After Death

After Death
Bab 119: Kemalangan Demi Kemalangan



Ghozie bergegas menolong ayahnya, Suwignyo, yang tengah tersungkur di lantai. Ia menggendong ayahnya dan membaringkannya di ranjang. Dengan cepat Ghozie mengambil kotak tisu di meja. Tapi tidak ada selembar pun yang tersisa. Ia berlari kembali ke ayahnya dan mengeluarkan sapu tangannya. Dengan tangkas namun lembut, Ghozie mengelap hampir sebagian wajah ayahnya yang bersimbah darah. Darah-darah itu juga berceceran di kemeja biru muda Suwignyo, di lantai, juga di bantal. Bahkan banyaknya darah yang terdapat di lantai hampir memenuhi empat buah marmer persegi berwarna krem.


Darah yang keluar dari mulut Suwignyo mengeluarkan aroma sangat menyengat. Baunya sangat anyir dan seperti bau nanah. Tapi Ghozie sama sekali tidak merasa jijik. Sebaliknya dengan telaten ia mengelap semua darah yang masih mengotori wajah ayahnya. Lantas lelaki itu mengganti kemeja ayahnya yang berbau sangat busuk karena darah yang tercecer. Ia dengan sangat terburu-buru membuka laci pada meja yang terletak di samping ranjang. Ghozie mengambil sebuah parfum. Ia kemudian menyemprotkan parfum itu pada ayahnya. Tidak lupa Ghozie juga merapikan rambut ayahnya. Suwignyo yang saat itu masih dalam keadaan sadar, meneteskan air mata. Ia sangat terharu oleh ketulusan putranya dalam melaksanakan bakti.


“Halo, dokter. Bisakah dokter segera ke rumah. Ini ayah muntah darah sangat banyak. Aku khawatir beliau kenapa-kenapa karena sebelumnya ayah tidak pernah muntah darah.” kata Ghozie dengan nafas yang tersengal-sengal. Ia belum sempat rehat dari kagetnya menjumpai sang adik telah meninggal. Kini ia harus dihadapkan pada situasi yang tidak kalah genting.


“Tenanglah ayah, semua akan baik-baik saja. Dokter akan segera tiba. Ayah harus kuat. Aku ingin ayah terus ada di sampingku.” kata Ghozie sambil mencium tangan ayahnya.


Suwignyo tersenyum. Air matanya terus keluar. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa Ghozie akan tetap menyayanginya dengan sangat setelah semua perlakuan buruknya. Selama ini ia telah berlaku sangat buruk, bahkan sejak Ghozie kecil hingga sekarang telah dewasa. Suwignyo tidak pernah menunjukkan kasih sayangnya. Yang ia lakukan justru sebaliknya. Selalu kasar dan menyakiti. Ia sangat tidak mengira bahwa anak lelaki yang tidak pernah ia peluk atau cium itu akan mencintainya dengan sangat tulus dan ikhlas.


Ghozie cepat-cepat memunguti pecahan kaca yang berhamburan di dekat pintu. Kemudian, berlari ke kamar mandi. Ia mengambil kain pel dan membersihkan air teh yang meluber ke sekeliling dan juga mengelap darah ayahnya di lantai. Berkali-kali ia mengelap lantai, lantas membaui. Ghozie lalu berlari mengambil pengharum ruangan dan menyeprotkannya berkali-kali. Ghozie tidak ingin bau busuk dari darah yang dikeluarkan ayahnya itu diketuahi oleh orang lain, termasuk oleh dokter yang akan memeriksa ayahnya.


“Tahan ya, ayah. Aku yakin ayah akan kuat. Ayah pasti akan baik-baik saja.” Ghozie semakin gelisah karena ayahnya tidak berhenti menangis. Ia mengira bahwa ayahnya sedang sangat kesakitan. Sebetulnya Suwignyo sangat ingin berbicara. Tapi ia merasa terlalu lemas hingga tidak kuat membuka mulutnya. Ia sangat ingin mengelus rambut anak lelakinya yang duduk di sampingnya. Ia ingin sekali merangkut Ghozie yang menggenggam tangannya dengan erat.


“Bagaimana, Ghozie? Apa semua semakin buruk?” kata Hermawan, dokter pribadi Suwignyo, dengan terburu-buru. Ia dengan cepat memeriksa Suwignyo.


“Aku tidak tahu, dok. Tapi sepertinya ayah sedang kesakitan. Ia terus menangis sejak tadi.”


Sangat wajar jika Ghozie mengira ayahnya sedang kesakitan. Sebab selama ini, ayahnya itu tidak pernah menangis sekalipun untuknya. Bahkan ketika ia menjadi lulusan terbaik di kampusnya dulu. Jangankan mengeluarkan air mata haru, memberikan pelukan selamat saja tidak. Suwignyo hanya berkata padanya bahwa ia tidak boleh terlalu bangga atas apa yang telah diraih. Demikian pula saat Ghozie terluka parah dan dirawat di rumah sakit karena kecelakaan. Ghozie yang mengalami patah tulang paha dan beberapa jahitan di kepalanya yang bocor karena tabrakan mobil masih harus menerima ocehan kemarahan dari ayahnya itu. Sama sekali tidak ada air mata.


“Ghozie, sepertinya ayahmu harus segera dilarikan ke UGD. Tekanan darahnya sangat rendah dan detak jantungnya juga sangat lemah. Aku takut jika tidak segera dilarikan ke rumah sakit, keadaan ayahmu akan memburuk.” kata dokter Hermawan cemas.


