After Death

After Death
Bab 131: Pengakuan Suwignyo II



Ghozie memeluk erat ayahnya. Tubuh Suwignyo sampai bergetar menahan tangis. Lelaki itu sungguh menyesal telah melakukan pesugihan. Setelah limpahan harta yang ia terima, semuanya pada akhirnya hanya menyisakan kesedihan yang tidak terungkapkan besarannya. Ia kehilangan hampir semua orang yang ingin ia bahagiakan dengan hasil pesugihan itu.


"Ayah, sudahlah. Pasti sekarang ibu dan Pram sudah tenang di sana. Juga Candy. Semua yang terjadi ini tidak terlepas dari takdir." Ghozie mengatakan dengan perlahan berharap Suwignyo bisa lebih tenang setelah mendengar kata-kata itu.


Seandainya Ghozie tahu apa yang menimpa keluarganya yang telah tiada itu, tentu ia akan menangis lebih deras lagi. Jangankan ketenangan, kebebasan saja tidak. Ibu dan saudara kembarnya harus kerja berat di penjara roh. Sedangkan adik bungsunya, semua jin dan siluman hitam tengah mengincarnya untuk diserahkan pada Bemius dalam keadaan hidup ataupun mati. Adik kecilnya itu sudah seperti ikan di mata kucing. Untung saja ia masih terlindungi.


"Besok kita pergi ke makam. Kuburan ibu, Pram, dan Candy bersebelahan. Kita bisa ke sana melarungkan sedikit rindu." Ghozie berusaha menghibur ayahnya.


"Tidak, nak. Umur ayah sudah tidak lama lagi. Mungkin nanti malam ayah sudah mati. Dan bisa jadi mati dalam keadaan yang sangat mengenaskan. Ayah mohon jangan terlalu memikirkan kepergian ayah. Jika kau masih menemui jasad ayah, tolong kebumikan di samping makam ibumu." kata Suwignyo setelah memasukkan oksigen banyak-banyak ke dalam dadanya.


"Mengapa ayah berkata begitu? Kata-kata itu sangat menyakitkan untuk didengar, ayah. Aku lebih suka ayah memaki dan mencelaku saja. Itu terdengar lebih enak daripada kata-kata tentang kematian." Ghozie menatap ayahnya lekat-lekat. Ia sudah menahan air matanya hingga kini membentuk kaca-kaca.


"Kau melihat sendiri bagaimana ibu dan saudara-saudara perempuanmu tiada. Mereka pergi dengan cara tragis. Yang terakhir kau lihat adalah kematian Candy. Semua bau busuk, belatung, dan sebagainya itu bukan kebetulan, Ghozie. Itu adalah ulah jin hitam. Mungkin mereka telah mengambil roh Candy sejak lama. Dan Candy sebenarnya telah mati sebagai tumbal. Tapi kau masih melihatnya seperti orang hidup berkat para jin dan siluman yang merasuk ke tubuhnya.


Dan kematian ayah, sudah di depan mata. Memang begitu bunyi perjanjiannya. Jika ayah mengatakan soal praktik pengambilan tumbal dari pesugihan, maka tak lama setelahnya, nyawa ayah juga akan tercabut sebagai tumbal. Hal itu karena mereka tidak ingin manusia tahu betapa meruginya orang yang terikat perjanjian dengan mereka. Yang diperbolehkan dalam praktik pesugihan hanyalah bercerita soal enaknya ikut pesugihan, bahwa semua keinginan akan terpenuhi, bahwa seseorang akan menjadi cepat kaya, bergelimang harta, hidup mewah bahkan tanpa bekerja sekalipun. Intinya orang yang terlibat dalam perjanjian hitam itu hanya boleh menceritakan hal postif saja kepada orang lain agar ada lebih banyak manusia yang terikat perjanjian dengan jin hitam. Sama sekali tidak diperbolehkan berbicara tentang tumbal." semakin lama suara Suwignyo semakin lemah.


Ia juga beberapa kali tampak seperti sesak nafas hingga suara nafasnya terdengar ngiiik....ngiiiik.... Suwignyo juga terlihat semakin melotot dan lidahnya seperti hendak keluar.


Ghozie menjadi sangat panik melihat ayahnya demikian. Lebih-lebih karena Ghozie merasa tubuh ayahnya semakin dingin dan wajahnya membiru. Ia berulangkali memanggil ayahnya, juga menyelimutkan apa-apa yang bisa menghangatkan.


Tapi Suwignyo sudah tidak bisa berkata apapun sebab lidahnya sudah menjulur panjang dan tak bisa masuk lagi ke dalam mulut. Tangisan Ghozie kembali pecah melihat wajah ayahnya yang tadi membiru kini mulai menghitam. Seperti seorang yang terbakar, gosong.


