
Kharon yang sangat sibuk memasak memang mendengar suara langkah kaki mendekat dan berhenti sekitar dua meter darinya. Tapi ia tidak masih fokus pada pekerjaannya.
"Kak Ron," panggil gadis kecil itu pelan saja. Tapi cukup mengagetkan Kharon. Ia mengenal suara itu, makanya Kharon terkejut sebab ia tidak mengira kalau yang berjalan mendekatinya adalah salah satu anak-anak dari penjara lapang. Ia pikir yang datang adalah salah satu pasien yang masih tinggal di rumah rawat karena biasanya mereka suka menyaksikan Kharon memasak.
"Gladis, apa yang kau lakukan di sini? Bukankah kelasmu masih belum berakhir?" tanya Kharon yang langsung memandang Gladis dengan wajah cemas, sebab gadis kecil itu tampak ketakutan.
"Iya, aku ke mari sengaja ingin menemui Kakak."
"Apa terjadi sesuatu? Katakan saja, tidak usah takut," ucap Kharon memegang pundak Gladis. Ia mematikan kompornya dan meninggalkan masakannya sebelum menghampiri Gladis.
"Tidak, tidak, semua baik-baik saja. Aku ke mari untuk meminta maaf," ucap Gladis semakin lirih dengan kepala kian tertunduk.
"O, kenapa minta maaf?" sahut Kharon dengan dahi mengerut.
"Karena aku sudah mengatakan hal jelek tentang Kak Ron di depan Kak Phil dan teman-teman. Aku tahu itu tidak boleh dilakukan. Maafkan aku," jelas Gladis dengan kedua kaki yang sampai bergetar. Semakin takut pada apa yang akan dilakukan Kharon padanya mendengar pengakuannya.
"O iya, katakan padaku apa yang kau katakan pada mereka tentang diriku!" perintah Kharon ingin tahu.
Gladis pun menceritakan semuanya. Ia sangat menyesal karena telah melakukan itu. Jika tahu dirinya akan mengatakan semuanya pada Kharon seperti sekarang, tentu ia tidak akan berbicara seperti tadi.
Sebenarnya Gladis tidak memiliki niat tertentu saat mengungkapkan keburukan Kharon sesuai penilaiannya. Ia hanya ingin mencurahkan isi hatinya, berharap dengan begitu kekesalannya akan hilang.
Sekarang jantung Gladis berdetak sangat cepat. Ia seperti narapidana yang sedang menunggu vonis atas kejahatan yang telah dilakukan. Tidak tahu apakah hukuman yang ia terima berat atau tidak. Kenyataannya ia tidak mungkin mengelak lagi.
"Hahaha ... "
Gladis menegakkan kepalanya, melihat wajah Kharon. Ia tidak mengerti mengapa Kharon tertawa. Juga tidak tahu apakah itu tawa sungguhan atau tawa sindiran. Yang pasti detak jantungnya masih belum terkendali.
"Kenapa kau meminta maaf? Semua yang kau katakan itu benar."
"Apa?" bisik Gladis tidak percaya pada pendengarannya.
"Gladis, kau tidak perlu minta maaf. Kau hanya mengatakan yang sebenarnya. Jadi tidak ada yang perlu dimaafkan," kata Kharon tersenyum lebar.
"Jadi Kak Ron tidak marah padaku?" tanya Gladis dengan wajah lebih sumringah.
"Tentu saja tidak. Kau hanya terlalu jujur. Sudah, sana kembali ke tempat berlatih. Berhenti berpikir kalau aku akan menjadi marah karena hal-hal semacam itu. Oke?" kata Kharon sambil menepuk bahu Gladis.
Si gadis kecil itu berterima kasih dan langsung berubah raut wajahnya yang semula diliputi ketakutan dan kecemasan, kini tampak sangat cerah dengan senyum yang sangat lebar. Gladis telah mendapatkan kelegaannya. Ia pun kembali ke tempat berlatih dengan perasaan penuh suka cita. Satu kebenaran yang baru ia ketahui adalah ternyata Kharon memiliki kepribadian yang sangat hangat.
*
Satu hal yang disadari bersama adalah mau seakrab apa pun para anak mantan tahanan penjara lapang itu dengan mereka, ingatan tentang Bemius tidak bisa hilang. Maka, mereka mulai memiliki untuk menggunakan jalan menyakitkan demi bisa mengembalikan ingatan anak-anak itu, yakni dengan menunjukkan saat berlangsungnya peristiwa penyerangan kerajaan Shaman oleh kerajaan Anathemus.