Ghozie yang kian panik menarik tangan dokter yang telah berusia 59 tahun itu mendekati pintu, menjauh dari ayahnya.


“Dokter Hermawan, dokter sudah aku anggap seperti keluarga sendiri. Selama ini dokter telah sangat membantu. Sebetulnya sekarang sangat tidak mungkin pergi dari rumah, itu sebabnya meski ayah mengeluarkan banyak darah, aku malah meminta dokter datang ke rumah.”


“Memang kenapa, nak?” Dokter Hermawan yang sudah sangat akrab dengan Ghozie juga telah menganggap Ghozie seperti anaknya sendiri.


“Candy, dok. Candy meninggal. Sekarang mayatnya masih terbujur di kamar. Aku sangat bingung dok. Tadinya aku berlari ke kamar ayah untuk memberitahu ayah kalau adik telah tiada. Tapi melihat keadaan ayah sekarang, aku khawatir akan membuat keadaannya memburuk. Aku tidak bisa memasrahkan mayat Candy pada siapapun. Selain karena kami tidak memiliki kerabat dekat, kondisi mayat Candy juga sangat mengerikan. Baru hari ini ia meninggal tapi sudah seperti seminggu lalu menjadi mayat, tubuhnya bahkan sudah dimakan belatung, baunya sangat menyengat. Aku tidak ingin ada orang lain yang tahu hal itu, dok.” kata Ghozie setengah berbisik dan tergesa-gesa.


“Aku mengerti. Pergilah. Aku akan mengurus semuanya.” kata Dokter Hermawan sambil memeluk dan menepuk pundak Ghozie. Pemandangan itu membuat ayah Ghozie tersenyum bahagia karena ada orang lain yang menggantikannya memberi pelukan pada putranya itu untuk menguatkan.


Sepanjang jalan Ghozie tidak bisa menghentikan air matanya. Ia sangat panik terhadap keadaan ayahnya. Tapi pikirannya juga tidak bisa terlepas dari adiknya. Ia masih cemas kalau-kalau dokter Hermawan jijik pada mayat adiknya, lalu pergi begitu saja. Tapi ia berusaha menjejali pikirannya dengan anggapan positif bahwa sang dokter yang sangat baik itu tidak mungkin menelantarkan mayat Candy. Dokter Hermawan pasti akan memperlakukan Candy dengan baik, benaknya.


“Bertahanlah, ayah. Kita akan segera sampai.” berkali-kali Ghozie menoleh ke belakang dan memberi semangat pada ayahnya yang terbaring lemas.


Ghozie menyayangi ayahnya melebihi ia menyayangi diri sendiri. Meski Suwignyo tidak pernah bersikap layaknya seorang ayah yang normal kepadanya, Ghozie selalu berlaku sopan dan berusaha taat pada ayahnya. Ia sama sekali tidak pernah meluapkan kemarahan atau kekecewaannya pada sang ayah. Saat telah kehabisan kesabaran menghadapi ayahnya, Ghozie lebih memilih untuk mengurung diri di kamar semalaman dan memukuli apapun yang bisa ia pukul hingga tenaganya habis. Tak jarang dalam pelampiasan kemarahannya itu Ghozie mendapatkan luka di tangannya. Dan dalam kondisi demikian, biasanya Pram akan menggedori pintu kamarnya dan memaksa untuk masuk. Gadis itu tidak akan berhenti menggedor pintu sebelum Ghozie membukanya. Bahkan ketika ayahnya datang menghampiri dan mengajak Pram beranjak dari depan pintu, gadis itu bersikukuh bertahan.


“Aku butuh kau, Pram.” kata Ghozie lirih sambil mengusap air matanya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Halo kakak-kakak readers, mohon izin untuk promosi novel author di sini ya… Skip aja kalau kurang berkenan hehe,


 


Well selain di akun Banin SN, author juga punya akun lain yaitu Hashirama Senju. Nah berikut novel-novel author yang barangkali kakak-kakak berminat juga untuk membacanya:


1.       Pendekar Pedang Naga, novel ini ada di akun Hashirama Senju. Novel genre pendekar/wuxia yang pertama saya tulis.


2.       After Death, novel yang sedang kalian baca ini hehe.


3.       Kumpulan Cerpen Menang Lomba, tulisan ini ada di akun Hashirama Senju. Bukan jenis novel tetapi kumpulan cerpen. Di sana saya memposting kumpulan cerpen saya yang pernah memenangkan lomba baik skala lokal maupun Nasional, ada juga beberapa cerpen yang pernah dimuat di media. Silakan baca-baca untuk sekadar menambah referensi kakak-kakak sekalian.


4.       Menikah karena Taruhan, novel ini ada di akun Banin SN. Ini adalah novel bergenre Adult Romance yang pertama saya buat, meskipun bergenre Adult Romance, saya berencana memberikan konflik-konflik rumit atau informasi-informasi yang bermanfaat yang saya rangkum di dalam sana.


5.       Pacar Kecilku, novel ini ada di akun Banin SN. Sementara novel ini Hiatus dulu karena butuh banyak bacaan untuk melanjutkannya. Seperti sebagaimana yang saya tulis di Bulrb, novel ini mengangkat tema tentang Mental illness dan beberapa pengetahuan tentang ilmu psikologi lainnya, jadi saya butuh banyak bacaan lagi untuk melanjutkannya (dan sekarang belum ada waktu hehe)


 


Well, itu dia tulisan-tulisan saya yang ada di platform Noveltoon/Mangatoon. Mohon maaf sekali karena promosi panjang lebar di sini^^