
Sepanjang jalan yang dilewati di Pulau ajaib Amsleng Sufir Matdrakab, mata Pram selalu jelalatan. Ia tidak pernah bisa menahan kekagumannya. Sementara itu, Philemon sibuk mengambili bahan-bahan yang diperlukan di pohon logistik.
Secara kasat mata pohon logistik tampak seperti pohon pada umumnya. Berbatang kayu seukuran lingkaran lengan orang dewasa dengan dahan yang dipenuhi dedaunan hijau. Tapi, setiap kali seseorang meletakkan telapak tangannya di bagian batang yang timbul berbentuk lingkaran sambil membisikkan pada pohon tentang bahan makanan apa yang diinginkan, maka bahan-bahan itu otomatis akan menyembul keluar dari ranting yang kemudian memanjang menghampiri orang yang meminta. Setiap bahan yang diminta bisa langsung diucapkan seluruhnya. Demikianlah yang dilakukan Philemon. Hingga pohon logistik menyembulkan banyak bahan macaron secara bersamaan.
Pram tidak sempat menghiraukan Philemon yang tampak sedikit kesulitan memetik semua bahan macaron. Ia sudah sangat direpotkan oleh kupu-kupu aneka warna yang terbang bergerombol. Gadis itu berlari ke sana ke mari seperti gadis kecil yang memburu serangga. Tidak lupa juga gelak tawa yang tidak pernah berhenti terdengar dari mulutnya.
Pram menebar kegembiraan ke punghuni pulau yang ada di sekitarnya, juga pada Philemon. Putra kedua Raja Ramadhana itu beberapa kali melihat ke arah Pram sambil tersenyum dan menggeleng.
Bagi Philemon, Pram sangat istimewa. Gadis itu mampu membuat suasana menjadi lebih ramai, menghangatkan hati, dan membuat semua orang menjadi lebih gembira. Sifatnya yang sangat natural dan apa adanya, juga begitu ceria, sangat berbeda dengan sifat bawaan Philemon. Lelaki itu cenderung pendiam, selalu menyimpan apa yang dirasakan, dan sangat jarang tertawa.
Mungkin hal itu juga karena Philemon dulu hidup di bawah ancaman Bemius. Sehingga ia menjadi pribadi yang semakin tertutup bahkan cenderung selalu terlihat muram. Namun, sejak bertemu Pram sedikit demi sedikit sifat itu berubah. Ia merasa lebih berani mengekspresikan isi hatinya. Menunjukkan apa yang sebenarnya ia rasa dan menjadi pribadi yang lebih optimis. Philemon menjadi lebih sering tersenyum.
Raja Ramadhana tahu benar bahwa Philemon sedang jatuh cinta pada Pram. Ia berharap di pulau ajaib itu mereka berdua bisa saling mengenal dengan lebih dekat dan syukur-syukur kalau bisa bersama seterusnya sebagai sepasang kekasih.
Itu sebabnya sang raja ingin Philemon menghabiskan waktu lebih banyak dengan Pram. Sang raja sadar bahwa Philemon belum pernah tampak demikian bahagia sebelum bertemu Pram.
"Pram, apa kau akan berlari-lari saja atau membantuku memasak?" Philemon berkacak pinggang berlagak seperti seorang ibu yang sedang marah pada anaknya. Membuat Pram tertawa terpingkal.
"Aku tak menyangka kalau tuan bisa sekocak itu."
Philemon menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil nyengir kuda.
"Kita masak di sana saja, gazebo dekat pohon kelapa." Philemon menunjuk ke suatu tempat mirip gubuk tanpa sekat sisi yang berjarak sekitar tujuh meter darinya. Pram menggangguk setuju.
Pram dan Philemon pun memulai untuk memasak.
***
"Apa paduka sedang sedih mengingat ratu Laksmini?" Kharon bertanya setelah Raja Ramadhana menghentikan panduannya tentang Pulau Amsleng Sufir Matdrakab.
"Tidak Ron. Aku selalu senang jika berada di tempat ini." sang raja melanjutkan kembali perjalanan setelah berhenti lima detik.
"Sebelumnya mohon maaf paduka. Apakah dulu saat Bemius masih kanak-kanak, paduka tidak melihat ada yang berbeda darinya? Maksud hamba sesuatu yang dilakukan secara sembunyi-sembuyi." kata Kharon perlahan berusaha bertanya menggunakan kata-kata yang pas agar tidak menyinggung hati.
