
Kini jika di lihat dari atas kerajaan Shaman, terdapat banyak sekali hamparan mayat jin dan siluman hitam. Raja Ramadhana bersyukur karena dari sekian banyak mayat mayat itu tidak ada di antaranya yang merupakan jin atau siluman putih penduduk Shaman. Namun, rasa syukur Raja Ramadhana langsung berubah menjadi kemarahan saat ia kembali menatap mata Bemius.
Mayat penduduk Shaman tidak ditemukan di antara lautan mayat itu sebab Bemius telah menangkap semuanya tanpa memberikan kesempatan untuk berperang. Raja Ramadhana bertekad akan terus melawan Bemius hingga putranya itu tak sempat memikirkan penjara yang ia bangun telah terbobol.
Bemius menyerang kembali ayahnya yang mengambil jarak untuk menormalkan kembali napasnya yang tersengal. Bemius meluncurkan bola bola api ke arah sang ayah dengan harapan akan membakar tubuh Raja Ramadhana. Ia tak peduli jika sang ayah hangus terpakar. Yang terpenting baginya adalah jantung Raja Ramadhana tetap utuh.
Raja Ramadhana mampu menghindar dan bahkan sesekali membuat bola api itu kembali ke arah Bemius. Di saat yang bersamaan Philemon yang terus membunuh para pasukan jin hitam dengan tombak saktinya, juga mengeluarkan tenaga dalamnya untuk membantu sang ayah menghadapi sang kakak.
Philemon mengeluarkan jurus Debu Terbang. Ia mengeluarkan angin kencang disertai debu ke arah Bemius. Itu merupakan salah satu jurus mematikan yang dikuasai Philemon. Ia tak lekas menggunakan jurus itu sebab akan menguras banyak tenaga dalamnya.
Jika mata seseorang terkena debu yang berterbangan terbawa angin itu akan menyebabkan iritasi yang dalam sekejap dapat menyebabkan kebutaan. Sedangkan jika debu itu terkena kulit dan masuk ke dalam pori-pori, debu itu akan bergerak cepat dengan sendirinya layaknya virus di dalam tubuh, yang kemudian akan menghisap tenaga dalam orang tersebut seperti seekor lintah.
Bemius yang sempat terkejut karena serangan tiba tiba dari Philemon itu, langsung menghindar dengan cara menghilang. Dan secara mendadak Bemius muncul di belakang Philemon dan langsung menusukkan pedang ke punggung adiknya itu hingga menembus perut. Raja Ramadhana yang melihat putra keduanya kini terduduk menahan sakit langsung menghampirinya.
Bemius tertawa dan membiarkan adegan dramatis terjadi di depan matanya. Ia juga meminta para pasukannya untuk menghentikan penyerangan beberapa saat. Memberikan waktu kepada ayah dan adiknya untuk saling mencemaskan satu sama lain untuk yang terakhir kali.
Bemius kemudian menghilang dan muncul di depan Raja Ramadhana yang kini memangku Philemon. Ia tersenyum dan mendekatkan mulutnya ke telinga sang ayah, hendak membisikkan sesuatu.
"Jika ayah, gadis purnama ketujuh, dan siluman harimau putih itu bisa hidup kembali setelah mati, berarti adikku tersayang ini juga. Lalu bagaimana jika aku membakar tubuhnya? Apa dia bisa kembali hidup setelah menjadi abu?" kata Bemius lirih saja.
Raja Ramadhana langsung melotot. Ia masih ingat benar dengan pesan Dewi Thalassa untuk menjaga jasad agar tetap utuh agar pil yang diberikan bisa bekerja. Pil itu tidak akan berguna bila tubuh sudah tidak utuh, apalagi lenyap. Walau ada banyak luka, baik luka luar ataupun luka dalam, bukanlah masalah asalkan jasad tidak kehilangan bagian tubuhnya.
"Apa menurut ayah itu ide yang bagus?" tanya Bemius lagi dengan diiringi suara tawa yang lantang dan panjang.
Raja Ramadhana menatap Bemius dengan penuh kebencian. Ia bersumpah pada dirinya sendiri akan membuat Bemius menyesal karena pernah dilahirkan di Shaman.
"Nah lho, anak kesayangan ayah sudah mamp*s! Sini, biarkan aku yang mengurus mayatnya." Bemius memegang lengan kiri Philemon yang baru saja menghembuskan napas terakhirnya. Raja Ramadhana langsung menarik napas panjang dan meniupkan angin sekuat tenaganya ke arah Bemius.
Bemius terseret mundur beberapa langkah. Namun ia tak juga melepaskan cengkeraman tangannya dari Philemon, hingga kini lengan kiri Philemon tertarik kuat.
Raja Ramadhana tak ingin lengan Philemon putus. Sebab itu artinya, Philemon tidak akan bisa hidup lagi. Maka ia bergegas menarik tombak sakti Philemon dan menancapkannya ke dada Bemius hingga lelaki itu dibuat mundur beberapa langkah.
