
Philemon menyeruput teh di meja. Kharon pun kembali ke dapur, membiarkan Philemon sendiri. Terkadang kesendirian justru membuat seseorang menjadi lebih tenang. Kharon tahu benar akan hal itu. Sebab ia seringkali sengaja membiarkan dirinya sendiri ketika kepenatan telah tak mampu dibendung lagi.
Kharon membuatkan pisang karamel coklat yang semalam ia buat juga untuk Pram. Selama memasak Kharon tak bisa berhenti memikirkan kemalangan yang menimpa Philemon. Lelaki baik itu sudah banyak mengalami hal sulit karena ulah kakaknya sendiri. Ia telah kehilangan ibu, berada dalam pelarian yang melelahkan selama bertahun-tahun, hampir kehilangan sang ayah, dan sampai saat ini masih belum berhenti dari kesusahan sebab dicari sang kakak, bukan untuk reuni karena sudah lama tidak bertemu, melainkan untuk dihabisi. Sungguh miris dan menyayat hati.
Mungkin jika yang melakukan itu kepada Philemon adalah orang lain, luka yang dirasakan tidak begitu dalam. Tapi ini yang mengancam hidupnya adalah saudara kandungnya sendiri. Kharon tiba tiba merasa beruntung sebab ia tidak memiliki saudara kandung, juga orang tua, dan kerabat lainnya. Kharon merasa beruntung menjadi individu yang sebatang kara sejak lahir.
"Makanlah tuan. Ini pisang karamel keju. Mungkin tidak seenak buatan tuan, tapi ya....tidak terlalu buruk untuk sarapan." kata Kharon sambil tersenyum tulus. Kharon berkata demikian sebab tahu bahwa Philemon memang hobi sekaligus pandai memasak.
Philemon tertawa kecil mendengar perkataan Kharon. Ia pun tahu bahwa Kharon adalah juru masak yang andal. Ayahnya, Raja Ramadhana, tidak pernah lupa pada setiap hidangan yang dibuat Kharon saat mereka masih di Kepulauan Tuvalu.
"Jadi, semalam Pram merepotkanmu?" kata Philemon setelah menelan sepotong pisang karamel keju.
"Begitulah. Gadis itu tidak pernah tidak merepotkanku, sampai aku selalu merasa ada yang kurang jika Pram belum menyusahkanku. Hahaha..." Kharon merasa konyol pada dirinya sendiri yang selalu senang jika Pram merepotkannya.
"Begitu ya. Hahaha. Kalau aku jadi dirimu, pasti aku sudah sejak lama jatuh cinta pada Pram." kata Philemon lantas menyeruput kembali teh buatan Kharon.
Mendengar pernyataan Philemon barusan membuat Kharon tersedak teh yang baru saja ia minum.
"Doooor!!!" bentak Pram sambil menepuk kedua pundak Kharon.
Kharon yang belum berhenti dari batuknya menjadi begitu kaget hingga batuknya semakin menjadi-jadi. Pram menjadi panik dan menepuk punggung Kharon berulang kali. Sementara Philemon, ia menuang segelas air putih lantas memberikannya kepada Kharon.
Setelah meneguk air, batuk Kharon menjadi lebih reda. Ia kemudian menghela nafas panjang dan mengeluarkannya secara perlahan melalui mulut. Berharap sesak di dadanya akan berkurang.
"Apa kau ingin membuatku mati karena kaget?" kata Kharon dengan nada datar lalu kembali meminum air putih.
"Hahahaha, aku selalu ingin tertawa saat mendengar dialog kalian. Cara berbicara kalian sungguh sangat tidak biasa." Philemon berkata sambil menggelengkan kepala.
"Begitukah? Mungkin karena kami sangat dekat." ucap Pram sambil merangkul lengan Kharon dengan tangan kanannya.
Kharon sedikit melotot karena ucapan dan tingkah Pram yang menurutnya bisa menyakiti Philemon. Ia dengan cepat menggeser piring berisi pisang karamel keju hingga lebih dekat dengan Philemon.
