After Death

After Death
Bab 70: Raja Ramadhana dan Firasat Buruknya Malam itu adalah malam purnama ke



Bab 70: Raja Ramadhana dan Firasat Buruknya


Malam itu adalah malam purnama ketujuh penanggalan Shaman. Seluruh penduduk Shaman merayakan malam itu karena mereka selalu merasa lebih sehat, kuat, dan bahagia di malam itu. Keberkahan benar-benar melingkupi semua orang. Perayaan dilakukan di rumah, lapangan, bahkan di jalan. Baik abdi dalem kerajaan ataupun penduduk biasa bersuka cita di malam yang sangat terang seperti siang hari, yang terasa sangat sejuk dan damai. Bahkan jin hitam pun tak berani keluar dan membuat kegaduhan karena ribuan bintang bersinar dua kali lebih terang dari malam biasanya.


Namun, tidak dengan malam itu. Di malam purnama ketujuh itu semua penduduk masuk kembali ke dalam rumah. Semua kembang api dan lampion aneka bentuk tak dinyalakan. Para jin jahat berseliweran di seluruh negeri dengan bau busuk mirip rumah kosong yang telah lama ditinggal dan tak dirawat pemiliknya bertahun-tahun.


Di malam purnama ketujuh itu tak ada sedikitpun cahaya yang terlihat. Sangat gelap, sunyi, dan mencengkam. Bahkan burung gagak yang sebelumnya tak pernah muncul di pemukiman penduduk, tiba-tiba merebak bahkan juga di dalam kerajaan.


Raja Ramadhana sedang memantapkan niatnya untuk membunuh anak pertamanya. Ya, di malam itu Tri Laksmini, Ratu Negeri Shaman, tengah berjuang melahirkan anak pertama mereka.


Tri Laksmini telah mengandung selama hampir dua tahun. Benar-benar usia kehamilan yang tak sewajarnya. Selama hamil, ia selalu makan daging ayam hutan, jika tidak ia akan muntah. Kehamilannya itupun setelah usia pernikahan tujuh tahun lebih.


Tri Laksmini sama sekali tak tahu soal keinginan Raja Ramadhana mengakhiri hidup anak pertama mereka.


Keinginan Raja Shaman itu bermula dari mimpi yang dialami selama tujuh malam berturut-turut dengan mimpi yang sama persis. Dalam mimpi itu Raja Ramadhana bertemu seorang tua yang tengah bersemedi di dalam gua. Lelaki tua itu mengatakan padanya bahwa ia akan melahirkan seorang putra di malam purnama ketujuh penanggalan Shaman. Bayi lelaki itu akan tumbuh dengan kecerdasan yang luar biasa dan kemampuan di atas rata-rata. Ia akan menjadi pria yang gagah bertubuh tegap dan kekar, persis dengan Raja Ramadhana. Namun, ia akan menjadi raja dari kerajaan jin hitam, menjadi pemimpin dari jin dan siluman jahat yang suka mengganggu kedamaian yang lain. Bayi itu akan menjadi pembunuh keji dan penentang kebenaran.


Awalnya Raja Ramadhana tidak menganggap itu sebagai suatu pertanda. Tapi lelaki tua itu lantas muncul kembali dengan pesan yang sama dan kondisi yang sama persis di setiap mimpinya.


Dan sekarang, Raja Ramadhana semakin gelisah karena situasi yang terjadi sama persis dengan yang dikatakan lelaki tua di mimpinya, tak ada cahaya seperti purnama sebelumnya. Kalaupun itu adalah karena datangnya gerhana, tidak mungkin segelap dan selama itu.


Maka Raja Ramadhana memantapkan niat untuk menenggelamkan bayinya itu di sumur tua kerajaan secara diam-diam, tanpa sepengetahuan istrinya. Ia tahu bahwa Tri Laksmini tak akan terima jika bayi yang ia tunggu kelahirannya dibunuh begitu saja. Sang raja juga tahu bahwa istrinya pasti tidak akan meyakini mimpi itu.


Maka, saat Tri Laksmini tak sadarkan diri karena kehabisan tenaga, Raja Ramadhana pun menunggu petugas kesehatan yang membantu persalinan istrinya menyerahkan anaknya.


Benar, ia seorang bayi laki-laki yang sangat tampan. Raja Ramadhana memandang lekat-lekat anak yang hendak dibunuhnya itu.


"Biarkan aku hidup ayah. Kau tak berhak mengakhiri hidupku. Semua bayi terlahir suci."


Raja Ramadhana terkejut karena mendengar batin bayinya. Ia lantas memeluk bayi itu seraya memohon maaf karena sempat gelap mata dan ingin menghabisinya. Ia kemudian memberi nama 'Bemius Ramadhana Putra' pada anak pertamanya itu.