
Pram, Kharon, dan Raja Ramadhana merebahkan diri tepat dipinggir pantai, membiarkan diri disapu ombak. Tentu saja itu semua terjadi atas ide gila Pram yang ingin meleburkan kesedihan dari sang raja. Agar sang raja melupakan segala tingkah keji putra sulungnya. Dan memang benar, baik Kharon maupun Raja Ramadhana sangat menikmatinya. Mereka bahkan sempat terlelap beberapa kali dikipasi angin sore.
Di tengah suara burung-burung yang terbang di sekitar pantai, Pram mencoba memberanikan diri bertanya pada Raja Ramadhana.
“Raja, apa aku bisa menanyakan suatu hal pada Anda?”
“Pram, jangan coba-coba menanyakan hal konyol pada paduka. Biarkan paduka raja bersantai menikmati semua ini, seperti katamu tadi.”
“Biarkan, Ron. Katakan, katakan apapun yang ingin kau tanyakan dariku. Aku pasti akan menjawabnya sebisaku.” Raja Ramadhana ikut memanggil Kharon dengan sebutan ‘Ron’ saja, juga atas permintaan Pram.
“Raja, apa Anda tahu, mengapa kakek buyutku meninggal. Ibu pernah cerita bahwa sejak kakek dan nenek meninggal karena sebuah kecelakaan, dia tinggal bersama kakek buyutku. Aku tidak pernah memiliki kesempatan menghabiskan waktu bersama beliau karena ayah tidak pernah mengizinkan kami ke kampung halaman beliau. Anda ‘kan sahabat kakek buyutku. Tentu Anda tahu mengapa beliau pergi? Aku tak tahu pasti, tapi menurut ayah, kakek buyutku telah meninggal di hari yang sama dengan meninggalnya ibu.” kata Pram lirih tanpa semangat, tidak seperti biasa.
Kharon pun jadi tercenung mendengar pertanyaan Pram. Lagi-lagi mengingatkannya pada peristiwa memilukan kematian tuannya Sadawira yang secara tidak langsung juga disebabkan oleh kesalahannya yang menerangkan keberadaan tuannya yang tengah bersembunyi kepada para jin hitam yang mengincar Sadawira.
“Eem, soal itu. Aku khawatir kau akan terkejut jika mengetahuinya.”
“Tidak apa Raja. Aku siap mendengarnya, walau seburuk apapun itu. Masa kecilku dulu aku habiskan dengan memikirkan kakek buyutku. Karena ibu sering menceritakannya sebagai seorang yang hebat yang bisa aku jadikan panutan. Ibu selalu bercerita dengan senyum kebanggaan. Aku sungguh ingin bertemu dengan beliau. Tapi mau bagaimana lagi.”
“Baiklah. Begini Pram, memang benar apa kata ibumu bahwa Mahanta Sadawira adalah seorang yang hebat. Tidak hanya itu, dia juga berhati mulia. Kemurnian hatinya membuat dia mampu melihat kami yang tinggal di dimensi yang berbeda. Tidak hanya melihat, dia juga bisa berinteraksi dengan kami. Kakek buyutmu adalah seorang indigo sejati. Tapi dia tidak pernah menggunakan kelebihannya itu untuk menyombongkan diri ataupun menindas yang lain. Juga memanfaatkannya untuk mendapatkan dunia. Sebaliknya dia tidak ragu untuk menolong siapapun, bahkan juga menolong kami yang tinggal di negeri Shaman.
Kakek buyutmu adalah sahabat terbaikku dari semua sahabatku yang berasal dari kalangan manusia. Dia sering berkunjung ke kerajaan dan menjadi penasihat pribadiku tanpa pernah aku minta. Dan dia selalu menolak semua bantuan yang aku tawarkan. Sebagai sahabat tentu saja aku ingin melihat kakek buyutmu itu hidup sejahtera bergelimang harta. Tapi Sadawira selalu menolak pemberianku, baginya hal duniawi itu hanya ilusi dan fana. Dia lebih suka hidup sebagai seorang biasa yang seringkali berkelana mengikuti hembus angin. Satu-satunya pemberianku yang dia terima adalah pusaka Diadem Naga Perak, itupun karena aku memaksanya untuk menerima.”