"Ini tidak akan mudah. Menunjukkan pada mereka saat-saat penyerangan Bemius, jelas akan membawa mereka pada ingatan paling buruk yang mungkin ingin mereka lupakan selamanya. Pasti akan ada banyak hati yang hancur," kata Kharon yang menjadi sangat panas dadanya kalau mengingat saat-saat peperangan di Shaman.
"Benar, aku sangat tidak tega melakukannya. Rasanya aku ingin membuat ingatan itu kembali tanpa harus menggunakan kekuatan Roh Dewi Pencabut Nyawa. Aku sangat tidak tega," sahut Pram dengan tatapan menerawang entah.
"Tapi waktu kita semakin sempit. Setiap detik berkurang. Semakin lama kita menahan diri untuk menyerang, semakin parah pula kerusakan negeri Shaman. Aku bahkan sangat yakin kalau mereka telah menyiapkan pasukan khusus untuk menangani kita yang mungkin sewaktu-waktu akan menyerang," ungkap Philemon menelisik mengingat betapa licik adiknya.
"Itu benar. Bemius tidak akan diam menunggu kita membuat anak-anak dari penjara itu mengingat kembali apa yang sebenarnya terjadi. Dia pasti menyiapkan pasukan yang lebih hebat dari yang dulu kita lawan. Semakin lama kita menunda peperangan, semakin hebat pula kekuatan mereka. Kita tidak punya jalan lain," tukas Kharon yang mulai putus asa untuk mencari jalan lainnya.
"Tapi bagaimana kalau setelah melihat peristiwa peperangan itu mereka menjadi cengeng dan penakut?" tanya Pram gusar memiliki keadaan anak-anak.
"Itu pasti. Tapi kita bisa membuat mereka untuk bangkit dan berjuang mendapatkan apa yang semestinya mereka dapatkan. Aku yakin kita bisa membuat kesedihan dan ketakutan itu menjadi senjata kuat untuk menghentikan penguasaan Bemius," jawab Philemon mantap.
"Bagaimana menurut paduka Raja Ramadhana?" tanya Kharon karena Raja Ramadhana hanya diam saja sedari tadi. Tidak berkomentar atau menanggapi pernyataan dari orang-orang.
Sesungguhnya pikiran Raja Ramadhana sedang melompat jauh ke belakang, terbayang pada kenangan masa lalu yang indah bersama Bemius kecil. Ia selalu ingat pada kekagumannya terhadap putra pertamanya itu. Bemius benar-benar pribadi yang positif yang bisa mengendalikan ketakutan dan kesedihannya. Raja Ramadhana tidak pernah mengira jika sikap baik anaknya itu malah menjadi bumerang untuknya.
"Ayah ...." panggil Philemon yang duduk tepat di samping kanan Raja Ramadhana. Ia menepuk tangan sang ayah yang terlihat tengah melamun.
"O, iya. Maafkan aku. Kalau aku terserah pada kalian saja. Yang perlu diingat adalah setiap keputusan memiliki resiko masing-masing. Tapi selama kita bisa mengatasi resiko itu, aku pikir tidak akan ada masalah."
"Baiklah, kalau begitu, berarti aku harus menyiapkan diri untuk mengajak mereka melihat kekejaman Bemius, aku harus kuat melihat mereka menderita kekecewaan dan kemarahan yang sangat besar pada raja yang mereka pikir seperti malaikat itu," kata Pram mantap.
"Kapan kita akan melakukannya?"
"Bagaimana kalau sekitar seminggu lagi? Kemampuan mereka sudah sangat baik. Dalam beberapa hari ke depan kita hanya perlu pemantapan saja. Lantas di ujung pekan, kita buat kegiatan yang intinya mengajak mereka bersantai dan bersenang-senang. Malamnya kita ajak mereka nonton bersama," usul Kharon.
"Bagus. Itu sangat bagus. Kita masih memiliki waktu sekitar dua Minggu sebelum penyerangan. Jadi dalam waktu satu miinggu berikutnya, kita akan menggembleng mereka lagi. Mereka yang telah berbeda cara pandang dan pola pikirnya pasti akan lebih bersemangat untuk berlatih," tutur Philemon sepakat dengan usulan Kharon.
"Baiklah, aku memiliki waktu satu minggu untuk menyiapkan batin. Huuuft ...."
Pram sengaja menghembuskan napas panjang. Ia akan mengemban tugas yang sangat berat, yakni membawa kembali ingatan anak-anak pada peristiwa yang mungkin menjadi yang terburuk sepanjang hidup mereka.
------
Ga janji janji banget, tapi inshaAllah tetep tamat 😊