After Death

After Death
Bab 112: Mengantar Dante Pulang I



Bemius tampak sibuk memandangi lukisan ayahnya yang baru saja selesai. Ia mengamati potret Raja Ramadhana tanpa berkedip. Bisa dikatakan 92% dari apa yang ia lihat, juga ada pada dirinya. Ya, ia merasa sangat mirip dengan ayahnya. Sosok ibunya hanya tampak sedikit saja pada kedua bola matanya.


Bemius tak mengira akan menjadi raja seperti ayahnya setelah diasingkan selama bertahun-tahun. Hidupnya dalam pengasingan sangat berbeda dengan kehidupan sebagai seorang putra raja. Hari-hari ia lalui hampir selalu dengan kesepian. Terutama rasa memiliki kehilangan yang teramat dalam akan sosok ibunya yang welas asih, yang selalu melindungi, dan selalu melihatnya sebagai seorang yang mulia.


Bemius harus mencukupi kebutuhannya sendiri. Mengurus dirinya sendiri. Tidak ada pelayan, para dayang, ataupun pengawal, yang siap sedia melayani. Ia tidak bisa hanya meminta. Ia harus bekerja keras untuk bisa makan dan bertahan hidup atau mati konyol karena kelaparan.


Dalam pengasingan tidak jarang ia tertidur dengan perut kosong, bukan karena malas atau lupa untuk makan, melainkan karena sengaja memejamkan mata meski sedang tidak mengantuk guna mengusir lapar. Selama tidak lagi tinggal dalam lingkungan kerajaan, Bemius menemukan cara paling ampuh untuk merasa kenyang tanpa harus makan, yaitu dengan tidur,


Ia juga mengingat saat-saat terkena demam dan beberapa sakit lainnya. Maklumlah, tubuhnya yang masih remaja yang terbiasa hidup mewah serba kecukupan, belum terbiasa menerima segala yang baru dalam pengasingan. Makan tidak teratur dengan menu di bawah kata layak dan porsi yang tidak pernah mengenyangkan, tidur beralaskan tikar dalam rumah yang lebih pantas disebut gubuk, dan aktivitas bekerja fisik yang berlebihan. Semua orang yang diasingkan dari Shaman memang diwajibkan untuk membantu bercocok tanam.


Tapi toh Bemius tidak menangis. Ia hanya sempat mengeluarkan kaca-kaca di mata tanpa pernah menjatuhkannya. Ia tidak boleh demikian karena ibunya tentu tidak senang jika tahu putra kesayangannya menangis di pengasingan. Ia sering meringkuk kedinginan dalam sepi sambil terus mengingat wajah terakhir ibunya saat mengantarkan kepergiannya ke pengasingan. Atau terkadang melukis wajah ibunya di permukaan tanah.


Luka-luka juga menghiasi hampir sekujur tubuhnya, seperti tangan yang melepuh karena tidak terbiasa menggunakan cangkul, kaki yang tergores sabit saat membersihkan rumput, jari yang terkena pisau masak, lutut yang korengan karena berkali-kali jatuh saat menggendong beban panen di punggung, dan lain sebagainya. Tulang klafikulanya bahkan sempat retak karena beban yang terlalu berat saat memikul.


Tapi toh ia tak menangis. Ia justru memendam semua sakitnya dalam bantal. Dan lelaki yang menurutnya angkuh yang kini tengah menatapnya itu sama sekali tak menghiraukannya. Raja Ramadhana benar-benar sering membuat Bemius ragu, apakah ia memang ayahnya atau bukan.


Semua kesusahan yang terjadi membuat Bemius sempat berkeinginan untuk mengakhiri hidup karena tidak kuat menjalani hidup di pengasingan. Meski awalnya ia mengira di pengasingan akan diuntungkan karena jauh dari pengawasan sang raja, hingga mudah baginya untuk menyusun kekuatan guna menggulingkan kekuasaan ayahnya, nyatanya hidup kesepian dengan keadaan yang demikian susah membuat Bemius tak sempat memikirkan kudeta yang ia inginkan.


Untung saja seorang jin hitam sakti yang selama ini turut membimbingnya dalam menguasai berbagai ilmu hitam, datang di saat yang tepat. Saat nadi Bemius sudah hampir putus.


“Paduka, Panglima III ingin menghadap.” suara prajurit penjaga pintu ruang kerjanya membuat lamunan Bemius buyar.


“Biarkan masuk.” Bemius masih belum menggeser tatapannya dari lukisan wajah Raja Ramadhana. Matanya juga belum berkedip hingga mengeluarkan beberapa butir air dengan sendirinya.


“Paduka, mereka telah bersiap untuk berangkat. Apa kami perlu membuat Raja Ramadhana dan Philemon tetap tertinggal di Tuvalu? Kami khawatir mereka akan menghalang-halangi rencana kita.”


“Biarkan. Dia sedang ingin memastikan anak angkatnya itu selamat. Biarkan ayahku mengiringi keberangkatan putri barunya. Aku tidak ingin menghalang-halangi kasih sayangnya. Biarkan mereka semua tewas di Anastasia Cato.” kata Bemius tanpa melihat ke arah sang panglima.


