After Death

After Death
Bab 81: Tangisan Prameswari



Melihat Pram menangis di hadapannya, Kharon mencoba mengubah fokus pembicaraan. Lantas ia teringat kembali soal buku Anak Purnama Ketujuh yang sedang mereka cari.


"Pram, ada kabar buruk."


Pram terkejut dan bangun dari lamunannya. Tubuhnya kini duduk tegap.


"Ada apa Ron?"


"Aku akan menceritakannya nanti di perpustakaan. Aku mencium energi negatif mendekat ke arah kita, sangat kuat."


Pram dan Kharon langsung berdiri dan bergegas kembali ke perpustakaan setelah membayar tagihan makan. Ia berjalan dengan cepat dan setengah berlari. Karena Kharon tahu Pram tak akan kuat mengimbangi langkahnya, ia membuat dirinya dan juga Pram sedikit terangkat alias melayang sekitar lima belas meter di atas jalan. Pram pun terkejut dengan apa yang terjadi padanya. Lantas tersenyum sumringah sambil memejamkan mata dan membuka lengan kirinya ke samping, seperti sedang terbang menggunakan satu sayap.


"Kenapa kau tak melakukan ini sebelumnya?" Pram bertanya dengan nada gembira.


"Jurus ini hanya bisa digunakan saat aku merasa benar-benar terancam sehingga harus melarikan diri. Saat aku pura-pura terancam, jurus ini tak mau bekerja. Apa kau suka?" kata Kharon sedikit berteriak


"Sangat suka!" Pram menjawab dengan semua suara yang ia miliki, sangat keras.


Kharon senang karena dalam situasi yang sangat menegangkan itu, ia bisa melihat Pram tersenyum bahagia lagi. Melupakan semua masa lalu dan kepedihannya.


"Apa kau yakin ini jalan yang benar?" Pram merasa Kharon melewatkan belokan yang seharusnya diikuti.


"Mari kita bersenang-senang sebentar, sayang."


Pram terbahak mendengar Kharon berkata dengan nada digenit-genitkan. Ia belum pernah menjumpai Kharon selucu itu sebelumnya.


Kharon memang sengaja berputar-putar demi melihat tawa lebih lama bertahan di wajah tuan puterinya. Dan di lain sisi, tujuan Kharon tidak melewati jalan yang sama adalah ingin membuat jarak dengan anak buah Bemius yang berada hanya sebelas meter di belakangnya. Kharon tak ingin mata-mata itu tahu letak Gyan Bhandar dan menemukan buku yang sedang ia cari sebelum mereka menemukannya.


"Bersiaplah untuk lebih cepat, Pram. Kencangkan pelukanmu sayang!" Kharon mengulangi nada genitnya dan lagi-lagi berhasil membuat Pram terbahak-bahak.


Pram merasa seperti naik kereta ekspres. Berderu tanpa hambat, tanpa lampu merah. Senyumnya semakin lebar. Ia bahkan merasa perlu untuk menarik ikat rambutnya, lantas mengibas-ngibaskannya, hingga membuat rambut hitam panjangnya berkibar terterpa angin. Beberapa kali ia menyingkirkan rambut yang mengganggu pandangannya dengan senyum yang terus terpasang di wajahnya. Bagi Pram, itu adalah hari terindah selama hidup setelah mati.


Setelah Kharon beberapa kali menoleh ke belakang tak melihat anak buah Bemius di belakangnya, ia segera menuju Gyan Bhandar. Ia merasa telah aman dari kejaran jin hitam. Ia memasuki perpustakaan kuno itu dengan perasaan lega dan dengan nafas yang masih tersengal usai berlari. Sementara Pram, ia masih belum bisa menggeser senyum untuk pergi dari wajahnya.


Jleep!!!


Sementara itu, senyum di wajah Pram seketika itu juga tergantikan oleh raut kepanikan. Ia tak tahu harus berbuat apa. Ia membantu Kharon untuk tetap tegak dan berusaha memberanikan diri menarik mata panah yang masih menancap di lengan Kharon selagi khodamnya itu tengah berusaha bertahan dari serangan anak buah Bemius.


Pram tidak bisa menyembunyikan isakannya ketika membebatkan kain yang ia robekkan dari lengan bajunya ke lengan Kharon agar darah berhenti mengucur.


Bruuukk!


Akhirnya, tubuh Kharon ambruk. Serangan yang bertubi-tubi mengeroyoknya telah membuatnya tumbang. Pram semakin panik karena kini tidak hanya lengan Kharon yang terluka, ada dua panah yang tertancap di paha dan sebuah panah di perut.


Semua jin dan siluman hitam itu tertawa terbahak-bahak melihat Pram yang menangis kebingungan karena darah Kharon hampir memenuhi pelataran perpustakaan.


Pram mencabut semua panah itu sambil menggigit bibirnya kuat-kuat. Ia lantas menyobek baju Kharon dan membebatkannya ke semua luka yang menyemburkan darah.


Kharon terkapar tak sadarkan diri. Beberapa saat sebelum pingsan, ia mengingat wajah sumringah Pram yang sangat suka dengan ilmu melayang yang ia miliki. Dan Pram, terlihat jelas ada darah segar yang keluar dari bibirnya. Ya, sebetulnya Pram memiliki riwayat trauma terhadap luka. Ia sering merasa lemas bahkan hingga pingsan jika melihat orang terluka dan mengeluarkan darah. Namun kini, Pram memaksa dirinya untuk tidak pusing atau lemas, lebih-lebih pingsan. Meski keringat dingin membuat tubuhnya kuyup, Pram tetap berusaha membuat darah Kharon berhenti keluar.


Melihat hal itu, anak buah Bemius semakin girang dan membiarkan pemandangan itu berjalan seperti adegan dalam film. Mereka sangat menikmatinya.


Wujud Kharon berubah menjadi seekor harimau putih. Pram memeluk erat khodamnya itu sambil terus menangis dan memohon kepada jin hitam untuk menolong Kharon, sebagai gantinya ia akan menyerahkan diri ke Bemius.


"Hahaha... Bagus, bagus. Itu keputusan yang bijak." kata salah seorang jin.


Lalu para siluman harimau yang jahat menghampiri Kharon, dan Prameswari diminta untuk minggir, mundur beberapa langkah ke belakang.


Bukannya menolong, para siluman harimau itu mengubah wujudnya menjadi manusia lantas membentuk lingkaran yang mengelilingi Kharon. Tubuh Kharon terlempar, berpindah dari satu kaki ke kaki lain seperti seekor kecoak mati. Pram menjerit-jerit dan berlutut di hadapan seorang jin yang sepertinya ketua dari rombongan itu. Pram memohon sambil terus mengusap darah dan air mata yang mengalir di wajahnya.


Ketua rombongan terbahak-bahak. Lantas menarik kerah baju Prameswari hingga gadis itu berdiri dengan kaki yang tak menapak di lantai. Kemudian, terlempar dan jatuh tepat di samping Kharon. Pram memeluk khodamnya erat.


"Apa kau kira kami bodoh? Dalam keadaan sekarat dan terkepung begini, kalian tidak akan bisa lari. Bersyukurlah karena kami tak langsung menghabisi kalian, lalu menyerahkan bangkai busuk kalian ke Paduka Raja Bemius Ramadhana Putra."


Gelak tawa semakin keras terdengar bersama dengan semakin banyaknya darah yang membuat lantai menjadi merah.


"Nikmatilah detik-detik akhir kalian. Hahaha...."