"Makanlah lagi tuan. Pisang karamel ini lebih enak disantap saat masih hangat. Aku akan pergi sebentar membuatkan Pram segelas coklat hangat." Kharon beranjak meninggalkan Philemon dan Pram di meja makan dengan jantung yang berdebar kencang.
Kharon merasa sangat canggung dan tak enak hati jika menunjukkan kemesraan bersama Pram di depan Philemon. Ia tidak pernah bisa mengabaikan perasaan lelaki itu untuk Pram.
"Pram, ini aku bawakan buket bunga untukmu." Philemon tersenyum dan mengambil buket bunga yang ia letakkan di atas kursi di sampingnya lantas menyodorkannya kepada Pram.
Pram menerima buket bunga itu dengan perasaan dongkol. Tapi ia tak mengerti mengapa ia harus merasa kesal. Juga tak tahu rasa kesalnya itu untuk siapa. Padahal biasanya ia selalu senang jika ada orang yang memberinya rangkaian bunga, siapapun itu orangnya.
"Mengapa kau selalu merepotkan dirimu sendiri, Phil." Pram menerima buket bunga itu tanpa senyum sedikit pun. Hal itu jelas membuat Philemon bertanya-tanya, mengapa sikap Pram tidak ramah seperti biasanya.
"Oh, aku tidak merasa repot karenanya, Pram." Philemon tetap tersenyum meski ia masih bingung dengan perubahan sikap Pram.
"Tapi, aku harap ini yang terakhir ya, Phil. Setelah ini kau tidak perlu membuat buket bunga untukku. Aku bisa membuatnya sendiri atau meminta Kharon untuk melakukannya." Pram memakan pisang karamel keju tanpa menghiraukan perubahan raut wajah Philemon yang terlihat sangat kecewa.
Jelas jelas ucapan Pram melukai perasaan Philemon. Tapi lelaki itu tetap memasang senyum di wajahnya. Ia meredakan rasa kecewanya dengan anggapan bahwa Pram sedang kelelahan hingga perasaannya jadi tak karuan.
Pram sendiri sebetulnya tak tega berkata sekasar itu. Pram selalu menganggap Philemon sebagai seorang kakak yang sangat ia sayangi. Dan ia juga senang bisa dekat dan mendapatkan banyak perhatian dari lelaki itu. Tapi sekali lagi, rasa sayangnya sebatas adik pada kakak, tidak lebih.
"Apa itu terlalu buruk, Pram?" tanya Philemon sempat mengira bahwa Pram tidak menyukai rangkaian bunga yang ia buat, sebab saat pertama kali ia memberikan buket bunga, Pram menerimanya dengan senang hati dan dengan senyum indah.
"Bukan. Aku tidak mau menerima lagi buket bunga darimu sebab...."
"Pram, ini tehmu. Minumlah sedikit dan cepat sana pergi untuk mandi. Lihatlah dirimu, sudah seperti kucing yang telah berhari-hari tak mandi". Kharon memotong perkataan Pram sebab ia tahu bahwa ketika Pram telah bersikap begitu, biasanya semakin lama ucapan yang keluar dari mulutnya akan semakin kasar. Terlebih jika lawan bicaranya masih kekeh saja.
"Baik, paduka." Pram tersenyum lebar dan menuruti perkataan Kharon dengan cepat.
Ia berlalu ke kamar mandi, meninggalkan Philemon dalam kegelisahan. Kharon yang melihat Philemon memandang lekat lekat Pram yang kini telah menghilang di balik pintu, paham benar bahwa lelaki itu sedang dalam perasaan yang tidak baik, atau bisa dibilang sakit.
"Eem, tuan Philemon, apa tuan bersedia membawakan pisang karamel keju untuk Raja Ramadhana? Aku akan membungkusnya jika tuan mau" Kharon menggeser kursi yang baru saja ia duduki dan berdiri hendak pergi ke dapur lagi.
"Tidak Ron. Duduklah saja. Ayah sudah sarapan tadi. Sekarang ia sedang bersemedi. Duduklah kembali." kata Philemon membuat Kharon yang telah berdiri kembali duduk dengan perasaan was was. Kharon tahu bahwa Philemon pasti akan menanyakan perubahan sikap Pram yang sebenarnya juga tidak ia ketahui sebabnya.
