After Death

After Death
Bab 105: Tamu dari Anastasia Cato



Pagi di Kepulauan Tuvalu digunakan Pram untuk melanjutkan belajarnya. Kali ini tidak ada kegiatan bersenang-senang lagi, bersantai-santai lagi, atau sekadar berleha-leha. Ia tidak akan membiarkan hari berlalu tanpa menambah ilmu. Pram bahkan memasang target pada dirinya sendiri, bahwa dalam satu hari ia harus menguasai paling tidak satu ilmu atau jurus. Kini ilmu pertahanan Pram memang sudah lumayan baik, cukup untuk dirinya menjaga diri sendiri.


Sementara itu Philemon tampak sedang membantu ayahnya melancarkan peredaran darah agar proses pemulihannya lebih cepat. Kondisi Raja Ramadhana saat ini memang hampir pulih sempurna. Meskipun tempo hari ia melakukan banyak aktivitas yang melelahkan bersama Pram, kondisinya kian baik karena suasana hatinya yang juga terjaga.


Sedangkan Kharon, siluman harimau putih itu lagi-lagi harus rela menjadi juru masak. Pram menangkap tuna raksasa. Dan ia ingin olahan lain, bukan ikan bakar lagi.


Dalam hari yang sangat sibuk itu, tiba-tiba seorang tamu datang dengan senyum sumringah. Mengagetkan Kharon yang tengah direpotkan dengan permintaan Pram. Ya, Kharon melihat Dante keluar dari balik pohon kelapa yang letaknya sekitar 12 meter darinya. Penampakan yang mendadak dan hampir mustahil itu membuat Kharon mengucek matanya berkali-kali.


“Dante? Ini benar dirimu?” Kharon memeriksa tubuh Dante seperti metadetektor. Dari ujung kaki hingga ke ujung kepala.


“Iya. Husssh, kau jangan berisik. Aku akan berlari ke sana dan mengagetkan Pram.” lelaki yang sudah tidak sabar hendak pensiun dari profesinya sebagai petugas kematian itu meletakkan tas ranselnya dan berlari ke arah Pram.


“Kharon, itu siapa?” kata Philemon mengajukan pertanyaan yang tentu juga ada di benak ayahnya.


“Itu, itu...” Kharon belum menuntaskan jawabannya karena masih terlalu kaget. Lagipula matanya telah sibuk mengamati lelaki yang selalu membuatnya tak nyaman itu sedang berjingkrak-jingkrak sambil memeluk Pram.


Pram yang juga sangat terkejut atas kedatangan Dante bahkan tidak mampu berteriak sebagai wujud keterkejutannya yang dipegang pundaknya secara tiba-tiba dari belakang. Pram hanya terpaku dan terus menatap ke arah khodamnya. Ia sangat cemas kalau apa yang dilakukan Dante padanya akan membuat Kharon terluka.


“Ron?” panggil Raja Ramadhana membuyarkan pandangan Kharon.


“Itu, itu kekasih Pram, paduka.” jawaban Kharon sontak membuat Philemon dan sang raja terkejut.


Raja Ramadhana menatap wajah Philemon. Ia melihat ada gurat kecewa di wajah putranya itu, semacam perih karena patah hati.


Dari kejauhan tampak bahwa Pram tidak bisa menggeser tatapannya dari Kharon. Hingga Dante meletakkan kedua tangannya di pipi Pram dan membuat wajah itu menghadap ke arahnya. Pram melepaskan seutas senyum alakadarnya ke arah Dante untuk sesaat, dan kembali menggeser pandangannya ke arah Kharon.


Kharon kemudian menunduk dan mencoba fokus pada masakannya, sambil terus berpikir tentang bagaimana cara petugas kematian itu berteleportasi dari Anastasia Cato ke Kepulauan Tuvalu. Dan dari mana pula Dante mengetahui keberadaan mereka.


Dante mengajak Pram untuk menghampiri Kharon. Sepanjang pasir yang mereka lalui, Dante menggenggam erat tangan Pram. Membuat Raja Ramadhana dan putranya semakin tak nyaman. Sedangkan gadis itu masih terus memandangi Kharon. Sesekali ia menyingkap rambutnya yang berterbangan di wajah, mengganggu pandangannya.


Raja Ramadhana dan Philemon masih terus memandang dua anak muda yang berjalan beriringan yang terlihat sangat karib. Sementara Kharon, ia masih terus menunduk dengan kening yang tidak berhenti berkerut. Pikirannya benar-benar dibuat kusut atas semua pertanyaan yang ia ajukan sendiri. Sebetulnya ia pun telah memiliki jawaban atas tanda tanya besar itu, tapi semua adalah hipotesis. Dan sebuah hipotesis akan kuat dengan adanya efidensi. Sedangkan ia tak memiliki satupun bukti untuk membenarkan dugaannya.


