After Death

After Death
Bab 174: Misi Penyelamatan IX



Pram dan Kharon bergegas untuk kembali ke Shaman. Masih ada satu penjara lagi yang mesti diserang, yakni penjara lapang. Tempat para generasi penerus Shaman ‘dimanjakan’ agar dengan suka rela bersedia untuk dididik menjadi jin jahat yang setia kepada Bemius. Sebab seandainya mereka menolak pun, kematian akan segera menjemput sebagai jalan alternatif satu satunya yang disediakan Bemius.


Bagi Kharon sendiri, penjara lapang adalah penjara yang menurutnya paling mengerikan. Merusak mental atau kejiwaan seseorang adalah kejahatan yang jauh lebih keji ketimbang sekadar hukuman fisik. Dan jujur saja ia belum memiliki gambaran harus seperti apa menghadapi anak anak yang dipenjara di sana. Sebab secara kasat mata, mereka bahkan dalam keadaan sangat bebas dan nyaman, tidak merasa sedang dipenjara.


Hal yang begitu dikhawatirkan Kharon adalah jika mereka justru menolak pertolongan darinya, sebab mereka tidak merasa dalam keadaaan susah atau tak berdaya sehingga perlu untuk ditolong. Jika itu benar benar terjadi, hal yang mungkin akan mereka lakukan yakni justru akan menyerang Pram dan Kharon yang dianggap sedang berusaha menyerang raja mereka, Bemius.


“Aku sungguh was was.” ucap Kharon sesaat sebelum berteleportasi ke Shaman.


“Tenanglah. Semua akan baik baik saja.” balas Pram menenangkan.


Dan setibanya Pram serta Kharon di penjara lapang, mereka sungguh terkejut dengan apa yang mereka saksikan. Anak anak hingga usia beranjak remaja terlihat begitu menikmati hidup mereka di sana. Sangat ceria dan penuh tawa.


Maka, kini Pram dan Kharon pun menoleh, saling menatap satu sama lain. Heran sekaligus bingung harus berbuat apa. Dan keduanya kompak menggaruk kepala masing masing yang tidak gatal.


“Siapa mereka, ayah?” ucap seorang bocah laki laki kepada seorang lelaki gagah sambil menunjuk ke arah Pram dan Kharon.


Lelaki yang dipanggil ayah oleh anak tersebut tidak lain adalah panglima yang biasa bertugas menjaga penjara lapang. Atas perintah Bemius, ia memang ditunjuk sebagai ayah angkat bagi semua anak. Dan sikapnya di depan anak anak itu sungguh sangat lembut dan menyenangkan.


Lelaki itu tampak berpamitan kepada anak kecil yang sempat ia elus rambutnya itu untuk keluar sebentar. Ia membuka pintu pagar besi yang mengelilingi penjara lapang dan terlihat hendak menghampiri Pram dan juga Kharon.


Pram dan Kharon kembali saling memandang. Mereka memang tak berkata apapun. Namun, mata mereka jelas menanyakan soal apa yang mesti dilakukan untuk membawa pergi anak anak yang sudah sangat nyaman menjadi keluarga besar Bemius itu.


“Siapa kalian? Dan apa yang akan kalian lakukan di sini?” tanya sang panglima yang memang tidak mengerti soal peperangan yang terjadi. Hal itu karena Bemius atau yang lainnya belum sempat untuk mengabarkan perihal penyerangan yang dilakukan anak purnama ketujuh beserta rombongan.


Sedangkan penjara lapang berjarak paling jauh dari pusat istana. Letaknya sangat terpencil dan berlainan tempat dengan dua penjara sebelumnya yang bersebelahan. Hal itu memang sengaja dilakukan Bemius sebab anak anak Shaman harus steril dari apapun seputar Shaman. Itu sebabnya berada jauh dari istana dan juga dua penjara lainnya perlu dilakukan setidaknya agar mereka lebih mudah diajari dan terhindar dari segala bentuk kontaminasi ingatan di masa lalu.


“Eem, kami adalah pengajar sementara yang akan mengajarkan jurus baru kepada anak anak di penjara lapang.” kata Pram dengan detak jantung kencang.


“Pengajar sementara? Raja Bemius tak mengatakan apa apa kepadaku.” gumam Panglima itu merasa ada sesuatu yang aneh dengan dua tamu yang tak diundang itu.


“Iya, kami hanya satu hari saja mengajar, hanya hari ini. Karena padatnya jadwal kami, kami baru bisa memenuhi undangan raja Bemius yang dikirimkan berbulan bulan yang lalu. Dan paduka langsung meminta kami menuju tempat ini.” kata Kharon menambahkan agar sang panglima lebih percaya.


Tapi kenyataannya, yang terjadi justru sebaliknya. Sang panglima malah curiga dengan apa yang dikemukakan dua orang yang baru ia temui itu sebab Bemius tidak pernah melakukan sesuatu dengan mendadak, terlebih jika menyangkut masa depan kerajaan Anathemus. Semua selalu terencana dengan baik.


