
Chanayang kerajaan merasa ada yang mengikutinya. Seorang chanayang tidak tinggal dalam kerajaan, ia tinggal sekitar setengah kilometer dari luar pagar kerajaan. Karena chanayang itu adalah seorang perempuan tua, Ratu Tri Laksmini meminta pengawal pribadinya untuk mengantar chanayang pulang dengan selamat.
Tapi chanayang itu seorang yang bisa merasakan sesuatu yang tersembunyi. Ia merasa ada kekuatan jahat yang tengah mengintainya. Ia pun meminta pengawal untuk lebih berhati-hati.
Tepat di bawah pohon beringin, chanayang menghentikan langkahnya. Angin berhembus sangat kencang dari arah Timur. Saking kencangnya, tutup kepala sang chanayang yang seperti caping itu terjatuh. Daun-daun yang berguguran di sekitar situ juga berterbangan bersama beberapa debu. Ia merasakan adanya kekuatan hitam yang sangat besar telah datang.
Gubraaak! Pengawal jatuh.
Chanayang memeriksanya, sudah mati. Perempuan tua yang telah mengabdikan diri pada kerajaan sejak usia 5 tahun itu semakin gusar.
Mayat pengawal yang ada di hadapannya menghitam dan mengeluarkan asap. Chanayang tahu itu adalah ciri-ciri orang yang terkena teluh tingkat tinggi. Individu yang terserang teluh itu, bahkan yang berilmu tinggi sekalipun, akan sulit untuk diselamatkan.
Ketika chanayang berdiri masih dengan was-was yang semakin menggunung, tiba-tiba chanayang itu merasa ada sesuatu yang mencekiknya dari belakang. Ia lantas terbatuk dan tersungkur. Ia masih berusaha melepas cekikan yang tak tampak itu dari lehernya. Dan tak membutuhkan waktu lama bagi perempuan tua itu untuk menyusul kepergian sang pengawal.
Chanayang tidak memiliki kekuatan khusus untuk melindungi diri. Mereka hanya mampu meramal dan memimpin berbagai upacara penting, seperti pernikahan, pemakaman, pengusiran roh jahat, dan sebagainya.
Bemius memandang chanayang dan pengawal yang tergeletak di depannya tanpa ekspresi. Ia kemudian menyelimutkan sebuah kalin kuning tanda berduka.
Memang bukan Bemius yang membunuh kedua orang itu, tapi Bemiuslah yang meminta para pengikutnya untuk mengakhiri hidup keduanya. Keberadaan chanayang itu bisa menggagalkan keinginan Bemius untuk naik tahta menggantikan Raja Ramadhana.
Bemius kembali ke istana dan berbaring di tempat tidurnya. Beberapa saat kumudian ayahnya membuka pintu. Raja Ramadhana mengelus kepala Bemius dan memandangnya sambil tersenyum.
"Aku bersyukur tak mengikuti mimpiku. Jika tidak aku sudah kehilangan dirimu. Anak luar biasa penerus tahta kerajaan." Raja Ramadhana yang selalu berwajah sejuk itu mengecup kening Bemius sebelum pergi keluar kamar.
Bemius membuka mata dan tersenyum tipis.
***
Kabar kematian chanayang kerajaan dan pengawal tersiar ke seluruh penjuru Shaman. Semua jin dan siluman putih sangat berduka dan miris atas kematian keduanya yang seperti tersambar petir. Terbujur kaku dengan tubuh gosong dan asap yang terus mengepul. Wajahnya bahkan nyaris tak bisa dikenali. Itu adalah ciri-ciri jin yang terkena ilmu hitam.
Raja Ramadhana mengutus semua panglima untuk menyelidiki hal itu. Namun, setelah berbagai bentuk investigasi dilakukan, tak kunjung ditemukan juga siapa yang membunuh kedua abdi setia kerajaan itu. Hingga akhirnya kasus itu pun ditutup dan penghargaan diberikan kepada chanayang dan pengawal sebagai tanda jasa menjalankan tugas dengan penuh dedikasi.
Kematian chanayang dan pengawal kerajaan itu bertepatan dengan kelahiran Philemon, anak kedua Raja Ramadhana dan Ratu Tri Laksmini.
Sang Ratu memandangi anak keduanya dengan khidmat. Ia mengingat semua ramalan chanayang. Dan air matanya keluar.