Raja Ramadhana sebenarnya menyasar jantung putranya. Tapi, Bemius sempat menghindar walau sangat terlambat. Tapi Raja Ramadhana bersyukur sebab Bemius telah melepaskan lengan Philemon.
Raja Ramadhana menggendong Philemon di punggungnya. Ia harus bertahan dengan posisi demikian agar jasad Philemon lebih terjamin keutuhannya.
"Ayolah, lima belas menit bukan waktu yang lama." ucap Raja Ramadhana dalam batin memberi semangat pada diri sendiri.
Benar, Raja Ramadhana mesti bertahan dan terus bertarung hingga Philemon bangun kembali. Walau di usianya yang sudah tidak muda itu Raja Ramadhana lebih cepat letih, ia tetap berjuang melawan sanga anak demi anaknya yang lain.
***
Kharon dan Pram bercakap sejenak merencanakan sesuatu. Dan untuk mengisi kekosongan selama waktu berpikir tentang apa yang akan dilakukan, Kharon memperkenalkan diri.
Saat sesi perkenalan sudah selesai, tentu saja gugup mulai terlihat di wajah siluman harimau putih itu. Ia kemudian menoleh ke arah Pram. Tapi berbeda dengannya, Pram kini sedang tersenyum lebar.
Kharon yang terlihat sangat buruk karena tetap memaksa dirinya untuk tersenyum dalam kondisi gugup itu, mengacungkan wajahnya ke arah Pram, isyarat bertanya tentang apa yang ada dalam pikiran Pram.
"Persilakan aku untuk bicara." kata Pram berbisik sambil terus melihat ke depan.
"Baiklah, sekarang waktunya bagi Nyonya Pram untuk menyampaikan beberapa hal terkait materi yang akan kalian pelajari." kata Kharon lantang.
Pram melihat ke arah Panglima yang terus mengawasinya. Lantas kembali melihat ke depan ke wajah anak anak yang sudah terkontaminasi dengan ajaran hitam.
"Baiklah, silakan kalian membentuk lingkaran. Ini formasi agar aku bisa melihat satu per satu wajah kalian dengan lebih jelas. Sehingga, saat nanti pembelajaran mulai dilakukan, aku bisa melihat siapa yang bersungguh sungguh mengikuti, dan siapa yang hanya sedang bermain main." ucap Pram membuat Panglima tersenyum karena selama ini belum ada pengajar yang berpikir demikian, yang sangat perhatian kepada anak anak.
Maka, anak anak itu pun bergegas melakukan apa yang diinstruksikan oleh Pram. Karena jumlah mereka tidak sedikit, kini terbentuk lingkaran yang sangat besar.
"Sekarang, pecah dan bentuklah menjadi dua lingkaran." ganti Kharon memberi perintah.
Dan seketika lingkaran besar itu telah terpecah menjadi dua lingkaran yang lebih kecil.
"Dengarkan, ini adalah pelajaran yang sangat penting. Jadi kalian tidak boleh melewatkan satu bagian sekalipun. Jika tidak, kalian bisa tertinggal dan akan sangat menyesal. Maka, aku ingatkan lagi. Ikutilah arahanku dengan baik." ucap Pram dengan wajah yang sangat serius hingga membuat Kharon menatapnya tanpa berkedip.
Kharon dan Pram bergerak masuk ke dalam lingkaran. Meminta anak anak di hadapan mereka untuk bergandengan erat.
"Ingat, lingkaran yang kalian buat, tidak boleh terputus. Genggam tangan teman kalian seolah ada borgol yang mengikat." kata Kharon memberi petunjuk.
Kharon dan Pram yang sebelumnya saling menatap dan mengangguk kompak, kini turut bergabung bergandengan tangan dengan anak anak di samping kiri dan kanannya.
Panglima yang mengawasi proses pembelajaran tersenyum kembali. Ia takjub dengan cara yang digunakan Kharon dan Pram dalam mengajar, yang memilih melakukan sentuhan langsung dan terlibat aktif daripada hanya memberi teori saja.
"Apa kalian sudah siap?" teriak Pram lantang dan semangat. Membuat anak anak itu menjawab dengan semangat pula.
"Sekarang, pejamkan mata kalian." ucap Kharon dengan suara yang lebih lirih. Meski begitu tetap terdengar jelas sebab semua orang tengah diam dan mengikuti arahan dengan sangat taat, tanpa bersuara.
"Satu, dua, tiga!" teriak Pram memberi aba aba. Kharon dan Pram pun kompak membaca matra. Dan mereka beserta para anak yang melingkar dan bergandengan hilang seketika. Berteleportasi ke Pulau Amsleng Sufir Matdrakab. Meninggalkan Panglima yang kini tercenung dengan perasaan tak karuan, bingung, panik, takut, dan terkejut.
\=\=\=\=\=\=\=\=
Mohon doanya biar bisa up rutin ya gaes... Sementara ini yg bisa Up rutin adalah Pendekar Pedang Naga di akun Hashirama Senju