Ghozie celingukan berharap akan ada seorang yang lewat dan bisa membantunya membawa sang ayah ke rumah sakit. Tapi di sekelilingnya tidak ada siapapun. Ghozie berlari ke dalam rumah untuk mengambil ponselnya, agar bisa menghubungi pihak ambulan. Tapi entah bagaimana pulsa di ponselnya telah habis, juga pulsa ayahnya. Padahal seingat Ghozie, ia tidak pernah telat mengisi pulsa. Tidak hanya itu, beberapa saat setelah dinyalakan, ponsel keduanya juga mati dalam keadaan batrai hampir penuh. Ghozie sungguh kesal karena ponsel mereka rusak di saat yang sungguh tidak tepat.


Ghozie kembali berlari keluar untuk mendampingi ayahnya yang terlihat seperti seorang yang sedang mau menemui ajal. Mata Suwignyo sudah benar-benar menyembul keluar dan seolah hanya tinggal beberapa urat yang menempel. Dan lidahnya semakin menjulur panjang.


Ghozie menggendong ayahnya masuk ke rumah dan merebahkannya di atas tempat tidur. Ia mengusap dahi ayahnya berulangkali sambil terus memanggilnya. Dan tak lama setelah itu, kepala ayahnya tiba-tiba menoleh ke kiri dan Suwignyo akhirnya mati.


Ghozie menangis sejadi-jadinya. Iya memeluk jasad ayahnya yang kepalanya menghitam itu. Jika tak benar-benar paham, tentu seseorang tidak akan mengira bahwa itu jasad Suwignyo. Benar-benar tidak tampak sedikitpun sisa kegagahan dan ketampanan di wajah ayahnya. Sebaliknya, mayat ayahnya itu sungguh terlihat sangat mengerikan dan pasti akan membuat orang lain takut.


Dalam kondisi demikian, Ghozie tidak memiliki pikiran lain kecuali segera menghubungi dokter Hermawan. Ia yakin dokter Hermawan akan bersedia membantunya lagi. Dan tentunya merahasiakan kondisi akhir ayahnya dari siapapun.


Ghozie berlari mencari wartel setelah menutup seluruh tubuh ayahnya dengan kain jarik bermotif batik berwarna coklat. Namun ia tak menemukan satu pun. Akhirnya Gjozie memutuskan untuk menjemput dokter Hermawan di rumahnya.


Dalam keadaan panik begitu Ghozie merasa suasana di dalam rumahnya semakin membuatnya tak nyaman. Sangat panas dan terasa kelam. Dua kali lipat lebih mencekam daripada suasana di rumah megahnya dulu.


Ghozie tak tahu bahwa kini di dalam rumahnya, para jin dan siluman hitam tengah berkerumul berdesak-desakan memandangi mereka. Para jin dan siluman itu terkekeh-kekeh menyaksikan pemandangan dramatis antara anak dan ayah, yang bagi mereka adalah manusia-manusia bodoh yang tidak pernah puas dengan pencapaian sendiri, sehingga merasa perlu untuk meminta bantuan mereka.


Para manusia itu tak tahu bahwa kebahagiaan yang akan didapat dari perjanjian hitam itu adalah kebahagiaan semu. Manusia tidak sadar bahwa terikat perjanjian dengan mereka sama artinya dengan menenggelamkan diri pada jurang penderitaan yang paling dalam.


Saking banyaknya para jin dan siluman itu, gelak tawa mereka menggelegar ke penjuru kota.


***


Ghozie menjerit sejadi-jadinya saat ia kembali bersama dokter Hermawan melihat apa yang terjadi di hadapannya. Ia terus berteriak minta tolong. Ia sangat ingin masuk ke dalam rumah dan membawa jasad ayahnya keluar, tapi dokter Hermawan menahannya karena api yang berkobar bahkan hampir memakan semua bangunan rumah yang sebagaian besar berbahan kayu itu.


Ghozie tak tahu entah bagaimana rumahnya bisa terbakar. Ia yakin benar tidak ada pemicu yang bisa menyebabkan kebakaran. Dalam jeritannya meminta tolong, ia tidak henti-hentinya menyalahkan diri sendiri karena telah meninggalkan ayahnya sendiri di rumah.


"Ayah, paman. Jasad ayah masih di dalam." kata Ghozie lirih emnahan pedih dalam pelukan sang dokter yang sudah menjadi ayah kedua untuknya.


Ghozie tak tahu bahwa yang menjadi pematik kebakaran adalah jasad ayahnya. Para jin dan siluman merayakan kemenangan dengan membakar hangus jasad itu. Mereka yang ditugaskan menangani kasus pesugihan Suwignyo telah menuntaskan tugas itu dengan cukup baik. Mereka sudah tidak sabar menerima hadiah istimewa dari Bemius.