After Death

After Death
Bab 79: Berburu Buku Anak Purnama Ketujuh



Perpustakaan Gyan Bhandar masih tampak gelap karena hari masih terlalu dini. Dan cahaya yang dibuat Kharon dari sebuah mantra juga telah meredup.


Tapi Pram sudah tak dapat memaksa matanya untuk terpejam. Ia merasa asam lambungnya naik, hingga membuat perutnya semakin perih karena lapar. Namun tubuhnya masih ingin tergeletak. Kedua kakinya pun belum kuat untuk tegak.


Dan saat Pram membuka matanya, ia sedikit kaget karena mendapati dirinya sedang memeluk Kharon yang sedang meringkung dari belakang. Namun ia tak terburu-buru melepas pelukkannya. Ia justru mempererat pelukannya selama beberapa menit. Dan sesekali mencium rambut khodamnya itu. Wanginya seperti tanaman rosemary yang memiliki aroma kayu yang menenangkan.


Pram kemudian duduk di sebelah Kharon yang masih tertidur pulas. Ia memandangi wajah khodamnya itu dengan perasaan bercampur aduk; haru, bahagia, jengkel, marah, dan damai juga.


Pram mengambil sebuah buku yang tergeletak di bawah telapak tangan Kharon. Lantas mengembalikan buku itu ke bagian rak yang masih kosong.


Pram ingin kembali duduk di samping Kharon, tapi ia sudah tak tahan lagi dengan lapar yang mengeksploitasi perutnya tanpa ampun. Karena ia tak mau mengganggu tidur Kharon, akhirnya ia memutuskan untuk mencari makan sendiri.


Pram merapikan rambut dan pakaiannya. Ia juga mengusap mukanya beberapa kali untuk mengundang segar. Lantas berjalan keluar perpustakaan.


Namun, baru beberapa langkah Pram beranjak dari pintu perpustakaan, ia melihat beberapa jin bergentayangan di atas rumah-rumah penduduk lokal. Ia pun dengan sigap memutar badan dan kembali ke dalam perpustakaan dengan dada turun naik.


Pram duduk menyenderkan punggungnya di punggung Kharon. Nafasnya yang tersengal terdengar di kesunyian malam.


"Kau sudah bangun?" Kharon langsung duduk dan terjaga melihat Pram tampak ketakutan.


"Apa yang terjadi? Apa kau baik-baik saja?" Kharon mengucapkan pertanyaannya dengan terburu-buru.


"Sepertinya aku melihat mata-mata Bemius berterbangan di atas rumah warga." Pram masih ngos-ngosan.


Kharon langsung memeluk Pram untuk mengundang tenang hingga nafas tuan puterinya itu kembali normal.


"Apa mereka melukaimu? Apa kau merasakan sakit? Katakan, mana yang sakit? Mengapa kau pergi tanpa aku? Harusnya kau membangunkanku tadi. Kau ini sungguh kelewatan. Aku semalaman menggendongmu agar kau tak digondol anak buah Bemius. Tapi sekarang, kau malah meninggalkanku sendiri dan nekat pergi keluar."


Pram tak berkata apapun. Ia hanya melingkarkan kedua lengannya ke lutut dengan punggung yang sedikit membungkuk.


Kharon sadar, berondongan pertanyaan dan pernyataan darinya justru membuat Pram yang sudah sedikit tenang menjadi lebih takut.


"Maafkan aku, Pram." Kharon memeluk kembali gadis itu. Ia juga mengelus kepala Pram dengan lembut.


"Apa kau lapar?"


Pram mengangguk.


"Kita akan pergi mencari makan setelah hari agak terang. Tahanlah sebentar lagi rasa laparmu Pram. Saat matahari mulai terbit, jin-jin jahat yang berkeliaran di Jeisalmer tak akan sebanyak malam ini."


Pram lagi-lagi hanya mengangguk. Ia tak marah pada Kharon, sama sekali tidak. Ia hanya terlalu takut jika tertangkap oleh pihak Bemius masih dengan penguasaan ilmu yang cetek.


"Sekarang tidurlah di pangkuanku. Aku akan mengelus rambutmu sampai kau terlelap lagi."