"Entahlah Ron, mungkin aku terlalu sayang padanya hingga menepis semua hal yang tidak biasa yang dilakukan Bemius." suara sang rajah lirih dan sedih.
Kharon dan Raja Ramadhana diam sesaat. Suasana menjadi hening tanpa obrolan. Yang terdengar hanyalah gemericik air sungai yang ada di hadapan kedua lelaki itu.
"Kau tahu Ron, dengan sikap Bemius yang begitu, kehadiran Philemon menjadi obat mujarab untuk segala sesalku."
Sang raja melempar sebuah batu kecil warna merah hati ke permukaan sungai. Menimbulkan bulatan yang membesar di sekitarnya. Anehnya, saat bulatan gelombang itu berhenti, batu merah hati tersebut tumbuh menjadi sebuah bunga teratai yang cantik. Membuat Kharon sedikit melotot melihatnya.
"Itu sebabnya, kebahagiaan Philemon menjadi penting bagiku. Dan hahaha tidak kusangka kebahagiaan Philemon ada pada cucu sahabatku, cucu Sadawira. Heeem, aku tidak pernah melihat dia sebahagia iti sebelumnya. Tidakkah kau lihat juga Ron, kalau Philemon jatuh cinta pada Pram?"
Kharon terbatuk. Ia tersedak air liur. Raja Ramadhana menepuk-nepuk punggung Kharon dengan sedikit gusar.
"Apa kau haus?" tanya sang raja dan langsung memetik sebuah daun. Ajaibnya daun itu langsung membesar hingga bisa dibentuk seperti mangkuk. Raja pun mengambil air sungai menggunakan daun itu.
"Minumlah. Air sungai di sini sangat segar dan jernih. Rasanya sedikit manis dan dingin." kata sang raja sambil menyodorkan pincuk daun berisi air sungai.
Kharon menerima dan langsung meminum air sungai itu. Meski ia tahu bukan haus yang membuatnya terbatuk-batuk.
***
"Apa Bemius sudah begitu sejak kecil, tuan?" tanya Pram memberanikan diri. Ia sering membayangkan rasanya menjadi Philemon yang memiliki seorang kakak keji seperti monster itu. Tentu jauh rasanya jauh lebih sakit dari apa yang ia rasakan, karena Ghozie tak sejahat Bemius. Setidaknya Ghozie lebih berperasaan, pikir Pram.
"Pram, bisakah kau memanggilku tanpa kata tuan? Aku merasa kurang nyaman saat mendengarmu memanggilku demikian." kata Philemon memberanikan diri.
"Panggilah aku dengan panggilan apapun, misalnya hei jin, demit, atau apalah yang lebih akrab. Genderuwo barangkali." Philemon tak tahu mengapa ia harus mengeluarkan kata-kata seperti itu. Ia menjadi cemas kalau-kalau Pram tak menyukai gurauannya.
"Hahahaha." Pram terpikal sambil memegangi perutnya setelah beberapa saat terdiam karena terkejut mendengar ucapan Philemon. Dan lelaki sipit yang memiliki mata seperti mata kucing itu turut senang karena bisa membuat Pram tertawa.
"Bagaimana kalau aku panggil tuan dengan sebutan Phil?" usul Pram setelah berhasil menghentikan tawanya.
"Kedengarannya itu bagus." mata Phimemon berbinar.
"Oke setuju ya, Phil." Pram tersenyum dan mengulurkan tangan. Philemon menjabat tangan itu dengan rasa bersuka cita.
Philemon sangat senang karena pada kesempatan memasak bersama itu, hingga ia bisa lebih dekat dengan Pram. Tidak ada lagi rasa canggung atau jarak yang biasanya seolah muncul bersama panggilan tuan dari Pram.
"Phil, kau belum menjawab pertanyaanku." kata Pram membuat Philemon menghentikan tangannya yang sedang memberi isian pada macaronnya.
"Aku tak tahu pasti, Pram. Semua berjalan dengan cepat. Rasanya tiba-tiba saja aku sudah berada dalam situasi terpojok saat kudeta dilakukan Bemius. Entahlah, tapi aku selalu takut pada kakakku. Aku tidak bisa lupa kalau Bemius adalah kakakku. Akibatnya, aku sering merasa tak enak hati kalau harus melawan dia.
