
Malam di Kepulauan Tuvalu sangat memesona. Langit di negara terkecil keempat sedunia itu masih sangat terjaga kebersihannya. Hingga kenampakan hiasan malam terlihat sangat indah. Namun, angin pantai sedikit membuat Philemon menahan gigil. Tubuhnya sedikit bergetar, entah karena angin, entah karena rencana kebohongan yang hendak dilakukannya.
“Kharon, aku ceritakan semua yang aku lihat di Shaman padamu, apa adanya. Tapi, aku mohon jangan ceritakan hal ini pada ayahku. Bantulah aku agar ayah tidak melulu mengajakku pergi ke Shaman untuk melihat keadaan di sana.”
“Memangnya ada apa di Shaman, tuan?” tanya Kharon dengan wajah sangat serius.
“Di Shaman sudah tidak ada apa-apa lagi Kharon. Semua telah habis tanpa sisa. Semua sudah berubah. Shaman sudah benar-benar hancur.” kali ini adik Bemius telah menitikan air mata mengingat kekejaman saudaranya.
“Maksud tuan?” Kharon semakin panik melihat Philemon menangis.
“Semua penduduk telah ditahan dan dibiarkan meninggal dalam penjara, seluruh rumah dan juga istana telah diambil alih oleh para jin hitam, dan tidak ada lagi Shaman yang dulu aku lihat. Ada banyak mayat yang berserakan di jalan, dimakan burung-burung gagak. Sungai kering, tumbuhan kering, negeri Shaman menjadi sangat gelap tanpa cahaya setitik pun, dan semuanya.”
Philemon tak mampu meneruskan ceritanya. Ia berusaha menahan tangisnya agar tidak terdengar oleh sang ayah. Sementara itu, Kharon menyimpan amarah dalam hatinya. Rasa-rasanya saat itu juga ia ingin melakukan serangan balik ke Bemius dan para pengikutnya. Dirinya juga tidak terima jika negeri Shaman hancur tak tersisa.
“Aku tidak mungkin memberitahu ayah soal ini. Aku yakin ayah akan semakin ngeyel ingin pergi. Dan itu sama artinya dengan menyerahkan diri ke Bemius. Aku tahu kakakku itu menginginkan kematian ayah sejak dulu. Dan mengantarkan ayah pergi ke Shaman saat ini sama artinya dengan membiarkan ayah menuju ke kematiannya. Oleh sebab itu Kharon, bantulah aku untuk menutup rahasia ini hingga waktunya telah tepat bagi ayah untuk tahu. Aku tahu resikonya jika ayah sampai tahu bahwa aku membohonginya. Dia mungkin akan sangat marah hingga tidak akan pernah mengindahkan perkataanku lagi.”
“Tapi tuan, aku ragu bisa memenuhi permintaan tuan. Tuan Philemon sendiri telah mengetahui bahwa ada Diadem Naga Perak di kepalaku. Aku sering merasa tidak mampu untuk tidak berkata jujur. Bahkan saat aku telah berniat dan berencana untuk berbohong sekalipun, tubuh ini menunjukkan kebenaran dengan sendirinya, benar-benar tidak bisa dikendalikan.”
“Aduh, aku lupa. Bagaimana ini Kharon? Aku pikir dengan memberitahumu bebanku akan lebih ringan. Tapi aku lupa kalau kau bahkan tidak bisa berkata bohong.” Philemon menepuk jidatnya dengan telapak tangan. Ia benar-benar menyesal karena telah begitu ceroboh dan lalai.
“Begini saja, tuan bicarakan soal ini dengan paduka raja saat aku sedang sibuk dengan aktivitas lain.”
“Ada apa ini?” kata Raja Ramadhana hampir membuat jantung Kharon dan Philemon kompak berhenti.
Kharon mengangguk dan berlalu meninggalkan ayah dan anak itu untuk berdialog membahas kelanjutan negerinya. Ia turut cemas melihat jin yang telah menyelamatkan nyawanya dua kali itu terlihat sangat gugup di hadapan sang ayah.
Philemon memeluk ayahnya dengan perasaan lega karena mendapati ayahnya dalam keadaan baik-baik saja, bahkan terlihat lebih segar. Pelukannya juga sekaligus cara untuk menukar gugup di wajahnya dengan senyum agar sang ayah tak curiga. Lantas, ia mempersilakan ayahnya untuk duduk di atas pasir pantai di sampingnya.
“Bagaimana keadaan ayah? Sepertinya ayah terlihat lebih bugar sekarang?” kata Philemon mencoba mengajak ayahnya untuk membahas hal lain sambil menyiapkan diri untuk berbohong.
“Ya, gadis yang membuatmu jatuh hati itulah yang membuat ayah melupakan semua kesedihan ayah dan tertawa bahagia.” jawab Raja Ramadhana sedikit tertawa mengingat tingkah lucu Pram.
“Mengapa ayah menyimpulkan bahwa aku jatuh cinta pada Pram?” tanya Philemon basa-basi.
“Heeem, sudahlah. Ayah tidak akan menggodamu lagi. Sekarang katakan pada ayah bagaimana para penduduk Shaman? Apa mereka baik-baik saja?”
Hati Philemon seperti dipukul palu. Pertanyaan yang ia hindari telah meluncur dari mulut ayahnya. Philemon terdiam dengan mata jelalatan tak mampu menatap mata ayahnya yang duduk serius.
“Bagaimana, nak? Cepat katakan sesuatu dan berhentilah membuat ayah menunggu.” gurat cemas mulai tampak di wajah sang raja karena Philemon tak kunjung memberikan jawaban.
“Iya, ayah. Iya. Para penduduk banyak yang kabur menyelamatkan diri. Saat aku ke sana banyak yang tengah kembali dari pelariannya.” Philemon sedikit menunduk menjawab pertanyaan sang raja.
“Syukurlah kalau begitu. Aku sangat lega dan senang mendengarnya. Ayah menjadi sangat penakut karena setiap firasat yang ayah rasakan selalu terjadi. Dan aku tidak pernah berhenti berfirasat buruk pada kerajaan kita dan para penduduk Shaman lainnya. Aku sungguh lega mendengar kabar bahagia itu darimu, nak.” kata Raja Ramadhana sambil memeluk erat tubuh Philemon yang tidak pernah gemuk.
Philemon hanya terdiam dan berusaha memasang senyum. Dalam hatinya ia tidak berhenti sedetik pun untuk meminta maaf pada sang ayah atas kebohongan yang dilakukan.
“Lalu, dimana Bemius dan anak buahnya sekarang? Apa mereka pergi meninggalkan Shaman?” kata Raja Ramadhana kemudian, membuat mata Philemon melotot.