After Death

After Death
Bab 101: Mayat Hidup



Debur ombak kian lama kian kencang. Suaranya terkadang seperti gemuruh. Angin malam pun semakin dingin. Pram masih terlelap nyenyak di gubuk itu. Sedangkan Kharon yang melanjutkan kegiatannya membakar ikan, berusaha keras untuk mengabaikan sang raja dan Philemon yang masih berada di luar.


Philemon mencoba menghilangkan keresahan dari wajahnya saat ia melepaskan pelukan ayahnya. Lalu memasang senyum seperti semua sedang baik-baik saja.


“Bemius dan anak buahnya kebingungan mencari keberadaan kita, ayah. Aku tak tahu mereka pergi ke mana. Tapi yang jelas, kini para penduduk sudah mulai menempati rumah mereka kembali. Mungkin besok aktivitas sehari-hari para penduduk akan mulai tampak lagi di Shaman.”


Philemon sedikit terbata menjawab pertanyaan ayahnya. Namun, jawaban itu jelas mendatangkan senyum di wajah ayahnya.


“Mari kita masuk, ayah. Aku merasa sangat kedinginan di luar sini.” suara Philemon sedikit bergetar, entah karena dingin yang membuatnya menggigil, entah karena kebohongan yang telah ia lakukan.


Philemon merangkul pundak ayahnya dari samping, sehingga mereka berjalan beriringan seperti kakak dan adik. Kharon yang gelisah menunggu Philemon dan sang raja di dalam gubuk dapat tersenyum lega karena sayup-sayup mendengar tawa sang raja yang langkah kakinya terdengar sedang menuju ke gubuk.


Saat Philemon dan Raja Ramadhana memasuki gubuk, Kharon menyambutnya dengan senyum sumringah. Ia lantas mempersilakan sang raja untuk menyantap ikan hasil buruannya. Sang raja pun tertawa mengingat tingkahnya yang tak mau kalah dari Pram dalam lomba menangkap ikan. Meski pada akhirnya ia keluar bukan sebagai pemenang.


Tawa sang raja membuat Pram terbangun. Kharon pun menyodorkan ikan bakar pada Pram. Ia tahu tuan puterinya itu pasti sedang dilanda kelaparan.


Kharon yang bertugas membakar ikan faktanya malah belum menyantap ikan satu kalipun. Ia selalu memberikan ikan yang telah matang kepada ketiga orang yang ada di sekelilingnya secara bergantian.


“Makanlah Ron. Kau juga pasti lapar, kan?” kata Pram sambil menyodorkan secuil daging ikan bakar ke mulut Kharon. Siluman harimau putih itupun terpaksa membuka mulutnya, karena tangan Pram sangat lancang hendak mendobrak mulutnya yang tertutup rapat. Lagi-lagi membuat Raja Ramadhana terdengar gelak tawanya.


“Maafkan aku, terkadang tingkahnya memang seperti bayi yang belum bisa makan sendiri. Jadi aku juga yang mesti berlelah-lelah menyuapinya.” kata Pram membuat Philemon tertawa kecil. Sedangkan Kharon hanya tersenyum malu.


“Bagaimana bubur kacang hijau yang aku bawakan? Apa kalian suka?” tanya Philemon.


“Wah, soal itu jangan ditanya tuan. Saking enaknya, Kharon bahkan merasa belum kenyang usai memakannya. Katanya dia mau lagi, lagi, dan lagi.”


Kharon menggeleng mendengar ucapan gadis itu. Sementara sRaja Ramadhana yang mengetahui apa yang sebenarnya terjadi soal bubur kacang hijau itu terpingkal mendengar penjelasan Pram.


“Ya, beginilah paduka. Hampir seluruh ucapan Pram adalah kebohongan, sangat kontradiktif dengan hamba yang tidak mampu berbohong. Sebagai khodamnya aku kerap memilih untuk diam dan membiarkan ia berceloteh tentang apapun. Dia sungguh sangat banyak bicaranya. Dia baru akan berhenti berbicara saat sudah lelah.” keterangan Kharon soal tingkah polah Pram membuatnya mendapat hadiah sebuah tinju di lengan.


“Raja, masih ada lagi hal yang ingin kutanyakan pada Anda. Soal roh yang terkurung di penjara roh milik kerajaan Anathemus.” kata Pram serius, membuat para lelaki di dekatnya terdiam menyiapkan diri untuk menyimak.