Satu yang pasti, kakakku itu selalu sayang dan menurut pada ibu. Dia selalu lembut dan tidak pernah sekalipun kasar pada beliau. Bahkan ketika dalam keadaan marah pada ayah, Bemius bisa menuruti ibu untuk melakukan apa yang diminta ayah. Aku yakin kau akan terkejut jika melihat Bemius bersama ibu. Dia menjelma menjadi seorang yang menurutku, sangat mulia. Bukan karena berpura-pura, tapi semua murni karena besarnya kasih kakak pada ibu. Dia sungguh berbakti." mata Philemon menerawang mengingat saat-saat Bemius bercengkrama dengan Tri Laksmini.
"Heeem, pasti karena kau memiliki ibu yang sangat hebat." Pram mengambil kembali tangannya yang hampir mendarat di pundak Philemon sebagai tanda simpati.
"Ya, aku kira juga begitu." Philemon tersenyum dan mengalihkan pandangannya pada kue-kue kecil warna-warni yang ada di hadapannya.
"Ini, cobalah Pram." Philemon menyodorkan sebuah macaron merah ke mulut Pram. Berharap Pram akan membuka mulutnya.
Pram melihat mata Philemon. Ia ragu untuk menerima suapan itu karena sebetulnya ia ingin suapan dari Kharon. Dalam ingatannya, Kharon belum pernah sekalipun menyuapinya. Yang dilakukan khodamnya itu hanyalah menyodorkan makanan untuk diambil dan dimakan sendiri, bukan niat menyuapi. Tapi, Pram tahu bahwa Philemon berharap agar ia membuka mulut saja, memakan macaron yang disuapkan.
"Lihatlah, Ron. Sangat tampak bukan kalau anakku itu sedang jatuh cinta pada anak purnama ketujuh itu. Ia belum pernah menyuapi seorang gadis atau rela repot-repot membuat masakan." kata Raja Ramadhana yang berdiri di bawah pohon logistik.
"Iya, paduka. Paduka memang benar." lirih tutur kata Kharon menahan perih. Ia sungguh ingin melihat Philemon yang baik hati itu bahagia, tapi dengan perempuan lain tentunya. Bukan dengan Pram-nya.
"Ayah, Kharon, sini. Ini kuenya sudah jadi." teriak Philemon sambil melambaikan tangan.
Pram tersetak kaget, batinnya seperti tertusuk, melihat Kharon yang tiba-tiba sudah ada di sekitarnya. Pram benar-benar khawatir kalau Kharon melihat apa yang barusan terjadi antara ia dan Philemon.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Halo kakak-kakak readers, mohon izin untuk promosi novel author di sini ya… Skip aja kalau kurang berkenan hehe,
Well selain di akun Banin SN, author juga punya akun lain yaitu Hashirama Senju. Nah berikut novel-novel author yang barangkali kakak-kakak berminat juga untuk membacanya:
1. Pendekar Pedang Naga, novel ini ada di akun Hashirama Senju. Novel genre pendekar/wuxia yang pertama saya tulis.
2. After Death, novel yang sedang kalian baca ini hehe.
3. Kumpulan Cerpen Menang Lomba, tulisan ini ada di akun Hashirama Senju. Bukan jenis novel tetapi kumpulan cerpen. Di sana saya memposting kumpulan cerpen saya yang pernah memenangkan lomba baik skala lokal maupun Nasional, ada juga beberapa cerpen yang pernah dimuat di media. Silakan baca-baca untuk sekadar menambah referensi kakak-kakak sekalian.
4. Menikah karena Taruhan, novel ini ada di akun Banin SN. Ini adalah novel bergenre Adult Romance yang pertama saya buat, meskipun bergenre Adult Romance, saya berencana memberikan konflik-konflik rumit atau informasi-informasi yang bermanfaat yang saya rangkum di dalam sana.
5. Pacar Kecilku, novel ini ada di akun Banin SN. Sementara novel ini Hiatus dulu karena butuh banyak bacaan untuk melanjutkannya. Seperti sebagaimana yang saya tulis di Bulrb, novel ini mengangkat tema tentang Mental illness dan beberapa pengetahuan tentang ilmu psikologi lainnya, jadi saya butuh banyak bacaan lagi untuk melanjutkannya (dan sekarang belum ada waktu hehe)
Well, itu dia tulisan-tulisan saya yang ada di platform Noveltoon/Mangatoon. Mohon maaf sekali karena promosi panjang lebar di sini^^