Kharon meluruskan kakinya dan meminta Pram meletakkan kepala di pangkuannya. Pram menuruti kata Kharon. Ia mencoba memaksa dirinya untuk kembali tidur, dan mengabaikan rasa laparnya.


Kharon tak tega melihat Pram yang sampai terbangun karena lapar. Tapi ia juga tak ingin membahayakan keselamatan Pram dengan memaksa untuk keluar.


Dalam duduk dan terjaga, Kharon melihat wajah Pram yang ayu. Perempuan yang ada dalam pangkuannya itu jelas-jelas menyimpan lelah. Juga duka yang teramat dalam. Tapi Kharon tak berani menanyakan penglihatannya itu kepada Pram, meski ia sangat ingin tahu.


***


"Pram, ayo bangun. Sudah saatnya kita cari makan." Kharon menepuk pelan pipi Pram.


Pram pun berusaha bangun dan meregangkan otot-ototnya agar lebih relaks. Lantas beranjak dan berdiri.


Karena siang dan malam antara penduduk Bumi dan Shaman berkebalikan, aktivitas jual beli di Shaman kini sudah jarang telihat. Beberapa warung makan juga restoran telah tutup.


Kharon terus menyusuri jalan seraya menggandeng erat tangan Pram, membuat gadis itu berjalan sambil tersenyum-senyum.


"O iya Ron, bagaimana hasil pencarianmu? Apa sudah ketemu? Maafkan aku karena tak kuat menahan kantuk dan lelah."


Kharon mendadak menghentikan langkahnya. Pertanyaan Pram mengingatkannya tentang keberadaan buku Anak Purnama Ketujuh yang hingga saat itu belum ditemukan, meski seluruh buku yang ada di rak perpustakaan telah ia baca judulnya.


"Nanti kita bicarkan lagi. Sekarang kita isi dulu perutmu yang semakin nyaring bernyanyi." kata Kharon sambil melangkahkan kakinya kembali.


"Apa semalam kau benar-benar menggendongku sambil terus mencari buku itu?"


Kharon menoleh ke arah Pram dan mengangguk.


"Sepertinya kau harus menurunkan nafsu makanmu. Tubuhmu sedikit lebih berat."


"Serius?" Pram menarik tangan Kharon dan menghentikan langkahnya. Hampir saja membuat Kharon terjatuh, kehilangan keseimbangan.


Kharon tak mengatakan apapun. Hanya tersenyum dan mengangguk.


"Yaaah, sayang sekali. Padahal aku berencana untuk makan tiga porsi nanti."


"Makanlah, makan banyak banyak. Aku kan tidak menggendongmu setiap saat. Dan bertubuh berat itu bukan sesuatu yang buruk. Kau tetap cantik."


Pram melangkahkan kakinya penuh energi. Padahal belum ada makanan apapun yang masuk ke mulutnya. Ia tersenyum-senyum sepanjang jalan. Dan bertambah girang ketika menjumpai sebuah warung makan yang belum tutup.


Pram memesan sepiring nasi biryani, papri chat, dan sepuluh potong pani puri. Sedangkan Kharon hanya memesan seporsi idli. Untuk minumnya, mereka kompak hanya membeli air minum kemasan botol.


Kharon meringis menyaksikan Pram yang makan dengan sangat lahap dan cepat, hingga sesekali tersedak. Pram bahkan tak sempat melihat lingkungan sekeliling, ataupun sekadar melihat ke arah Kharon yang duduk di hadapannya. Ia benar-benar tengah fokus pada makanannya.


"Apa kau mau mencicipi idli? Kau akan suka sausnya." Kharon menyodorkan piringnya pada Pram. Dan Pram, tanpa berkata apapun langsung memungut sebuah idli lantas mencocolkannya ke mangkuk kecil berisi saus, masih tanpa melihat Kharon.


Pram menyenderkan tubuhnya ke kursi dan untuk pertama kalinya melihat Kharon, lalu tersenyum.


"Apa kau menyukai makanan India?"


"Dalam keadaan lapar, aku tak melihat makanan dari asal negaranya." suara Pram sedikit tersengal karena kekenyangan.


"Heeem, kau ini. Pemakan segala."


Pram tersenyum dan sedikit tertawa. Membuat asam di lambungnya menyeruak keluar. Dan gelak tawa di antara keduanya bertautan setelah Pram bersendawa keras.