After Death

After Death
Bab 58: Perjalanan Menuju Lembah Namea



"Tunggu." kata Pram membuat Kharon mengurungkan niatnya untuk berteleportasi.


"Ada apa lagi Pram? Kita bisa mati di sini jika tak kunjung pergi."


"Aku tak mau jika kita mengalami apa yang terjadi pada Dante di Danau Orakel. Cobalah kau sebutkan dengan gamblang kemana kita akan pergi. Jangan hanya mengatakan mau ke Cato."


Kharon mengangguk. Apa yang dikatakan Pram memang benar.


"Bawa kami ke tempat tinggal Dewi Thalassa di Lembah Namea."


Kharon dan Pram menutup mata. Mereka berharap akan langsung bertemu Dewi Thalassa sehingga tidak perlu bersusah payah menyeberangi Danau Orakel.


Dan ketika keduanya membuka mata, mereka menyadari bahwa tempat mereka mendarat bukanlah Lembah Namea, melainkan itu adalah semak bambu kuning.


"Ini semua salahmu. Mengapa kau tak menyebutkan dengan jelas tempat tinggal Dewi Thalassa? Lembah Namea kan luas." entah mengapa Pram merasa perlu untuk marah.


"Apa kau masih marah padaku karena tadi telah membuatmu terburu-buru meninggalkan keluargamu?" tanya Kharon lirih.


"Em, tidak. Mengapa aku harus marah?" Pram sadar tingkahnya seperti seorang anak yang ngambek pada orang tuanya, atau juga serupa dengan tingkah gadis remaja yang kesal pada kekasihnya.


"Ayolah Pram. Lupakan semua kata-kata kasarku di jembatan tadi. Bukankah katamu kau tidak peduli dengan kata-kataku yang kasar? Bukankah katamu kata-kata kasar selalu keluar bersama terbukanya mulutku?"


Pram tertawa geli. Wajahnya memerah. Dan ia menutup mulutnya untuk menghentikan tawa yang masih tersisa.


"Oke, oke. Jadi mengapa kita bisa mendarat di sini?"


"Seperti kataku dulu, mungkin ini adalah satu-satunya gerbang bagi penghuni dimensi lain untuk masuk ke Anastasia. Kalau memang kegagalan pendaratan kita ini karena tujuan yang tidak jelas, harusnya seandainya tersesat pun tentu tersesat di sekitar Lembah Namea."


Penjelasan Kharon kali ini sangat masuk akal. Mereka pun lekas memulai perjalanan menuju Lembah Namea. Sebelumnya Kharon merasuk terlebih dahulu pada tubuh Pram.


"Berkonsentrasilah, Pram. Alirkan energimu ke tubuhku agar aku bisa membentuk lingkaran perlindungan yang lebih kuat. Aku yakin, di Anastasia ini sudah banyak mata-mata Bemius yang berjaga-jaga."


Setelah merasa aman kareana terlindungi,  mereka pun lekas menuju Lembah Namea. Dalam perjalanan, mereka berkomunikasi membahas tentang cara terbaik menyeberangi Danau Orakel tanpa harus berdarah-darah. Kali ini mereka sepakat untuk berbicara menggunakan batin masing-masing agar tidak menimbulkan kecurigaan.


"Bagaimana kalau kau berubah wujud menjadi harimau putih? Dengan begitu kau bisa membawaku terbang."


"Tidak bisa. Seingatku danau itu hanya bisa dilewati dengan berenang, bukan terbang."


"O, iya. Aku lupa soal itu Kharon."


"Ayolah, kau memang sering lupa soal banyak hal, Pram. Soal keselamatanmu sendiri saja kau tak ingat."


Pram tahu Kharon mengatakan itu dengan sedikit tawa di ujung bibir. Ia sadar kalau Kharon sedang mengejeknya soal kunjungannya ke keluarga.


"Jadi, kita harus bagaimana?"


"Mau bagaimana lagi. Tidak ada pilihan lain selain menyeberanginya."


"Kau lupa lagi Pram, aku berbeda dengan kucing yang ada di Bumi. Aku ini harimau, meski kami sama-sama dari keluarga Felidae, tapi aku ini harimau. Siluman pula."


"Iya, iya. Sudah berdebatnya. Kau ini, sejak kau tidur tiga hari dua malam tanpa bangun, dirimu menjadi semakin uring-uringan."


"Kau juga. Semenjak semua cakramu terbuka, bukannya jadi bijak, malah jadi sensi. Omelanmu sudah seperti ibu-ibu saja."


Dan perdebatan keduanya tidak berhenti juga sampai akhirnya mereka tiba di Danau Orakel.


"Untuk danau seindah ini, ikan-ikan ganas ini sungguh tak sesuai." kata Pram sambil menggelengkan kepalanya.


"Justru bagus, dong. Kalau begini kan tak ada yang berani merusak." celetuk Kharon terdengar ketus.


"Kenapa kau sewot? Dan sejak kapan kau pakai 'dong' dalam ucapanmu? Dang, dong, dang, dong." tutur Pram lebih ketus.


"Ya, sejak bersamamu. Kau ini membawa pengaruh besar pada diriku. Aku jadi sulit tidur memikirkan keselamatanmu, jadi sedikit kurus karena mengurangi porsi makan agar kau tetap kenyang, dan jadi semakin bahagia karena kita selalu bersama." Kharon lekas menutup mulutnya. Ia lupa masih ada Diadem Naga Perak di kepalanya yang membuat ia selalu berkata jujur apa adanya.


Pram tertawa keras-keras. Ia bahkan sampai memegangi perutnya. Terpingkal-pingkal.


"Kau ini sungguh lucu, Kharon." kata Pram masih tanpa meletakkan tawanya.


Kali ini Kharon hanya diam dan tersenyum. Ia tak berani berbicara lagi, khawatir perkataannya akan semakin membongkar rahasianya sendiri.


Pram menarik napas panjang, mencoba untuk menghentikan tawa.


"Begini saja," Pram memberi jeda pada ucapannya karena napasnya masih tersengal.


"Bagaimana kalau kita menggunakan ilmu ilusi. Di sini ada banyak ikan. Aku khawatir ilusi yang aku buat tak cukup kuat."


"Kau benar, Pram. Kita bisa menggunakan ilmu ilusi untuk bisa menyeberang tanpa harus terluka."


"Jadi begini skenarionya, aku membuat ikan-ikan berhalusinasi seperti melihat banyak potongan daging manusia segar yang di lemparkan ke danau sebelah kiri. Lalu, kau buat mereka melihat kita sebagai sebatang kayu yang tumbang dari pepohonan yang mengelilingi danau ini. Nanti kita menyeberang lewat bagian kanan danau. Bagaimana?"


"Ide bagus. Kau memang pandai, Pram."


Mereka saling memandang, kemudian tertawa.