Kharon memegang kepalanya. Ia terkejut karena pusaka yang selalu membuatnya berkata jujur ternyata adalah milik Raja Ramadhana. Sedangkan sang raja menyebut pusaka tersebut sambil tersenyum ke arah Kharon.
“Lalu?”
Demikian pula yang terjadi pada ibumu, Arimbi. Seperti yang kau ceritakan, setelah orang tua Arimbi, yang merupakan kakek dan nenekmu, meninggal dalam sebuah kecelakaan ketika ibumu masih berumur tiga tahun, Sadawira menjadi ibu, bapak, nenek, sekaligus kakek bagi ibumu.
Sebelum peristiwa kecelakaan itu terjadi, Sadawira telah mengingatkan mereka untuk menunda keberangkatan bekerja di kota. Tapi mereka tetap pergi juga. Dan kecelakaan itupun terjadi.
Dia lantas menjaga dan membesarkan Arimbi dengan penuh cinta kasih. Itu sebabnya kau memiliki seorang ibu yang lembut, sabar, dan penyayang. Sadawira selalu percaya bahwa semua penglihatannya adalah anugerah. Namun, jika orang yang dia ingatkan tidak mengindahkan peringatannya lalu hal buruk terjadi, dia meyakini bahwa itu adalah bagian dari takdir yang tidak bisa ditolak.
Kemudian saat Suwignyo, ayahmu, melamar ibumu, Sadawira telah mengingatkan ibumu untuk menolak dan memilih lelaki lain saja. Saat ibumu bertanya mengapa, kakek buyutmu hanya menjawab bahwa Suwignyo tidak baik untuk ibumu. Dan saat Arimbi akhirnya memilih untuk tetap menikah dengan ayahmu karena sudah terlanjur cinta, Sadawira tidak mencoba untuk menggagalkan pernikahan itu atau sekadar berkata apapun.
Ia juga tak menceritakan secara jelas padaku mengapa dia tidak ingin Arimbi menikah dengan Suwignyo waktu itu. Dia hanya mengatakan padaku bahwa dia mempunyai firasat buruk yang sangat nyata. Aku yakin, saat itu sebenarnya Sadawira telah mendapat penglihatan bahwa ayahmu akan melakukan perjanjian dengan jin hitam. Tapi Sadawira memang tidak pernah mau mendahului semua, dia selalu khawatir kalau penglihatannya itu bukan dari pandangan hati yang bening sehingga dia tidak berani mengatakan secara gamblang.”
“Ayahku melakukan perjanjian dengan jin hitam?” Pram mengerutkan dahinya karena tidak yakin kalau ayahnya yang sangat modern serta selalu berpikir secara logis dan ilmiah itu percaya terhadap hal magis.
******
Halo semua.... Terima kasih author sampaikan untuk kalian yang masih setia menanti update dari novel After Death ini. Oh ya, author mau curhat sedikit nih 😄
Author sedang kejar target untuk menulis sebanyak 60 ribu kata dalam sebulan ini. Mohon dukungan semangatnya dari kakak reader semoga author berhasil menggenapi 60 ribu kata sebelum bulan maret berakhir 😄😄
Karena sedang dalam posisi mengejar sebuah target yang tergolong berat, author berharap kualitas cerita dalam novel ini tidak menurun. Meski demikian, untuk mewanti-wanti hal tersebut, author sangat terbuka dengan segala kritik dan saran.
Jika dirasa ada penurunan kualitas cerita, mohon kesediaan kakak reader untuk memberi peringatan dan masukan di kolom komentar. Jika memang cerita dalam novel ini tetap baik dan stabil, mohon beri dukungan berupa like di setiap chapter yg diupdate.
Jangan lupa untuk share Novel ini ke teman-teman agar semakin banyak yang membaca novel-novel bergenre Fantasi 😅😅😅