“Kalau memang itu benar, cepat tunjukkan kartu pengajar kalian. Agar aku bisa melihat identitas kalian sebab aku belum pernah melihat kalian sebelumnya. Pada program program tertentu yang mendatangkan pengajar dari luar istana, pasti aku mengenal pengajar itu. Atau setidaknya Raja Bemius pasti mengenalkan mereka kepadaku terlebih dahulu.” ucap panglima membuat Pram semakin was was hingga menelan ludah dan tubuhnya berkeringat.


“Ayo Bu, kita lanjutkan ke tempat lain saja. Kami permisi.” Kharon berbalik badan dan berjalan menjauhi panglima. Pram yang masih bingung tak berkata apapun dan langsung menuruti perkataan Kharon.


Kharon berharap panglima tersebut segera memanggilnya. Namun, hingga ia dan Pram berjalan cukup jauh, sang panglima tak kunjung memanggil juga. Kharon mengusap rambutnya menahan kesal.


“Apa yang kau lakukan Ron?” tanya Pram panik sekaligus bingung.


“Tunggu! Maafkan saya jika sudah berlaku tidak sopan. Saya harap Tuan dan Nyonya mengerti bahwa semuanya hanya karena saya menjalankan prosedur yang berlaku di sini.” kata sang panglima yang sebelumnya berjalan sangat cepat dan berhenti di depan Pram dan Kharon.


Dalam batinnya, Kharon bersorak hore atas keberhasilannya mengelabui sang panglima. Sementara itu, secara otomatis Pram mendapatkan jawaban atas pertanyaannya barusan. Ia mengerti maksud Kharon bersikap seolah hendak pergi. Dan kini Pram serta Kharon tersenyum tipis merayakan keberhasilan kecil yang telah dicapai. Namun, mereka masih belum terbebas dari rasa was was sebab masih ada lebih banyak keberhasilan besar yang juga menunggu untuk segera dicapai.


***


Ketika melihat Bemius tertusuk tombak yang diluncurkan Philemon, ada perasaan semacam sedih tapi juga lega di hati Raja Ramadhana. Tapi tidak bisa dipungkiri, bahwa walau bagaimana pun sang raja tak bisa berpura pura lupa bahwa Bemius adalah anak pertamanya yang pernah sangat ia sayangi.


Tapi rasa tak terdefinisikan yang sempat menguasai batin Raja Ramadhana langsung berubah menjadi rasa cemas. Demikian pula Philemon yang kini kembali pada posisi siaga. Hal itu karena ketika tombak yang tertancap di perut Bemius ditarik oleh Philemon dan menyebabkan sebuah lubang yang menembus punggung mengeluarkan banyak sekali darah, dapat langsung seketika tertutup setelah Bemius menghembuskan napas panjang.


“Itu adalah jurus Iblis Abadi. Bagaimana bisa kau menguasai jurus terlarang yang sudah punah itu?” tanya Raja Ramadhana tak mampu menahan rasa penasarannya.


Jurus Iblis Abadi konon merupakan sebuah jurus yang hanya dimiliki oleh para iblis. Jurus yang hanya santer terdengar kehebatannya itu tidak pernah ditunjukkan oleh siapa pun, baik jin atau siluman golongan hitam maupun putih.


Jika ada jin atau siluman yang mampu menguasai jurus tersebut tidak akan pernah bisa mati dengan luka sangat parah sekalipun. Kecuali jika saat menerima serangan, ia langsung mati seketika. Selama masih ada kesempatan bagi orang tersebut menarik napas setelah menerima serangan mematikan, ia masih akan mampu hidup dengan keadaan tanpa luka sedikit pun.


Namun, masih menurut kabar yang beredar jurus itu telah punah sebab para iblis yang tertangkap  tangan telah mengajarkan jurus tersebut kepada kaum jin dan siluman, akan langsung dilenyapkan oleh raja iblis.


Sepanjang usia Raja Ramadhana sendiri tidak pernah menjumpai jin ataupun siluman yang paling sakti sekalipun menguasai jurus tersebut. Tapi kini di hadapannya, putra pertamanya telah menunjukkan pada Raja Ramadhana bahwa jurus Iblis Abadi memang ada, dan bukan sekadar kabar burung belaka.


“Ha... ha... ha... ! ! ! Apa kau lupa jika ayahku adalah seorang iblis sejati?” kata Bemius sambil terkekeh menertawakan kebingungan di wajah Raja Ramadhana.


“Kurang aj*r!” umpat Philemon mendengar sang kakak menghina ayahnya.


Philemon dan Raja Ramadhana pun kembali bersiap untuk melanjutkan pertarungan.


“Dia hanya akan mati dengan tombakmu, jika kau berhasil melesatkannya tepat mengarah pada jantungnya.” kata Raja Ramadhana berbisik.