"Apa Pram sedang baik baik saja? Maksudku, apakah ada hal yang menganggunya sehingga ia kurang berkenan menerima tamu, heeh tamu di pagi hari begini memang sangat mengganggu ya." Philemon tersenyum getir. Ia sangat tidak menduga bahwa buket bunganya akan mendapat penerimaan seperti itu, sama sekali berbeda dari apa yang telah terlanjur ada dalam angannya. Bukannya senang, Pram justru tampak kesal karena buket bunga itu.
"Emm, bukan begitu tuan. Pram mungkin berbeda sikapnya karena dia kurang tidur, tuan. Bisa juga karena merasa tertekan sebab purnama ketujuh sudah semakin dekat, sedangkan dia belum menguasai semua ilmu di buku Anak Purnama Ketujuh secara keseluruhan. Bahkan Pram juga menemui beberapa kendala di beberapa jurus yang dia pelajari." Kharon yang tak tahu mengapa Pram menjadi sangat ketus pada Philemon mencoba menenangkan batin sang pangeran itu agar tidak terlalu gusar dan berpikir macam macam.
"Begitu ya. Eem, tapi dia tidak pernah bercerita padamu tentang diriku. Misalnya ada perkataan atau perbuatanku yang membuat Pram sakit hati atau tersinggung mungkin." tutur Philemon menyampaikan rasa penasarannya.
"Seingat hamba, tidak pernah tuan. Kalau Pram berkata tidak baik pada tuan, maafkanlah tuan. Dia memang terkadang sangat menyebalkan. Tapi meski begitu hamba yakin Pram sama sekali tidak memiliki niat untuk melukai atau menyinggung perasaan tuan." Kharon merasa tak enak hati.
"Oh, tidak. Aku tidak sakit hati atau tersinggung. Aku hanya khawatir Pram kenapa kenapa." Philemon jelas jelas mencoba menyembunyikan rasa kecewanya dengan tetap tersenyum.
"Tuan tenang saja. Dia baik baik saja. Aku selalu berusaha menjaganya dengan sebaik mungkin."
"Syukurlah kalau begitu. Baiklah, aku sudah menghabiskan tehku. Dan juga hampir menghabiskan separuh pisang karamellmu yang sangat enak. Aku akan pulang sekarang." Philemon berdiri dan membuat kursi yang ia duduki terdorong ke belakang.
"Tunggulah tuan. Mohon tuan habiskan semua pisang ini sambil menunggu gadis menyebalkan itu selesai mandi." kata Kharon cepat cepat.
Entah mengapa Kharon ingin Philemon tidak pulang dulu. Ia masih merasa tak enak hati atas kejadian di pagi itu.
"Tidak, Ron. Biar Pram yang menghabiskannya, sepertinya dia sangat suka pada Pisang Karamel buatanmu." Philemon tersenyum dan berjalan mendekati pintu rumah. Ia menoleh satu kali sebelum akhirnya tak tampak tubuhnya karena telah masuk ke dalam rumahnya sendiri.
Kharon yang melihat Philemon menghilang merasa sangat menyesal sebab pagi itu sang pangeran telah sakit hati di tempat tinggalnya. Kharon yakin, Philemon pasti sangat terkejut dengan semua pernyataan Pram yang sangatbjauh berbeda dari biasanya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Halo readers... Numpang promosi ya... Saya lagi rilis novel baru, genre Adult Romance (hehe lagi nantang diri sendiri buat nulis di genre ini, setelah sebelumnya nantangin diri buat nulis di genre Kependekaran).
Judul novel baru saya: Menikah Karena Taruhan (dari judulnya saja sudah klise ya hehe)
Ini novel mau saya ikutkan ke lomba You are Writer 3 dari Noveltoon. Pengennya After Death yg maju tapi After Death sudah kontrak, Pendekar Pedang Naga juga sudah kontrak, jadi musti bikin novel baru buat ikut lomba.
Mohon kakak2 kalau ga keberatan bisa mampir ya, buat sekadar naruh like atau komen hehe... Makasih sebelumnya....