After Death

After Death
Bagian 49: Mengenal Cakra



Hutan Hujan Tropis itu masih gelap. Malam memang belum usai. Burung hantu masih samar-samar terdengar.


Pram masih berharap Kharon akan terbangun dan menolongnya dari penculik tua sint*ng itu.


"Kau harus belajar untuk lebih banyak mendengarkan dan menenangkan pikiranmu sendiri." kata Kakek Putih.


Pram merasa lilitan yang mengikat erat tubuhnya telah lepas. Namun, mulutnya masih seperti resleting tertutup. Ia ingin memastikan siapakah sebenarnya lelaki tua yang ada dihadapannya itu dengan bertanya langsung. Tapi apa boleh buat, sepertinya si kakek belum mengizinkannya untuk berbicara.


"Aku tak memiliki banyak waktu. Jika upaya pengaktifan ketujuh cakramu kali ini tidak berhasil, aku tak janji akan bisa mengajarkannya di lain waktu." kali ini Kakek Putih tak terlihat terkekeh lagi. Wajahnya begitu serius.


Semua hal yang ingin Pram ucapkan tak jadi tertuturkan, meski mulutnya telah mampu berbicara. Ia hanya diam memperhatikan sang kakek guru.


"Apa aku tampak seperti bagian dari Bemius?" ucap sang kakek sambil membuka sebelah matanya, lantas terkekeh-kekeh.


Pram mengangguk-angguk dan tersenyum, kemudian tertawa geli. Semua tegang yang dialaminya adalah karena dirinya sendiri. Ia benar-benar merasa lucu karena mendapati dirinya semakin parno saat sudah mati.


Pram mengatur napas untuk menghentikan tawa yang masih tersisa.


"Kakek, tapi sebenarnya apa yang terjadi pada Kharon? Mengapa ia tidur seperti orang mati?"


"Tenanglah. Kodammu itu hanya sedang menikmati rileks tubuhnya. Ia akan sadar ketika badannya benar-benar bugar."


"Cakra adalah perputaran energi atau pusat aliran energi dalam bentuk roda/cakram. Berputarnya roda energi akan menimbulkan pusaran yang dialirkan ke seluruh tubuh.


Setiap manusia memiliki ratusan cakra.  Namun, ada tujuh jenis cakra utama. Empat di tubuh bagian atas, yang mengatur sifat-sifat mental kita. Dan tiga di tubuh bagian bawah, yang mengatur sifat-sifat instingtif kita. Ketujuh cakra itu adalah Cakra Muladhara (dasar), Cakra Svadhisthana (sakral), Cakra Manipura (solar plexus), Cakra Anahata (jantung), Cakra Visuddhi (tenggorokan), Cakra Ajna (mata ketiga), dan Cakra Sahasrara (mahkota)." kata Kakek Putih panjang lebar, menghentikan semua lamunan Pram, dan membuatnya begitu fokus


"Kau tak perlu menghafal semuanya. Nanti secara otomatis akan kau ingat saat kau telah menguasainya."


Pram tersenyum lega. Semua hal tentang cakra yang diucapkan kakek tak ada satupun yang ia ingat.


"Semua cakra memberikan kontribusi pada manusia. Kekuatan, pikiran, dan mental kita terpengaruh oleh kondisi cakra. Cakra yang aktif memiliki kecepatan perputaran rata-rata dengan keseluruhan perputaran cakra-cakra lainnya. Namun, adakalanya suatu cakra tertutup sangat rapat atau dengan kata lain nonaktif. Dominasi satu atau beberapa cakra dalam tubuh manusia membuat timbulnya ketidakseimbangan. Adanya salah satu cakra yang perputarannya lebih cepat atau lebih pelan ini bisa menimbulkan kelainan pada organ tubuh yang berhubungan dengan cakra tersebut. Tidak hanya itu, ketidakseimbangan cakra juga dapat menyerang psikis manusia. Sehingga menimbulkan gangguan metal seperti sulit merasakan kedamaian."


Pram mendengar dan mencoba memahami setiap perkataan Kakek Putih. Mungkin itulah sebabnya ia kerap merasa gelisah, tak tenang, terancam, dan sebagainya ketika masih hidup di Bumi ataupun pascakematiannya di Cato, bahkan hingga sekarang.


Kakek serba putih yang tak pernah mengenalkan namanya itu, membuat Pram mengetahui banyak hal tentang cakra yang sama sekali tidak ia ketahui.


Pram kini mengerti bahwa cakra memiliki banyak fungsi, seperti mengalirkan dan mengendalikan energi yang dibutuhkan tubuh, sebagai alat penyembuhan penyakit, untuk penyaluran tenaga dalam atau tenaga prana, juga sebagai alat pendeteksi, dan lain-lain. Namun, dari kesemua fungsi itu, intinya adalah cakra digunakan untuk mengaktifkan pancaindra sehingga mencapai kewaskitaan.


Cakra memiliki pancaran sinar dan warna yang beragam. Pada orang yang cakranya aktif, baik sinar maupun warnanya menjadi jauh lebih terang serta bentuk dan ukurannya lebih jelas. Cakra orang yang sedang mengalami sakit lebih banyak dibungkus oleh tempatnya dan  sinarnya sangat redup sehingga kelihatan agak gelap, dengan sinar timbul tenggelam.