“Baik, Paduka.”


“Panglima III, tolong jangan lupa kau sediakan selaput pembungkus roh dalam penyerangan itu. Biarkan mereka menambah koleksi kepompong di penjara roh Anathemus. Hahahaha...” kata Bemius sambil menghapus air mata di pipinya. Air mata yang sengaja ia paksa keluar dengan sadis untuk mengiringi kepergian ayahnya.


“Baik, Paduka.”


Panglima III bergegas mengambil selaput pembungkus roh dari penjara roh sebelum bertolak ke Cato untuk menyambut kedatangan Pram dan rombongan. Telah banyak mata-mata Bemius yang menyamar menjadi penduduk asli di sana. Bemius ingin bermain-main dengan halus terlebih dahulu, sehingga tidak akan melakukan penyerangan secara terang-terangan.


***


Sementara itu semua orang tengah bersiap untuk berteleportasi. Mereka sepakat jika terjadi sesuatu di Cato, mereka akan berteleportasi ke Hutan Krisan. Philemon menyelipkan ramuan penetral atmosfer di saku celana Kharon. Meski Pram mengatakan padanya bahwa Kharon akan merasuk ke tubuh Pram, ramuan itu harus tetap disimpan untuk berjaga.


Mereka berlima melingkar dan saling bergandengan tangan. Dan dalam sekejap mata telah menghilang.


Pram melihat semak bambu kuning yang selalu menyeramkan baginya. Ia tidak pernah bisa lupa pada genderuwo yang mau menyerangnya saat hari di Cato waktu itu sudah mulai gelap. Sedangkan Raja Ramadhana dan Philemon yang baru melihat tempat tersebut, menoleh ke kanan ke kiri, juga ke atas bawah, memandangi sekeliling. Mengamati sekitar kalau-kalau terdapat hal yang mencurigakan.


“Kita sudah sampai.” kata Kharon dengan senyum optimis.


“Ayo kita segera menemui kepala distrik dan menyelesaikan semuanya.” sahut Raja Ramadhana penuh semangat. Ia mulai menikmati saat-saat bersama para anak muda itu. Dirinya merasa seolah muda kembali dan tidak sabar untuk melanjutkan petualangan.


“Pram, tunggu. Kau harus segera pergi...” kata Dante membuat semua orang memandangnya dengan kompak. Dante terlihat memegangi lehernya lagi.


“Kenapa aku harus pergi? Kita bahkan baru saja sampai.” nada Pram agak tinggi karena heran mendengar perkataan Dante.


Ia masih sangat ingat bahwa tujuan utama Dante ke Tuvalu adalah untuk menjemputnya agar kembali ke Cato atas perintah dari kepala distrik. Semua soal saldo rekening pahalanya yang kosong dengan beban tagihan yang belum terbayar. Dan saat baru sampai, Dante malah memintanya pergi. Ia bahkan belum bertemu dengan kepala distrik.


“Aku, aku telah....menje...bakmu. Kaaau..se...dang dalam bahaya.” Dante sangat tertatih mengucapkan kata-kata itu. Kini suaranya benar-benar terdengar seperti sedang tercekik.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Halo kakak-kakak readers, mohon izin untuk promosi novel author di sini ya… Skip aja kalau kurang berkenan hehe,


 


Well selain di akun Banin SN, author juga punya akun lain yaitu Hashirama Senju. Nah berikut novel-novel author yang barangkali kakak-kakak berminat juga untuk membacanya:


1.       Pendekar Pedang Naga, novel ini ada di akun Hashirama Senju. Novel genre pendekar/wuxia yang pertama saya tulis.


2.       After Death, novel yang sedang kalian baca ini hehe.


3.       Kumpulan Cerpen Menang Lomba, tulisan ini ada di akun Hashirama Senju. Bukan jenis novel tetapi kumpulan cerpen. Di sana saya memposting kumpulan cerpen saya yang pernah memenangkan lomba baik skala lokal maupun Nasional, ada juga beberapa cerpen yang pernah dimuat di media. Silakan baca-baca untuk sekadar menambah referensi kakak-kakak sekalian.


4.       Menikah karena Taruhan, novel ini ada di akun Banin SN. Ini adalah novel bergenre Adult Romance yang pertama saya buat, meskipun bergenre Adult Romance, saya berencana memberikan konflik-konflik rumit atau informasi-informasi yang bermanfaat yang saya rangkum di dalam sana.


5.       Pacar Kecilku, novel ini ada di akun Banin SN. Sementara novel ini Hiatus dulu karena butuh banyak bacaan untuk melanjutkannya. Seperti sebagaimana yang saya tulis di Bulrb, novel ini mengangkat tema tentang Mental illness dan beberapa pengetahuan tentang ilmu psikologi lainnya, jadi saya butuh banyak bacaan lagi untuk melanjutkannya (dan sekarang belum ada waktu hehe)


 


Well, itu dia tulisan-tulisan saya yang ada di platform Noveltoon/Mangatoon. Mohon maaf sekali karena promosi panjang lebar di sini^^