Kharon sangat cemas hingga tubuhnya bergetar. Ia takut kalau Dante datang membawa misi rahasia yang telah direncanakan oleh Bemius. Dan sayangnya semua ketakutan dan kekhawatiran juga kecurigaan yang ia rasakan tidak dirasakan oleh Pram. Kharon sungguh kesulitan untuk membuat Pram mengerti bahwa kecemasannya itu bukan soal cemburu atau hal receh sejenisnya. Rasa was-was yang ia rasakan adalah murni karena memikirkan keselamatan Pram yang merupakan buronan paling berharga di kalangan para jin dan siluman, bahkan kini juga manusia yang tinggal di Anastasia.


“Hei, ini siapa Pram? Apa mereka juga di sini untuk menjagamu seperti Kharon?” Dante menunjuk ke arah Raja Ramadhana dan Philemon.


“Oh, ini. Ini Raja Negeri Shaman, Raja Ramadhana.” Dante menjabat tangan sang raja dengan senyum lebar di wajah.


“Apa kau kekasih Pram?” tanya sang raja penuh harap akan mendengar jawaban yang berbeda.


“Siapa yang mengatakan begitu?” tanya Dante semakin sumringah.


“Kharon.” jawaban Raja Ramadhana langsung membuat Pram tercenung dan menatap lekat khodamnya itu.


“Oh, Kharon. Kau membuat kami malu karena mengatakan hal pribadi semacam itu.” Dante berkata sambil menepuk pundak Kharon yang masih tertunduk.


“Paduka, ini sarapannya telah siap. Hamba ke gubuk dulu. Sepertinya hamba merasa sedikit kurang enak badan.” Kharon berlalu meninggalkan Pram yang masih gundah karena khawatir telah menyakiti hati siluman harimau putih itu.


“Ron, tunggu.” Raja Ramadhana dan Philemon pun berlalu, menyusul Kharon.


Pram sebenarnya juga ingin turut ke dalam gubuk, tapi ia tak bisa karena Dante membuatnya terduduk di atas pasir putih di tepi pantai.


“Apa kau tidak merindukanku, Pram?” tanya Dante sambil menatap Pram.


“Apa? Ya, aku rindu padamu Dante.” Pram menjawab sekadarnya. Ia mengatakan hal yang sebetulnya tidak ingin ia katakan. Ia hanya memberikan jawaban seperti yang ingin didengar Dante.


Pram kemudian mulai berpikir, mengapa ia sama sekali tidak kangen pada petugas kematian itu, lelaki yang dulu ia inginkan untuk menjadi suaminya di Anastasia Cato. Lelaki yang ingin ia buat jatuh cinta padanya. Ia juga heran kenapa kehadiran Dante justru terkesan tidak ia harapkan. Ia juga sangat khawatir akan melukai perasaan Kharon. Pram masih ragu atau sebenarnya ia hanya terlalu takut untuk mengakui, untuk jujur pada dirinya sendiri, bahwa sebetulnya ia telah mengharapkan Kharon menjadi pendamping hidupnya, bukan pendamping seperti khodam atau penjaga, melainkan lebih dari itu.


“Kau tahu Pram, sejak kau menjengukku di Loket Registrasi Pascakematian, aku tidak pernah berhenti memikirkanmu. Hingga akhirnya nasib membantuku. Di tengah tugasku yang sangat menjemukan mengurus data-data manusia Bumi yang baru tiba dan bangkit dari kematiannya, aku mendapat tugas untuk mencarimu.”


“Mencariku?” Pram sangat terkejut mendengar ucapan Dante.


“Iya, aku ditugaskan oleh kepala distrik Cato untuk mengajakmu kembali ke Anastasia.”


“Kembali ke Anastasia?” Pram semakin kaget hingga suaranya meninggi. Ia tidak ingin mendengar semua yang dikatakan Dante.


“Iya, kau sudah terlalu lama pergi meninggalkan Cato, Pram. Untuk semua kepergianmu itu kau harus membayarnya dengan saldo rekening pahala yang kau miliki. Dan kini saldomu telah habis. Tidak ada uang yang tersisa. Itu sebabnya kau harus segera kembali.”


“Sebentar, aku akan memberitahu Kharon soal ini. Tunggulah sebentar. Kau bisa merebahkan tubuhmu agar lelahmu berkurang, Dante.”