sebagainya. Ia tidak ingin kedua orang di hadapannya itu beranggapan bahwa mereka juga telah bercinta.


“Cobalah kau tanyakan pada khodammu itu, apa yang sedang ia pikirkan. Sebagai tuan dan khodam kalian harus terbuka dan saling percaya, dan tentang apapun yang terjadi tidak boleh menutup-nutupi atau ada rahasia di antara kalian.” sang raja memberi nasihat dengan sangat serius.


Pram tengah menahan tawa dalam hatinya. Entah apa saja yang ia ucapkan dalam hati mendengar petuah Raja Ramadhana. Dan Pram hanya mengangguk sambil terus memasukkan macaron ke dalam mulutnya.


“Tapi kalian tidak perlu cemas. Kharon baik-baik saja. Dan ia pasti akan mampu mengatasi masalahnya.” kata Pram tanpa berhenti mengunyah.


“O, iya Pram. Ayah memiliki suatu hadiah untukmu. Hadiah yang sangat istimewa yang bahkan belum pernah diberikan kepada anak kandungnya. Jangankan dikasih, melihatnya saja aku belum pernah. Aku yakin kalau kau akan menyukainya.””


“Benarkah?” mata Pram berbinar-binar mendengar penjelasan Philemon.


Dan setelah melakukan beberapa gerakan, sebuah panah lengkap dengan busurnya sudah berada di atas tangan Raja Ramadhana. Panah itu berwarna emas, begitu juga dengan busurnya. Semua berwarna emas tanpa ada campurn warna lainnya sedikitpun.


“Ini adalah Pusaka Panah Naga Api. Pusaka milik istriku, Tri Laksmini. Ini bukan panah biasa. Kau bisa menggunakan pusaka ini untuk membantu melindungi diri dari musuh. Nah, sekarang pusaka ini menjadi milikmu.” kata Raja Ramadhana sambil menyodorkan panah beserta busurnya itu disertai harapan besar bahwa gadis yang hendak menerima pusaka itu suatu saat menjadi menantunya.


Busur panah yang melesat dari panah tersebut bisa mengeluarkan api yang menjilat-jilat. Bukan api yang berwarna merah, melainkan api paling panas, yakni yang berwarna biru berpadu warna putih. Busur api tersebut dapat mengejar sasaran dan tidak akan berhenti mengejar sebelum dihentikan oleh sang pemilik pusaka, sebelum dipatahkan, dan atau sebelum mengenai sasaran.


Tidak hanya itu, busur panah pun bisa berubah menjadi naga yang mampu mengeluarkan api biru. Naga tersebut mampu melukai lebih dari sepuluh orang sekaligus yang ada di hadapannya. Selain itu, busur panah yang menjelma menjadi naga dengan ukuran sangat besar itu juga bisa ditumpangi seseorang.


Dan yang tidak kalah istimewa adalah, saat busur panah di ambil dari tempatnya, secara otomatis akan ada busur baru yang muncul menggantikan busur yang telah melesat. Itu artinya jika Panah Pusaka Naga Api digunakan sebagai pelengkapan perang, tidak akan membuat pemiliknya kehabisan amunisi. Itu sungguh luar biasa. Pram tidak akan mungkin menemukan pusaka tersebut di manapun juga.


“Apakah ini benar untukku, Paman?” kata Pram penuh semangat.


Sang raja mengangguk dan tersenyum. Pram sulit memercayai apa yang ada di hadapannya. Pusaka sehebat itu diberikan Raja Ramadhana kepadanya tanpa syarat.


“Aku tak tahu bagaimana cara menunjukkan kekagumanku pada panah ini.” Pram terus mengamati pusaka yang ada di hadapannya tanpa berkedip. Ia tidak menyangka akan mendapat hadiah seistimewa itu.


“Apa kau suka?” tanya sang raja masih dengan senyumnya yang menawan.


“Apa paman bercanda? Tentu saja aku suka, sangaaaaat suka.”  Pram mengelus-elus panah dan busurnya


“Syukurlah kalau kau suka. Itu aku dapatkan setelah melakukan pertapaan selama bertahun-tahun. Saat itu aku dan Tri Laksmini belum menikah. Aku sengaja memberikan pusaka itu sebagai hadiah pernikahan." kata sang raja sambil turut mengambil kue macaron.


"Aku tak tahu harus dengan apa aku berterima kasih. Aku merasa sangat terhormat menerima pemberian berharga dari paman ini. Aku berjanji akan menjaganya dengan sebaik mungkin." Pram hendak menangis karena terharu.


"Kemampuan memanahmu sungguh luar biasa, Pram. Ditambah dengan pusaka ini, kau akan menjadi seorang yang hebat.” Raja Ramadhana mengelus rambut Pram.


Philemon sungguh bahagia melihat ayahnya begitu dekat dengan gadis yang ia cintai dan ayahnya pun sangat menyayangi Pram. Melihat keduanya seperti itu membuat Philemon semakin mantap untuk meminang Pram.


“Cobalah, cobalah Pram. Kau bisa mencobanya untuk menangkap ikan di sungai.” kata sang raja menyarankan. Membuat wajah Pram langsung berbinar.


“Tidak raja, aku tidak akan mencobanya di sini. Tidak ada satu apapun di pulau ini yang pantas untuk di bunuh. Aku tidak akan menggunakan pusaka ini sembarangan. Pusaka Panah Naga Api hanya akan melukai orang, jin, atau siluman yang jahat, seperti Bemius.” celoteh Pam dengan suara menggebu-gebu.


Philemon dan Raja Ramadhana langsung terdiam. Philemon tahu, sejahat apapun kakaknya, ayahnya masih sangat menyayangi Bemius. Sang raja tidak ingin Bemius mati sebagai jin jahat, ia selalu berharap Bemius akan berubah menjadi jin yang baik suatu saat nanti. Ayahnya meyakini itu. Maka, ketika mendengar Pram berkata demikian, raut muka ayahnya langsung padam. Pram pun menyadari itu. Ia sungguh menyesal telah berkata demikian.


“Maafkan aku, Paman. Aku sama sekali tidak bermaksud melukai hati paman. Tidak seharusnya aku berkata begitu. Aku hanya sangat terbawa suasana.” Pram tampak cemas dan memegang tangan sang raja lalu membungkuk dan menempelkan dahinya.


Raja Ramadhana tersenyum. Ia maklum dan sama sekali tak marah pada Pram. Ia hanya terkejut untuk yang kesekian kalinya. Kaget oleh hal yang sama, yakni putra sulungnya adalah jin jahat yang sangat pantas untuk dibunuh.