“Iya, kenapa Pram?” kata Raja Ramadhana tak kalah serius.


“Pram kau haru tahu bahwa mereka, para jin jahat, tidak akan mungkin berhenti hanya dengan satu tumbal. Para jin hitam mengikat manusia yang telah lalai dengan ikatan kuat yang jika manusia tahu seberapa celaka dirinya kalau melakukan perjanjian terlarang, tentu tidak akan pernah mau. Pesugihan yang dilakukan ayahmu telah mengorbankan ibumu, juga dirimu....”


“Aku? Maksud Anda aku ini....” Pram terkejut tak percaya hingga tidak mampu menuntaskan kalimatnya.


“Ayahmu mungkin telah tahu bahwa kematianmu adalah karena dirimu menjadi tumbal berikutnya.” Sang raja berkata dengan lirih.


“Apa itu artinya ayahku telah mengurbankanku?” nada Pram sedikit meninggi, membuat tangan Kharon mencubit kakinya secara diam-diam.


“Pram, jin hitam bertindak sesukanya. Jangankan kesepakatan dengan manusia, aturan yang diterapkan di Shaman pun sering mereka langgar. Ayahmu mungkin tak mengurbankanmu, tapi dia tahu bahwa kematianmu masih berkenaan dengan perjanjian hitam yang pernah ia lakukan. Jin hitam telah mengambil nyawamu dengan lancang, tanpa izin.”


Pram terdiam mencoba mencerna dan memahami setiap perkataan Raja Ramadhana. Ia sama sekali tak marah pada ayahnya, ia justru memandang ayahnya sebagai korban kelicikan Bemius.


“Raja?” Pram memanggil Raja Ramadhana lirih hingga hampir tak terdengar suaranya, ditelan debur ombak.


“Iya, Pram.” sang raja menjawab dengan suara yang turut lirih.


“Aku memiliki seorang kakak perempuan. Namanya Candy. Keadaannya sungguh menyedihkan. Waktu aku berkunjung ke rumah untuk menengok keadaan di sana, aku melihat Candy sudah seperti tak punya kendali atas dirinya sendiri. Entahlah, tapi sepertinya jiwanya telah tiada. Ada banyak anak buah Bemius yang bergantian merasuk ke raganya. Tingkah Candy menjadi sangat tidak terkondisikan, mengikuti jin dan siluman hitam yang menyusup ke jasadnya. Aku sungguh kasihan. Bahkan di saat dia seperti telah tenang atau terlelap, sesungguhnya juga ada jin hitam berwujud pocong yang ada ditubuhnya. Apa maksud semua itu, Raja? Aku sungguh berduka atas nasib kakakku itu.” terlihat kaca-kaca di mata Pram.


“Heeem, aku menyesal atas semua yang menimpa keluargamu Pram. Dan untuk saudaramu Candy, bisa jadi saat ini rohnya telah dibawa jin hitam ke penjara roh sebagai bagian dari tumbal pesugihan. Adapun yang tinggal di rumahmu yang seolah membuat Candy masih hidup itu adalah para jin dan siluman yang usil. Kalau mereka sudah meninggalkan jasad Candy alias tidak lagi menyusup ke dalamnya, mungkin tubuh Candy telah ambruk.”


“Jadi, maksud Anda, Candy sudah mati?” kali ini kaca-kaca itu telah pecah dan menjadi aliran air. Pram sangat terpukul atas nasib yang harus ditanggung Candy, yang mati dengan sangat sadis di tangan para jin hitam.


“Bisa jadi begitu?” Raja Ramadhana bahkan tidak berani untuk berkata ‘iya’ atas sesuatu yang sudah jelas. Semua karena ia tidak ingin melihat gadis yang telah ia anggap seperti anak sendiri itu bersedih.


“Lalu sampai kapan jin hitam akan menguasai jasadnya?” Pram mencoba tegar dan menghapus air matanya.


“Entahlah Pram, saat mereka telah meninggalkan jasad Candy, bisa jadi jasad itu telah rapuh karena membusuk, sebab sebetulnya dia sudah lama meninggal.”


Pram menutup mulutnya yang terbuka dengan kedua telapak tangannya. Ia sangat tidak percaya bahwa Candy akan mati di usia yang masih muda, sama sepertinya, namun dengan cara yang jauh lebih tragis.